132

“Bebek kurang ajar, motor gue jadi mati anjrit.” gerutu Calya.

“Lo beneran udah hubungin Juna suruh kesini kan?” tanya Calya, Jihan mengangguk.

“Gak nelpon Jeffry? Tumben.”

Calya menggeleng, “lagi tugas lapangan dia. Gak enak gue ganggu cuma buat begini doang.”

Tak lama setelah itu, seseorang dengan motor datang. Itu Arjuna, dia datang terlebih dahulu. “Hadeh cewek-cewek malem-malem ngapain disini?”

“Lo berdua gapapa kan?”

Keduanya mengangguk.

“Cowok lo mana Cal? Gak dateng nolongin?”

“Lagi praktek doi, gaenak gue ganggu.”

Arjuna memarkirkan motornya tak jauh dari mereka. “Mana lukanya mana?”

Tak lama setelah itu, Maraka datang dengan mobilnya. Ia turun dengan sekotak p3k seperti yang Arjuna suruh bawa tadi.

“Maraka? Ngapain?” tanya Jihan berbisik pada Arjuna.

“Bantuin gue, katanya motor lo mati. Gue gak ada mobil, jadinya nyuruh Maraka buat ikut dateng.”

Jihan menepuk lengan Arjuna kesal. Kenapa Arjuna gak ajak yang lain? Kenapa harus Maraka?

Maraka menyerahkan kotak p3k pada Arjuna, ia berjongkok tepat dihadapan Jihan. “Yang mana yang luka?”

“Bisa sendir- aduh.”

“Gausah dipaksa, aku bantu obatin sini.” ujar Maraka lalu menarik lengan Jihan perlahan. Mulai mengobati luka-luka disana dengan obat yang ia bawa.

Jihan tak bisa menolak, dia hanya diam sambil memandang Maraka yang malam ini terlihat tampan. Kemeja + kacamata + lengan digulung, ini kalau Jihan boleh pingsan pasti udah pingsan duluan.

“Jun obatin gue Jun, gue gak mau jadi nyamuk.”

“Luka lo segores doang, bisa sendiri lah. Lagi gue menghargai perasaan cowok lo ye. Nih tempel sendiri.” jawab Arjuna sambil menyerahkan dua plester.

Setelah selesai mengobati luka Jihan disekitar lengan, Maraka beralih ke luka di pipi Jihan. Mata mereka sempat bertemu satu sama lain, tapi Jihan buru-buru membuangnya. Tanpa sadar, pipinya berubah menjadi merah tomat, Maraka hanya tersenyum simpul menyadari hal itu.

“Lama-lama gue rumbling juga ni Jakarta, dari kemaren liat yang uwu-uwu mulu.” oceh Calya.

“Berisik lu. Ni motor lo mau diapain? Gue jual aja dah.” balas Arjuna.

“Sembarangan, motor kesayangan ni. Tadi gue udah telpon bengkel langganan, masih otw katanya. Otw dari Dubai kali ye daritadi gak sampe-sampe.”

“Gue balik nebeng lo ya Jun, Jihan sama Maraka yaa.” sambung Calya.

“Udah belum Mark? Gue udah ditanyain mak gue ni, doi nitip sate ayam soalnya.”

“Udah Jun.” jawab Maraka. Ia membereskan kotak p3k nya.

“Cal, orang dari bengkel masih lama? Kalau emang lo buru-buru banget gue sama Jihan aja Jun yang nunggu disini.”

Jihan menoleh kaget, tapi ia juga tidak bisa menolak, bagaimanapun Maraka sudah membantunya.

“Udah di deket sini kayaknya.”

“Ini gue sama Calya duluan aja bisa gak? Mak gue udah nelfonin terus daritadi yaampun, berasa lagi kabur gue.”

“Duluan aja Jun.”

“Ok gue duluan ye, maap-maap aje ni. Ayo Cal, naik.” ujar Arjuna. Setelah dirinya dan Calya sudah berada diatas motor, Arjuna menyalakan mesinnya dan pergi.

Kini tersisa Jihan dan Maraka berdua. Keduanya sama-sama diam dikeheningan. Canggung.

“Tunggu di dalem aja Ji, dingin. Gak bawa jaket kan?”

Jihan menggeleng. “Ak- gue disini aja.”

Maraka membuka pintu mobilnya, mengambil jaket yang sengaja ia bawa lalu memberikannya pada Jihan, “pake, dingin.”

Jihan menerimanya dan segera memakainya. Hawa malam ini memang dingin, apalagi dirinya hanya memakai kaos biasa.

“Lo mau kemana? Rapih banget.”

“Ada acara kantor. Lukanya masih sakit gak? Lain kali hati-hati makanya.”

“Udah enggak. Gara-gara bebek loncat, lagi motornya Calya yang bawa.”

Maraka terkekeh. “Besok-besok belajar motornya sama aku aja makanya, dijamin aman.”

“Ah lo kalau bawa motor juga kayak Rosi kw, sama ajaa.” ledek Jihan.

Maraka tertawa, “ya tapi kamu suka kan kalau aku bonceng? Orang ngajak night ride terus.”

“Enggak ih, kata siapa.”

“Punten, mas, mba, kalian temennya mba Calya bukan ya? Tadi anaknya bilang kalau ada temennya yang nungguin.” timbrung pria parubaya yang diketahui adalah salah satu orang bengkel.

“Eh iya mas.”

“Oh, maaf ganggu, ini motornya saya angkut ya.”

Jihan dan Maraka mengangguk berbarengan. Setelah memastikan orang tersebut sudah pergi bersama motor Calya yang rusak, Maraka dan Jihan juga memutuskan pergi.

Selama di perjalanan hanya ada beberapa perbincangan diantara keduanya.

Menyimpan rasa rindu masing-masing yang diiringi dengan lagu dari radio untuk memecah malam.