#148
Maraka melambaikan tangannya ketika melihat Jihan yang kebingungan mencarinya.
Setelah menyadari keberadaan Maraka, Jihan langsung menghampiri cowok itu dengan jaket yang ia pinjam semalam.
“Haii, maaf nunggu lama ya?” tanya Jihan sambil mengatur nafasnya.
Maraka menggeleng, “enggak, aku baru sampe. Duduk dulu kalau capek.”
“Iyaa, jauh juga dari dalem kesini. Btw ini jaketnya, udah gue cuci. Thank you yaa!” ujar Jihan sambil menyerahkan jaket milik Maraka.
“Iya sama-sama. Capek banget ya? Sampe keringetan gitu.”
“Banget, Winata jago, gak kuat gue asli. Btw lo mau nugas kan?”
Maraka mengangguk, senang rasanya bisa kembali akrab dengan Jihan setelah selesainya hubungan mereka.
“Mark, masih lama? Ilee sama Haje udah nanyain, udah jam empat soalnya.” tanya Aruna yang tiba-tiba muncul diantara mereka.
“Eh Jihan, haii!”
“E-eh hai. Kok bisa ada disini?” tanya Jihan.
“Gue sama Maraka kebetulan satu kelompok, dan gue nebeng buat ke cafe hehe.”
“Ooh.”
Raut wajah Jihan tampak berubah. Maraka yang tak enak hati melihat Jihan langsung buru-buru pamit pergi.
“Ji, aku duluan ya, thank you!”
“Iyaa.”
“Jihan, gue juga duluan ya, bye!”
“Iya bye!”
Jihan memperhatikan mereka sampai mobil Maraka tak tampak lagi dari pandangan. Jihan cemburu melihat mereka yang semakin dekat.
Jihan hanya bisa tersenyum miris, lalu kembali menemui Winata yang sudah menunggunya.