Obat

“Kamu ngapain tadi berantem gitu? Coba jelasin.” tanya Maraka pada Jihan yang amarahnya masih dipuncak.

Kini keduanya berada di apartemen Jihan, sedangkan Jiel sedang mengantar temannya pulang.

“Kamu jangan berantem lagi, aku khawatir. Apalagi sampe berdarah gini.” sambung Maraka.

Jihan masih tidak menggubris bahkan menatapnya. Maraka menghela nafas berat, ia mulai mengambil hansaplast untuk menutupi luka yang sudah ia bersihkan dipipi Jihan.

“Jiel minta lo datang?”

Maraka mengangguk, “iya, lewat chat.”

“Kamu kalau marah bikin panik semua orang tau Han, marahnya kamu tuh gak ke kontrol, makanya aku kesini.”

“Makasih.”

Satu kata yang mampu menyetak senyuman di bibir Maraka. Meski keduanya canggung, tapi Maraka tetap senang bisa disini bersama Jihan.

Setelah merapihkan kotak p3k, secara tiba-tiba Maraka memeluk Jihan.

“Pukul aku aja Han kalau masih marah.”

Jihan tak membalas apapun, bahkan ia tak membalas pelukan yang Maraka kasih. Rasanya Jihan hanya ingin menangis, ia ingin melampiaskan semua rasa marahnya, rasa capeknya, dan rasa rindunya pada Maraka.

Tapi yang Jihan lakukan adalah melepaskan pelukan itu. “Maraka kita..”

“Aku tau kita putus, aku minta maaf..”

“Mark, kamu pulang aja ya?”

–wnsscc