wnsscc

Empat serangkai kini telah berkumpul di kediaman Arjuna. Keempatnya duduk melingkar untuk mencari jalan keluar dari kisah percintaan Maraka.

“Sekarang jelasin ke gue dulu tentang kejadian lama Maraka. Gue beda sekolah dulu sama kalian soalnya.” ucap Arjuna memulai.

“Sebelum sama Jihan dulu Maraka pernah pacaran waktu SMA sama satu cewek yang namanya, gue sebutin gak nih?” Lucas memotong ceritanya, menoleh ke Maraka meminta jawaban. Maraka mengiyakan.

“Ok. Namanya Rea, Area. Waktu kelas 11 lah ya awal mereka pacaran. Dulu si Area ini emang ngajak Maraka backstreetan di bulan pertama pacaran. Sampe Maraka gak tahan dan sengaja upload foto Area ini di snapgram.”

“Maraka kan kaya, tampan, menawan, dulu terkenal lah banyak fansnya. Sedangkan Area cuma anak OSIS biasa yang gak terkenal-terkenal amat. Pas si Maraka up foto Area di snapgram nya ini, base sekolah atau rame lah ya. Feedback dari mereka nih gak banget, banyak yang ngatain Area gatau diri lah, pake jampi-jampi lah.”

“Semenjak saat itu, Area ni jadi agak populer jalur dihujat lah. Banyak banget kakel atau temen seangkatan yang suka sama Maraka ngelabrak Area ini, sampe mental itu anak rusak.”

“Maraka gak diem aja sih, dia sering banget ngebelain Area, bahkan sampe nyamperin satu-satu orang yang pernah ngelabrak Area ini. Tapi nihil, Area tetep dibully abis-abisan. Gak dari orang sekolah aja, dari anak sekolah lain juga. Dulu Maraka terkenal karena anak basket btw.”

“Sampe si Area bener-bener gak kuat. Dia mutusin Maraka di mensiv ke tiga bulannya. Cukup kuat juga doi nahan bullyan dua bulan lebih. Endingnya Area pindah sekolah bahkan sampe pindah kota di kelas 11 semester 2.”

“Tamat.”

Arjuna hanya ber-oh ria. Sedangkan Maraka tertunduk, rasa bersalahnya pada gadis itu masih ada. Maraka gagal melindungi cinta pertamanya dulu. Dan dia takut hal itu terulang pada Jihan, dan Maraka masih tidak bisa melindunginya.

“Anaknya sekarang kemana?” tanya Arjuna.

“Kuliah di Singapore kalo gak salah, gue follow IG barunya dan sering liat snapgram doi aktivitas kuliah di Singapore.”

“Dulu Area gak bisa ngelawan karena dia anak beasiswa. Dia diem karena gak mau cari gara-gara dan beasiswanya kecabut. Dulu doi bisa dibilang keluarganya kurang mampu lah, makanya dibully abis-abisan. Dibilang gak selevel sama Maraka yang emang orang kaya.”

“Lo masih kontakan sama Area sampe sekarang Mark?”

Maraka menggeleng. Semenjak Area memutuskan untuk pindah, Maraka benar-benar kehilangan kontak dengannya. Sampai beberapa bulan lalu Dery menemukan akun instagram baru milik gadis itu. Itupun Maraka gak berani follow atau mengirim pesan karena rasa bersalahnya.

“Ini alasan lo takut ngego public hubungan lo sampe sekarang?”

Maraka mengangguk.

“Agak traumatis si yang emang cerita masa lalu lo ini. Tapi menurut gue kejadian itu gak bakal keulang lagi sih.”

“Gimana ya Mark, lingkungan SMA sama Kuliah kan beda ya. Udah gitu fans-fans atau pengagum lo yang sekarang menurut gue gak bar-bar amat. Jihan juga anaknya lumayan terkenal, jadi aman-aman aja sih.”

“Gue masih takut Jun. Dulu gue gagal ngelindungin Area. Gue tau serusak apa mental Area pas dibully habis-habisan. Gue gak mau Jihan kayak gitu juga..”

Arjuna mengusap punggung Maraka, “Jihan gak bakal ngalamin apa yang Area alamin. Percaya sama gue, dekingan Jihan juga lumayan kenceng, bakal aman Jihan, percaya deh.”

Maraka terdiam. Dirinya masih bimbang, memang situasinya pasti akan berbeda, tapi tetap saja rasa takut di diri Maraka masih ada.

#148

Maraka melambaikan tangannya ketika melihat Jihan yang kebingungan mencarinya.

Setelah menyadari keberadaan Maraka, Jihan langsung menghampiri cowok itu dengan jaket yang ia pinjam semalam.

“Haii, maaf nunggu lama ya?” tanya Jihan sambil mengatur nafasnya.

Maraka menggeleng, “enggak, aku baru sampe. Duduk dulu kalau capek.”

“Iyaa, jauh juga dari dalem kesini. Btw ini jaketnya, udah gue cuci. Thank you yaa!” ujar Jihan sambil menyerahkan jaket milik Maraka.

“Iya sama-sama. Capek banget ya? Sampe keringetan gitu.”

“Banget, Winata jago, gak kuat gue asli. Btw lo mau nugas kan?”

Maraka mengangguk, senang rasanya bisa kembali akrab dengan Jihan setelah selesainya hubungan mereka.

“Mark, masih lama? Ilee sama Haje udah nanyain, udah jam empat soalnya.” tanya Aruna yang tiba-tiba muncul diantara mereka.

“Eh Jihan, haii!”

“E-eh hai. Kok bisa ada disini?” tanya Jihan.

“Gue sama Maraka kebetulan satu kelompok, dan gue nebeng buat ke cafe hehe.”

“Ooh.”

Raut wajah Jihan tampak berubah. Maraka yang tak enak hati melihat Jihan langsung buru-buru pamit pergi.

“Ji, aku duluan ya, thank you!”

“Iyaa.”

“Jihan, gue juga duluan ya, bye!”

“Iya bye!”

Jihan memperhatikan mereka sampai mobil Maraka tak tampak lagi dari pandangan. Jihan cemburu melihat mereka yang semakin dekat.

Jihan hanya bisa tersenyum miris, lalu kembali menemui Winata yang sudah menunggunya.

“Bebek kurang ajar, motor gue jadi mati anjrit.” gerutu Calya.

“Lo beneran udah hubungin Juna suruh kesini kan?” tanya Calya, Jihan mengangguk.

“Gak nelpon Jeffry? Tumben.”

Calya menggeleng, “lagi tugas lapangan dia. Gak enak gue ganggu cuma buat begini doang.”

Tak lama setelah itu, seseorang dengan motor datang. Itu Arjuna, dia datang terlebih dahulu. “Hadeh cewek-cewek malem-malem ngapain disini?”

“Lo berdua gapapa kan?”

Keduanya mengangguk.

“Cowok lo mana Cal? Gak dateng nolongin?”

“Lagi praktek doi, gaenak gue ganggu.”

Arjuna memarkirkan motornya tak jauh dari mereka. “Mana lukanya mana?”

Tak lama setelah itu, Maraka datang dengan mobilnya. Ia turun dengan sekotak p3k seperti yang Arjuna suruh bawa tadi.

“Maraka? Ngapain?” tanya Jihan berbisik pada Arjuna.

“Bantuin gue, katanya motor lo mati. Gue gak ada mobil, jadinya nyuruh Maraka buat ikut dateng.”

Jihan menepuk lengan Arjuna kesal. Kenapa Arjuna gak ajak yang lain? Kenapa harus Maraka?

Maraka menyerahkan kotak p3k pada Arjuna, ia berjongkok tepat dihadapan Jihan. “Yang mana yang luka?”

“Bisa sendir- aduh.”

“Gausah dipaksa, aku bantu obatin sini.” ujar Maraka lalu menarik lengan Jihan perlahan. Mulai mengobati luka-luka disana dengan obat yang ia bawa.

Jihan tak bisa menolak, dia hanya diam sambil memandang Maraka yang malam ini terlihat tampan. Kemeja + kacamata + lengan digulung, ini kalau Jihan boleh pingsan pasti udah pingsan duluan.

“Jun obatin gue Jun, gue gak mau jadi nyamuk.”

“Luka lo segores doang, bisa sendiri lah. Lagi gue menghargai perasaan cowok lo ye. Nih tempel sendiri.” jawab Arjuna sambil menyerahkan dua plester.

Setelah selesai mengobati luka Jihan disekitar lengan, Maraka beralih ke luka di pipi Jihan. Mata mereka sempat bertemu satu sama lain, tapi Jihan buru-buru membuangnya. Tanpa sadar, pipinya berubah menjadi merah tomat, Maraka hanya tersenyum simpul menyadari hal itu.

“Lama-lama gue rumbling juga ni Jakarta, dari kemaren liat yang uwu-uwu mulu.” oceh Calya.

“Berisik lu. Ni motor lo mau diapain? Gue jual aja dah.” balas Arjuna.

“Sembarangan, motor kesayangan ni. Tadi gue udah telpon bengkel langganan, masih otw katanya. Otw dari Dubai kali ye daritadi gak sampe-sampe.”

“Gue balik nebeng lo ya Jun, Jihan sama Maraka yaa.” sambung Calya.

“Udah belum Mark? Gue udah ditanyain mak gue ni, doi nitip sate ayam soalnya.”

“Udah Jun.” jawab Maraka. Ia membereskan kotak p3k nya.

“Cal, orang dari bengkel masih lama? Kalau emang lo buru-buru banget gue sama Jihan aja Jun yang nunggu disini.”

Jihan menoleh kaget, tapi ia juga tidak bisa menolak, bagaimanapun Maraka sudah membantunya.

“Udah di deket sini kayaknya.”

“Ini gue sama Calya duluan aja bisa gak? Mak gue udah nelfonin terus daritadi yaampun, berasa lagi kabur gue.”

“Duluan aja Jun.”

“Ok gue duluan ye, maap-maap aje ni. Ayo Cal, naik.” ujar Arjuna. Setelah dirinya dan Calya sudah berada diatas motor, Arjuna menyalakan mesinnya dan pergi.

Kini tersisa Jihan dan Maraka berdua. Keduanya sama-sama diam dikeheningan. Canggung.

“Tunggu di dalem aja Ji, dingin. Gak bawa jaket kan?”

Jihan menggeleng. “Ak- gue disini aja.”

Maraka membuka pintu mobilnya, mengambil jaket yang sengaja ia bawa lalu memberikannya pada Jihan, “pake, dingin.”

Jihan menerimanya dan segera memakainya. Hawa malam ini memang dingin, apalagi dirinya hanya memakai kaos biasa.

“Lo mau kemana? Rapih banget.”

“Ada acara kantor. Lukanya masih sakit gak? Lain kali hati-hati makanya.”

“Udah enggak. Gara-gara bebek loncat, lagi motornya Calya yang bawa.”

Maraka terkekeh. “Besok-besok belajar motornya sama aku aja makanya, dijamin aman.”

“Ah lo kalau bawa motor juga kayak Rosi kw, sama ajaa.” ledek Jihan.

Maraka tertawa, “ya tapi kamu suka kan kalau aku bonceng? Orang ngajak night ride terus.”

“Enggak ih, kata siapa.”

“Punten, mas, mba, kalian temennya mba Calya bukan ya? Tadi anaknya bilang kalau ada temennya yang nungguin.” timbrung pria parubaya yang diketahui adalah salah satu orang bengkel.

“Eh iya mas.”

“Oh, maaf ganggu, ini motornya saya angkut ya.”

Jihan dan Maraka mengangguk berbarengan. Setelah memastikan orang tersebut sudah pergi bersama motor Calya yang rusak, Maraka dan Jihan juga memutuskan pergi.

Selama di perjalanan hanya ada beberapa perbincangan diantara keduanya.

Menyimpan rasa rindu masing-masing yang diiringi dengan lagu dari radio untuk memecah malam.

“Nih.” ucap Jihan sambil menyerahkan jaket yang dititipkan Arjuna pada pemiliknya.

Maraka tersenyum, “makasih ya.” jawabnya sambil menerima jaket di tangan Jihan.

“Iya sama-sama, gue dulu-”

“Pacaran apa perang gerilya kok diem-diem.” potong Sasha, teman satu fakultas Jihan yang tak sengaja lewat.

“Apaansi Sha, udah sana.” usir Jihan, Maraka hanya terkekeh.

Tangan Maraka menjelajah ke rambut Jihan dan mengambil daun yang jatuh di kepala Jihan. “I miss you Ji.”

Jihan hanya diam mematung, tidak tahu harus berbuat apa. “Apaansi.”

“Kita udah bener-bener selesai ya?”

Ya makanya ajak gue go public dong biar gak jadi selesai, elah. batin Jihan.

“Gue duluan, kelas udah mau mulai bye.” ucap Jihan lalu berlalu pergi.

Maraka hanya tersenyum simpul, setidaknya ia bisa kembali bercakap dengan Jihan setelah beberapa hari tidak berkomunikasi.

Maraka masih ragu untuk mempublikasi hubungannya, tapi ia benar-benar ingin Jihan kembali padanya.

#117

“Maaf ya Win jadi ngerepotin gini.” ucap Jihan sambil membantu Winata menaruh Tama di sofa.

“Santai aja Ji. Lagi sakit hati kayaknya abang lo, daritadi manggilin nama pacarnya terus.” jawab Winata.

Jihan memandang Tama miris, padahal banyak cara yang bisa ia lampiaskan pada saat sakit hati. Tapi Tama malah memilih mabok-mabokan sampai merepotkan orang kayak gini.

“Mau minum dulu gak Win?” tawar Jihan.

Winata mengangguk, “boleh Ji hehe.” jawabnya. Jujur, ia kehausan, tadi di bar ia tidak sempat minum karena tidak selera dengan bau alkohol disana. Winata datang ke bar pun untuk menemani temannya.

Menyadari kedatangan Winata, Juki–kucing Jihan, langsung menghampiri Winata dan menggelendotinya. Dulu saat Jihan mengadopsi Juki dari petshop, Winata yang menemaninya.

“Masih kenal Juki sama lo Win ternyata.”

Winata tersenyum, tangannya terus bergerak mengelus bulu lembut Juki. “Iya nih, kirain bakal gak kenal.”

“Popi gimana kabarnya? Sehat gak? Masih suka gigit-gigit gak?” tanya Jihan yang mengarah ke kucing betina milik Winata.

“Sehat, cuma sekarang jadi agak mageran. Tidur mulu kerjaannya, mana lagi kesemsem sama kucing kampung depan rumah.” jawab Winata, Jihan hanya terkekeh pelan.

“Diminum dulu Win.”

Winata mengangguk, mengambil gelas dan meneguk isinya. “Udah jam 11, gue pamit pulang deh ya. Gaenak masih di rumah orang malem-malem gini.” ujar Winata sambil menyerahkan Juki pada Jihan.

Keduanya bangkit dan pergi menuju pintu. “Sekali lagi makasih ya, hati-hati di jalan.” ujar Jihan.

Winata mengangguk, memakai sendalnya terlebih dahulu sebelum pergi, “iya, gue pamit ya.”

Winata melambaikan tangannya yang langsung dibalas Jihan. Dengan iseng, Jihan ikut melambaikan tangan Juki yang disambut dengan kekehan Winata.

Dibalik semua kegemasan itu, ada Arjuna, Maraka, Dery, dan Lucas yang mengintip dari arah pintu. Dery langsung menguatkan Maraka setelah kejadian tadi, sedangkan Maraka hanya diam menahan rasa cemburunya.

Sakit

Setelah mendengar kabar bahwa Jihan sedang sakit, cowok itu langsung pergi ke kediaman Jihan untuk memastikan.

Setelah sampai, ia langsung menghampiri gadisnya yang terbaring lemas di kasur. Ia tak tertidur, hanya terdiam sambil menonton televisi.

“Hey Ji.”

“Eh Mark, kamu ngapain kesini?”

“Nyamperin kamu lah, masih sakit?” tanya Maraka. Ia mengambil posisi duduk disamping Jihan.

“Tau darimana?”

“Shaka. Masih panas gak coba aku cek.” Maraka menempelkan telapak tangannya di dahi Jihan.

“Panas banget, kamu abis ngapain sampe sakit gini?”

“Aku keujanan kemarin, terus sampe rumah beberes dulu baru bilas. Pusing.” keluh Jihan, ia menempelkan kepalanya dipundak Maraka.

Maraka mengelus-elus punggung Jihan, membiarkan gadis itu tersender padanya. “Aku bawa obat, diminum ya? Udah makan belum?”

Jihan mengangguk, “udah tadi dibeliin Calya bubur.”

“Kenapa gak ngabarin aku?”

“HP aku mati, males ambil cas-an di depan, lemes banget aku.” jawab Jihan, ia mulai melingkarkan tangannya di pinggang Maraka, memeluk cowok itu.

“Minum obat dulu ya?”

Jihan menggeleng, “gak mau, mau dipeluk aja.”

Maraka tersenyum gemas, ia memeluk balik gadis itu. Membiarkan kepala Jihan tersender pada dada bidangnya. Mengelus lembut punggung gadis itu.

“Pusing banget, gasuka sakit.”

“Makanya minum obat ya? Biar mendingan.”

“Tapi abis minum obat mau peluk lagi ya?” pinta Jihan.

“Iya iyaa, peluk yang lama nanti.” jawab Maraka gemas.

Maraka bangkit lalu pergi ke dapur untuk mengambil air. Sedangkan Jihan duduk menunggu dikasur.

Maraka kembali dengan segelas air dan satu buah obat ditangannya.

“Mark, aku gak bisa minum obat kalau gak dilarutin dulu. Gak ketelen..”

“Iya iya aku larutin dulu sebentar.”

Jihan mengangguk, ia menatap Maraka dengan penuh rasa. “Makasih yaa..”

“For what?”

“Karena udah sabar dan perhatian sama aku.. Aku nyusahin kalo sakit asli, maaf..”

“Hey, gausah minta maaf. Kalau kamu sakit ya wajarlah aku yang ngurus, aku kan pacar kamu. Dan kamu gak nyusahin Ji, aku suka ngerawat kamu kayak gini.” jawab Maraka, ia mengecup singkat pucuk kepala Jihan.

“IH APASI CIUM-CIUM!”

Maraka terkekeh pelan, “maaf-maaf. Ini diminum dulu obatnya, udah aku larutin.”

Setelah memastikan Jihan selesai meminum obatnya, Maraka membereskan sisa-sisa bungkus obat dan membuangnya.

Ia kembali setelah semua selesai, duduk kembali disamping gadis itu. Memeluknya senyaman mungkin.

“Sering-sering manja kayak gini Ji, aku suka.”

Jihan tak menjawab, tapi gadis itu mengeratkan pelukannya. Seperti tak ingin lepas.

“Aku sayang kamu, banget, Maraka.”

Relationshit.

Kini Maraka telah sampai di kantin FK, keadaan disana sepi karena memang sudah jam pulang kelas. Hanya ada beberapa manusia yang terlihat disana.

Ia melihat Jihan disana bersama Calya dan tiga laki-laki disana. Ia mengenal semuanya, Jeffry, Winata dan Raja. Huh, lagi-lagi Winata.

Ia buru-buru menghampiri Jihan yang masih terlihat asik dengan yang lainnya.

“Jihan.”

Yang dipanggil menoleh, menatap kaget tentang Maraka yang memanggilnya secara terang-terangan, didepan Jeffry dan Raja yang tidak tahu tentang mereka.

“Ayo pulang.”

“Lah? Kalian deket?” tanya Jeffry.

Buru-buru Calya mencubit lengan Jeffry yang langsung menoleh bingung.

“Yea, and she's mine.” jawab Maraka dengan entengnya.

“Eh tolong dirahasiain yaa, gue duluan yaa. Eh tapi beneran dirahasiain ya?” ujar Jihan panik.

Jeffry dan Raja hanya membalas dengan acungan jempol. Sedangkan Winata hanya terdiam, menatap mereka berdua dengan sendu.

Jihan langsung menarik lengan Maraka, membawanya pergi dari sana sebelum ada yang melihat mereka lagi.

“Emang udah gak ada harapan kayak Win.” ucap Jeffry.

“Maksud lo?” Timbrung Calya.

“Enggakk, udah ayo pulang sayangg. Gue duluan ya Ja, Win.”


“Maksud kamu tadi?”

“Kamu ngapain disana? Katanya ada urusan sama Calya, tapi kenapa malah ada Winata?” Maraka balik bertanya.

Jihan menghela nafasnya, “aku sama Calya emang ada urusan, dan urusannya itu sama Raja dan Jeffry. As you know kalau Winata itu sohib Jeffry yang kemana-mana barengan.”

Maraka menyenderkan kepalanya di jok mobil, “maaf, aku tau kita udah janji buat keep in private.”

“I swear Raja and Jeffry bakal tutup mulut tentang ini, aku tadi cuma kebawa aja.”

“But Mark, can we just public this relationship? I mean kita udah dua bulan pacaran, and..”

“Ji, not now. I can't sorry, dan tadi cuma kelepasan.”

“Oh oke-oke, maaf..”

Maraka mengusap halus pipi Jihan, “maaf..”

“Thats fine, now let's go to Senayan and eat taichan sampe kenyang!” seru Jihan mencairkan suasana.

Maraka langsung menyalakan mesin mobilnya. Ia menyadari ekspresi kecewa Jihan ketika ia menolak untuk mempublikasi hubungan mereka.

Maraka masih tidak bisa, ia masih tidak bisa untuk memberi tahu semuanya tentang mereka. Ia hanya ingin ia dan Jihan yang mengetahui dan menikmati hubungan ini.

Maraka egois, ia tahu itu.

Cemburu

“Maaf..”

“Aku sengaja ngasih tau kamu belakangan karena takut kamu gak ngijinin. Aku pengen banget ikut ini soalnya.”

Usapan halus mendarat di pucuk kepala Jihan, Maraka tidak tega untuk marah pada Jihan yang sampai tertunduk lesu seperti ini.

“Hey, no need to say sorry Ji. Aku gak bakal ngelarang, cuma kaget aja tiba-tiba baca base kampus.”

Jari-jarinya berpindah ke dagu Jihan, mengangkat pelan wajah gadis itu dan mengusap pipi bagian kirinya.

“Kalau ada apa-apa cerita ke aku ya Ji?”

Jihan mengangguk, lalu tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Maraka. Jihan memeluknya. “Maaf..”

“Kapan mulai latihannya?”

“Enggak tau, Winata belum kasih tau jadwalnya.” jawab Jihan lalu mulai melepaskan pelukannya.

Maraka menolaknya, ia semakin memeluk Jihan dengan erat, melampiaskan semua emosinya dipelukan itu. “Stay like this for a while ya?”

“Nanti kamu aku yang jemput pas latihan, aku yang nganter juga. Dan Ji..”

“Iya?”

“Jangan terlalu deket sama Winata ya? Aku cemburu..”

Jihan terkekeh, mengelus pelan punggung Maraka, “iyaa, enggak kok. Aku sama dia kan cuma partner.”

“I love you.” satu kalimat yang membuat hati Jihan berbunga-bunga.

“Aba-aba dulu dong, aku kaget.”

Maraka terkekeh, ia melepaskan pelukannya, “aku laper..”

“Kebiasaan, aku masak dulu sebentar.” balas Jihan lalu berlalu pergi menuju dapur.

“Ji aku pinjem laptopnya buat nonton anime yaa.”

“Pake aja!” jawab Jihan agak teriak.

Maraka menelusuri isi file Jihan, mencari satu file yang berisikan list anime miliknya. Sampai matanya tertuju pada satu file dengan judul “hak milik Jian”. Dengan penasaran Maraka menelusurinya, ada satu file yang dibuat di tanggal 10 september 2020, seminggu sebelum hubungan Jihan dan Winata kandas.

Maraka bimbang ingin membukanya atau tidak, memang terkesan tidak sopan tapi ia penasaran. Dengan perlahan ia mengklik isi file tersebut.

Terputar video yang berisikan tentang hubungan Jihan dan Winata. Gabungan dari banyaknya foto mereka. Foto saat pertama kali bertemu, foto date pertama mereka.

Tak tahan, Maraka buru-buru menutup isi file tersebut. Cemburu? Banget. Terlihat sekali ekspresi bahagia Jihan saat bersama Winata. Bahkan dirinya tidak pernah melihat Jihan selepas itu saat bersamanya.

Ini yang Maraka takutkan ketika Jihan memutuskan untuk gabung bersama Winata. Ia takut Jihan nya akan lebih bahagia bersama Winata, pria yang selalu memperlakukan Jihan dengan sangat special, bahkan ketika hubungan mereka telah usai.

Maraka takut, Jihannya akan pergi bersama masa lalunya.

Cure Hug

“Aaa Juki jangan ngompol mulu dong, kan udah ada tempatnya sendiri.” seru Jihan dari dalam kamarnya, seruan yang sekaligus menjadi sambutan bagi Maraka yang baru saja tiba.

Cowok itu terkekeh lalu berjalan untuk menghampiri Jihan yang masih sibuk mengurusi Juki.

“Knok knok.”

Tak kunjung dijawab Maraka membuka pintu kamar Jihan, tampak pemandangan Jihan yang sedang mengomeli Juki karena buang air sembarangan.

“Halo Jiann..”

Jihan menoleh, ekspresinya yang semula marah tiba-tiba berubah senang setelah melihat Maraka hadir didepannya.

“Haloo, tadulu akun ngurusin ini dulu yaa huhu.”

Maraka mengangguk, ia ikut duduk dikasur di samping Juki yang asik bergoler tanpa rasa bersalah.

“Juki gaboleh nakal, kasian pacar aku nanti.” omel Maraka pada Juki yang membuat Jihan tersenyum gemas.

“Jian, kangen.”

“Iyaa kangen juga, mau peluk kan? Sebentar yaa.” jawab Jihan lalu membawa bed cover korban buang air sembarangan Juki menuju kamar mandi.

Maraka bangkit, mengikuti Jihan dan menunggunya di dapur. Gadis itu kembali beberapa saat kemudian setelah mengurusi semuanya.

“Harus aku didik lagi itu Juki, bisa-bisanya buang air sembarangan.” omel Jihan.

Maraka tersenyum gemas melihat Jihan yang daritadi asik mengomel. “Udah ngomelnya? Boleh peluk sekarang?”

Jihan meretangkan kedua tangannya, dan Maraka langsung mendekap Jihan, menenggelamkan wajahnya dibahu gadis itu.

“Capek ya?”

Maraka mengangguk pelan. Dirinya merasa lebih baik setelah bertemu Jihan.

“You did well Maraka, istirahat dulu ya? Seenggaknya ganti baju, pake hoodie kamu yang waktu itu aku pinjem aja.”

“Iya, tapi biarin kayak gini sebentar aja. I miss you so bad Ji.”

Jihan menepuk pelan punggung Maraka, membiarkan cowok itu tenggelam dalam pelukannya untuk beberapa saat.

“Btw kamu ganteng kalau pake kemeja plus kacamata gini, sering-sering deh.”

“Emang biasanya gak ganteng?”

“GANTENG LAH, cowok aku paling ganteng se-Indonesia.”

Maraka melepas pelukannya, menatap wajah gadisnya untuk beberapa saat. “Jihan cantik banget.”

Yang dipuji langsung memalingkan wajahnya malu-malu, lalu berlalu pergi untuk menutupi rasa malunya.

“Gemes. Btw aku bawa donat buat dimakan, happy late girlfriend day Jihan.” ujar Maraka sambil menghampiri Jihan yang masih tersipu malu akan pujian yang tadi.

Maraka ikut duduk disamping Jihan, gadis itu tak menoleh dan menatap ke layar televisi.

“Thank you for being there cutest girl that i ever met.” sambung Maraka dengan tatapan hangatnya untuk Jihan.

“Ah udah ah, aku malu!” seru Jihan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Maraka terkekeh, lalu memeluk gadisnya itu dari samping. “I'm so lucky to have you.”

Obat

“Kamu ngapain tadi berantem gitu? Coba jelasin.” tanya Maraka pada Jihan yang amarahnya masih dipuncak.

Kini keduanya berada di apartemen Jihan, sedangkan Jiel sedang mengantar temannya pulang.

“Kamu jangan berantem lagi, aku khawatir. Apalagi sampe berdarah gini.” sambung Maraka.

Jihan masih tidak menggubris bahkan menatapnya. Maraka menghela nafas berat, ia mulai mengambil hansaplast untuk menutupi luka yang sudah ia bersihkan dipipi Jihan.

“Jiel minta lo datang?”

Maraka mengangguk, “iya, lewat chat.”

“Kamu kalau marah bikin panik semua orang tau Han, marahnya kamu tuh gak ke kontrol, makanya aku kesini.”

“Makasih.”

Satu kata yang mampu menyetak senyuman di bibir Maraka. Meski keduanya canggung, tapi Maraka tetap senang bisa disini bersama Jihan.

Setelah merapihkan kotak p3k, secara tiba-tiba Maraka memeluk Jihan.

“Pukul aku aja Han kalau masih marah.”

Jihan tak membalas apapun, bahkan ia tak membalas pelukan yang Maraka kasih. Rasanya Jihan hanya ingin menangis, ia ingin melampiaskan semua rasa marahnya, rasa capeknya, dan rasa rindunya pada Maraka.

Tapi yang Jihan lakukan adalah melepaskan pelukan itu. “Maraka kita..”

“Aku tau kita putus, aku minta maaf..”

“Mark, kamu pulang aja ya?”

–wnsscc