#117
“Maaf ya Win jadi ngerepotin gini.” ucap Jihan sambil membantu Winata menaruh Tama di sofa.
“Santai aja Ji. Lagi sakit hati kayaknya abang lo, daritadi manggilin nama pacarnya terus.” jawab Winata.
Jihan memandang Tama miris, padahal banyak cara yang bisa ia lampiaskan pada saat sakit hati. Tapi Tama malah memilih mabok-mabokan sampai merepotkan orang kayak gini.
“Mau minum dulu gak Win?” tawar Jihan.
Winata mengangguk, “boleh Ji hehe.” jawabnya. Jujur, ia kehausan, tadi di bar ia tidak sempat minum karena tidak selera dengan bau alkohol disana. Winata datang ke bar pun untuk menemani temannya.
Menyadari kedatangan Winata, Juki–kucing Jihan, langsung menghampiri Winata dan menggelendotinya. Dulu saat Jihan mengadopsi Juki dari petshop, Winata yang menemaninya.
“Masih kenal Juki sama lo Win ternyata.”
Winata tersenyum, tangannya terus bergerak mengelus bulu lembut Juki. “Iya nih, kirain bakal gak kenal.”
“Popi gimana kabarnya? Sehat gak? Masih suka gigit-gigit gak?” tanya Jihan yang mengarah ke kucing betina milik Winata.
“Sehat, cuma sekarang jadi agak mageran. Tidur mulu kerjaannya, mana lagi kesemsem sama kucing kampung depan rumah.” jawab Winata, Jihan hanya terkekeh pelan.
“Diminum dulu Win.”
Winata mengangguk, mengambil gelas dan meneguk isinya. “Udah jam 11, gue pamit pulang deh ya. Gaenak masih di rumah orang malem-malem gini.” ujar Winata sambil menyerahkan Juki pada Jihan.
Keduanya bangkit dan pergi menuju pintu. “Sekali lagi makasih ya, hati-hati di jalan.” ujar Jihan.
Winata mengangguk, memakai sendalnya terlebih dahulu sebelum pergi, “iya, gue pamit ya.”
Winata melambaikan tangannya yang langsung dibalas Jihan. Dengan iseng, Jihan ikut melambaikan tangan Juki yang disambut dengan kekehan Winata.
Dibalik semua kegemasan itu, ada Arjuna, Maraka, Dery, dan Lucas yang mengintip dari arah pintu. Dery langsung menguatkan Maraka setelah kejadian tadi, sedangkan Maraka hanya diam menahan rasa cemburunya.