Sakit

Setelah mendengar kabar bahwa Jihan sedang sakit, cowok itu langsung pergi ke kediaman Jihan untuk memastikan.

Setelah sampai, ia langsung menghampiri gadisnya yang terbaring lemas di kasur. Ia tak tertidur, hanya terdiam sambil menonton televisi.

“Hey Ji.”

“Eh Mark, kamu ngapain kesini?”

“Nyamperin kamu lah, masih sakit?” tanya Maraka. Ia mengambil posisi duduk disamping Jihan.

“Tau darimana?”

“Shaka. Masih panas gak coba aku cek.” Maraka menempelkan telapak tangannya di dahi Jihan.

“Panas banget, kamu abis ngapain sampe sakit gini?”

“Aku keujanan kemarin, terus sampe rumah beberes dulu baru bilas. Pusing.” keluh Jihan, ia menempelkan kepalanya dipundak Maraka.

Maraka mengelus-elus punggung Jihan, membiarkan gadis itu tersender padanya. “Aku bawa obat, diminum ya? Udah makan belum?”

Jihan mengangguk, “udah tadi dibeliin Calya bubur.”

“Kenapa gak ngabarin aku?”

“HP aku mati, males ambil cas-an di depan, lemes banget aku.” jawab Jihan, ia mulai melingkarkan tangannya di pinggang Maraka, memeluk cowok itu.

“Minum obat dulu ya?”

Jihan menggeleng, “gak mau, mau dipeluk aja.”

Maraka tersenyum gemas, ia memeluk balik gadis itu. Membiarkan kepala Jihan tersender pada dada bidangnya. Mengelus lembut punggung gadis itu.

“Pusing banget, gasuka sakit.”

“Makanya minum obat ya? Biar mendingan.”

“Tapi abis minum obat mau peluk lagi ya?” pinta Jihan.

“Iya iyaa, peluk yang lama nanti.” jawab Maraka gemas.

Maraka bangkit lalu pergi ke dapur untuk mengambil air. Sedangkan Jihan duduk menunggu dikasur.

Maraka kembali dengan segelas air dan satu buah obat ditangannya.

“Mark, aku gak bisa minum obat kalau gak dilarutin dulu. Gak ketelen..”

“Iya iya aku larutin dulu sebentar.”

Jihan mengangguk, ia menatap Maraka dengan penuh rasa. “Makasih yaa..”

“For what?”

“Karena udah sabar dan perhatian sama aku.. Aku nyusahin kalo sakit asli, maaf..”

“Hey, gausah minta maaf. Kalau kamu sakit ya wajarlah aku yang ngurus, aku kan pacar kamu. Dan kamu gak nyusahin Ji, aku suka ngerawat kamu kayak gini.” jawab Maraka, ia mengecup singkat pucuk kepala Jihan.

“IH APASI CIUM-CIUM!”

Maraka terkekeh pelan, “maaf-maaf. Ini diminum dulu obatnya, udah aku larutin.”

Setelah memastikan Jihan selesai meminum obatnya, Maraka membereskan sisa-sisa bungkus obat dan membuangnya.

Ia kembali setelah semua selesai, duduk kembali disamping gadis itu. Memeluknya senyaman mungkin.

“Sering-sering manja kayak gini Ji, aku suka.”

Jihan tak menjawab, tapi gadis itu mengeratkan pelukannya. Seperti tak ingin lepas.

“Aku sayang kamu, banget, Maraka.”