wnsscc

Confession.

Setelah selesai acara makan-makan, Winata mengajak Jihan untuk berkeliling di taman sebentar. Mereka berhenti di tempat yang agak sepi, sengaja, agar Winata lebih lancar untuk menyatakan perasaannya.

“Jihan, sebelumnya maaf..”

“Kenapa Win? Kok minta maaf?”

Winata menarik nafasnya panjang, agak ragu tapi akan tetap ia lakukan. “Maaf sebelumnya, gue tau emang agak gak sopan ngomong ini pas lo udah punya pasangan. Tapi Ji, i always like you since we met, maupun pas kita pacaran, putus, bahkan sampe sekarang.”

“Gue mau confess aja biar perasaan agak lega, gue bener-bener gak ada maksud apa-apa, bener-bener cuma confess aja kok. Gue tau lo udah punya pasangan, gue juga sadar diri gak mungkin ngedeketin lo sekarang.”

“Win..”

Winata tersenyum tulus, “Jihan, lo harus terus bahagia ya? Gue gak tau bakal sampe kapan gue suka sama lo, walaupun suatu saat rasa ini bakal keganti sama orang lain, lo akan tetep jadi cinta pertama gue Ji. Gue tau bahagia lo ada di Maraka, gue juga makasih banget sama lo karena kita pernah saling suka, makasih banget udah pernah jadi bagian dari kebahagiaan hidup gue.”

“Winata lo baik banget, gue yakin lo bakal dapet yang lebih dari gue. Maaf ya, maaf belum bisa perasaan lo, lo juga harus bahagia Win. Orang baik kayak lo deserve a lot of happiness.” jawab Jihan.

Winata mengangguk, “makasih ya Jihan, gue tadi agak nethink sama reaksi yang bakal lo kasih. Sekali lagi gue gak ada maksud apa-apa sih confess kayak gini, biar lega aja. Lagian kita kan masih bisa jadi temen, mau kan lo temanan sama gue?”

“Ya mau lah, siapa anjir yang gak mau temenan sama lo. Makasih ya Win udah jujur kayak gini, gue do'ain deh biar lo cepet-cepet dapet cewek yang lebih dari gue.”

Winata mengulurkan tangannya, dan Jihan membalasnya. Mereka berjabat tangan, menandakan bahwa akhirnya Winata bisa berdamai dengan keadaannya sekarang.

Tidak peduli tentang status Jihan sekarang, yang penting ia akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa rasanya bertepuk sebelah tangan, dan Winata menerimanya.

Konser.

Kini saatnya band Maraka tampil. Mereka akan membawakan lagu Congratulationsnya Day6. Jihan, Shakira, dan Shaka sudah berdiri dibarisan depan, sedangkan Calya sedang asik pacaran bersama Jeffrey.

Maraka dan yang lainnya memasuki panggung, Maraka malam ini benar-benar tampil tampan dengan gitar listriknya. Jihan sempat berdada-dada singkat dan dibalas dengan senyuman dari Maraka.

Lagu dimulai, semuanya benar-benar menikmati lagu. Jihan benar-benar tidak bisa melepas pandangannya dari Maraka, begitupun Maraka yang sesekali melirik Jihan.

Setelah lagu selesai, tepukan meriah keluar dari penonton. Seluruh anggota band keluar dari panggung, kecuali Maraka. Cowok itu tetap diam disana, mengambil micnya, Maraka akan bernyanyi solo malam ini.

Cowok itu membawakan lagu Sorry-Justin Bieber. Suaranya begitu merdu, Jihan saja terpana dibuatnya. Jihan tau Maraka suka nyanyi dan memiliki suara indah, tapi dirinya tidak menyangka akan seterpana ini dengan suara Maraka.


Cowok itu mendapatkan tepukan apresiasi dari anggota band lainnya saat turun panggung. “Keren emang lo, udah cocok jadi penyanyi sih.” puji Yasha.

“Thank you, thank you. Gue duluan ya, udah ditungguin.” jawab Maraka lalu berlalu pergi.

Maraka memasuki kerumunan penonton, ia mencari Jihan ditempat mereka bertemu. Ia menemukan gadis itu tengah berdiri kebingungan, buru-buru Maraka menghampirinya.

Ia memeluk gadis itu dari belakang, melingkarkan kedua tangannya dileher gadis itu. “Haloo.”

Jihan membalikkan badannya, “waduh ada mas penyanyi. Keren tadi mas tampilannya.”

Maraka terkekeh, “terimakasih adik atas pujiannya, haha. Mau kedepan lagi gak buat nonton Tulus?”

“Disini aja, didepan berisik, kuping aku pengang banget, mana Shaka-Shaki berantem terus.”

“Yaudaa.”

Saat Tulus mulai menyanyikan lagunya, Maraka melingkarkan tangannya dileher Jihan, menaruh dagunya diatas kepala gadis itu.

“Lagunya Tulus enak-enak banget, aku ngefans banget.”

“Selalu ngena lagunya, kadang aku sampe nangis dengernya gatau kenapa.” sambung Jihan.

“Jihan?”

“Iyaa?”

“I love you.”

“Oke?? Kenapa tiba-tiba banget, aku kaget.”

“Jawab.”

“Iya-iya, i love you too. Kamu jangan suka ngomong gitu tiba-tiba dong, aku kaget asli haha.”

Maraka mengecup singkat pucuk kepala gadis itu, andai Jihan tahu, betapa bahagianya Maraka bisa mempunyai pacar sepertinya.

Maraka benar-benar pulang sesuai janjinya pada mamanya. Kalau bukan karena mamanya yang menyuruh, Maraka ogah pulang ke rumah.

“Raka anak mama, sehat?”

“Sehat ma.”

Yena langsung memeluk anak tunggalnya itu, lalu mengajaknya masuk untuk menemui ayah dan kakek Maraka yang sudah menunggu.

Maraka langsung duduk di kursi meja makan, menunggu kakek dan ayahnya selesai makan.

“Keren, kakek bangga padamu soal grand opening kemarin. Gak salah kakek mempercayakan perusahaan pada kamu.”

Maraka memutar bola matanya malas. Alih-alih menanyakan kabarnya, kakek malah langsung membicarakan tentang bisnis.

“Maraka, bagaimana kalau kamu meneruskan perusahaan kakek di Singapore sana? Soal kuliah gampang, tinggal pindah.”

“Maraka gak mau. Udah cukup Maraka menuruti keinginan kakek buat jadi ahli waris perusahaan.”

“Kenapa? Kan enak tinggal di Singapore sana, kehidupan dan pendidikan kamu juga akan kakek jamin.”

“Maraka tetep gak mau. Maraka punya temen, kehidupan disini, gak mungkin Maraka tinggalin gitu aja. Lagian apa kakek gak capek ikut campur sama kehidupan Maraka? Maraka aja capek ngikutin keinginan kakek mulu.” jawab Maraka jujur.

“Alah bilang aja kamu gak mau ninggalin pacar kamu itu. Tinggalkan aja kalau ia membawa pengaruh aneh, masih banyak cewek cantik dan kaya raya diluaran sana. Lagi kakek seperti ini demi jaminan masa depan kamu.”

“Udah Maraka bilang jangan pernah bawa-bawa dia. Maraka pokoknya gak mau ambil alih perusahaan Singapore, cukup yang disini aja. Kalau kakek maksa, Maraka bakal lepas tangan sama perusahaan yang di Jakarta.”

“Kok kamu jadi melawan seperti ini sih? Satria, liat anakmu ini, bisa-bisanya dia membantah ayah.”

Satria bingung, disatu sisi ia juga kasihan melihat Maraka yang harus selalu menuruti keinginan kakek, tapi ia tidak mungkin melawan ayah sendiri. “Raka..”

“Apa? Papa mau bela kakek lagi? Emang sama aja kalian, gak pernah ngertiin Maraka. Papa tau gak pengorbanan apa yang udah Maraka lakuin demi menuhin keegoisan kalian? Maraka gagal raih cita-cita Maraka jadi dokter gigi demi kalian.”

“Terus sekarang, kalian mau Maraka ninggalin kehidupan Maraka disini? Maraka gak mau.” sambung Maraka penuh emosi.

Daripada berada disini lebih lama dan emosinya semakin memuncak, Maraka memutuskan untuk pergi dari sana. Yena dan Satria sempat menghadang Maraka, tapi cowok itu memilih untuk tetap pergi daripada menghadapi keegoisan orang tuanya.


Maraka membanting stirnya kesal, memang pilihan yang salah untuk datang dan meladeni keluarganya.

Saat ini ia benar-benar frustasi, marah, dan Maraka butuh pelampiasan. Sempat muncul notifikasi chat dari teman SMAnya tentang ajakan untuk pergi ke arena. Karena Maraka benar-benar tak tahu harus kemana dan ia benar-benar membutuhkan pelampiasan, Maraka langsung menancapkan gas menuju arena.


“Wih si jagoan dateng juga.” ujar Ryan, teman SMA Maraka dulu.

“Lawannya siapa?”

“Arkan Wardana, anak kampus lo juga kalo gak salah.”

Maraka mengangkat satu alisnya, belum tobat juga ternyata.

“Minjem motor lo Yan.”

“Santai, pake aja.”

Selang beberapa menit, Arkan datang dengan wajah penuh luka bekas pukulan Tama beberapa hari lalu. “Wow Maraka..”

“Belum tobat juga ya lo ternyata. Kirain abis dipukulin Tama bakal tobat.”

“Tama? Zafran Pratama? Lo kenal Rak?” tanya Ryan.

“Abang cewek gue.”

Arkan menatap Maraka penuh menantang, “ngomongin soal cewek lo, kalau hari ini lo kalah balapan, Jihan buat gue. Gimana?”

“Jangan bawa-bawa Jihan anjing, sekere itu kah lo sampe jadiin anak orang taruhan?”

Arkan tertawa. “Enggak sih, cuma emang udah ngincer Jihan aja gue dari lama. Gimana? Kalau lo menang lo bisa ambil semua yang gue punya.”

“Kalau gue menang, lo gue abisin.”

“Deal.”

Keduanya mengambil posisi masing-masing, mereka sempat saling menatap penuh sengit. Maraka pastikan Arkan akan habis ditangannya hari ini. Dan Arkan pastikan, Jihan akan menjadi miliknya.

Bendera di kibarkan, keduanya langsung menancapkan gas dan saling mengebut.

Selang beberapa saat, keduanya kembali, Maraka memimpin, dan ya Maraka berhasil mencapai garis finish mendahului Arkan.

Cowok itu langsung menyeret Arkan turun dan memukulinya. Melampiaskan amarahnya disana, bahkan ia tidak peduli saat menjadi tontonan orang-orang disana.

Melihat Arkan benar-benar habis dibuat Maraka, Ryan langsung menarik cowok itu dan menahannya. “Udah Rak udah, tar anak orang mati berabe.”

“Jangan pernah libatin Jihan dalam hal apapun, atau lo bakal gue bikin sekarat.”

Setelahnya, Ryan menyuruh Maraka untuk pulang daripada terus disini dan emosinya semakin tak terkendali.

Maraka benar-benar pulang, bukan ke apartemennya, melainkan pulang ke kediaman Jihan. Maraka ingin melihat Jihan, meskipun sebentar dan hanya untuk meredakan emosinya.

Kini Jihan, Arjuna, Dery, Lucas, Calya, Shakira, dan Shaka berkumpul di kediaman Jihan untuk membicarakan mengenai kecelakaan pesawat.

“Beneran belum ada yang dibales chatnya? Atau telfon gitu?” tanya Dery.

Semuanya menggeleng. “Maraka beneran pulang hari ini kan?” tanya Arjuna memastikan.

“Bener, tadi pagi dia ngechat gue bilang mau otw balik Jun.” jawab Jihan, matanya sudah berkaca-kaca karena Maraka.

“Jam berapa?”

“Jam tujuh Jun.”

“Sekarang jam 12, 5 jam setelah kabar terakhir Maraka. Tadi gue check, flight rute Singapore-Jakarta tu cuma yang jam 7 sama jam 9. Terus yang kecelakaan yang rute jam 7.”

“Mungkin gak Maraka ngambil yang jam 9?”

“Mungkin aja sih, dan harusnya sekarang udah sampe gak sih? Singapore deket anjir.”

Jihan tak kuat lagi menahan air matanya, ia menangis begitu saja, “lo jangan nangis dulu Ji, adohh.” ucap Arjuna.

“Gue udah tanya Aruna, terus dia bilang Maraka check-out hotel sekitar jam setengah enaman.” timpal Shakira.

Obrolan mereka terhenti karena suara bel pintu yang berbunyi. Karena Jihan masih menangis, Lucas yang akhirnya pergi mengecek.

“AA JURIG!”

Perhatian semua orang teralih pada teriakan Lucas. Shaka dan Dery yang penasaran akhirnya ikut menyusul.

“LAH MARAKA!?”

Mendengar teriakan Lucas yang lainnya ikut pergi melihat apa yang terjadi.

Maraka berdiri disana, dengan ekspresi bingung karena semua temannya menatapnya aneh.

“Lah masih idup lu?” tanya Arjuna ngaco.

“Ya menurut lo?” jawab Maraka kebingungan.

Jihan yang melihat kehadiran Maraka langsung memeluk cowok itu dan menangis sejadi-jadinya disana.

Merusak suasana, Lucas yang terharu ikut memeluk Maraka. “Gue kira lo kenapa-napa anjir aelah.”

“Kalian kenapa sih?”

“Syukur deh lo gak kenapa-napa, hampir aja temen gue jadi jomblo. Lagi lo tuh kalo apa-apa check HP kenapa sih, kabarin gitu loh.” ujar Calya.

“HP gue lowbatt, lupa ngecas semalem sorry. Tapi serius ini kenapa?”

“Tar Jihan yang jelasin, kesian tu anaknya udah sedih banget sampe gamau lepas meluk. Mana mukanya jelek lagi kalau nangis.” jawab Arjuna yang langsung ditatap sinis oleh Jihan.

“Yang penting lu selamet dah. Dah yang lain bubar yuk, kasih waktu buat dua orang yang mau pacaran. Atau ngerendang aja di apart gue, abis masak banyak nih.” sambung Arjuna.


“Kenapa nunduk terus? Ayo cerita dong ini ada apa, aku penasaran.”

Jihan menggeleng, “sebentar, muka aku masih jelek abis nangis.”

“Enggak, kata siapa jelek. Juna cuma bercanda tadi, tetep cantik kok. Ayo ceritaa.” jawab Maraka menenangkan.

“Ada berita, pesawat rute Singapore-Jakarta jatuh. Aku panik, takut kamu salah satu korbannya. Kamu ditelpon ga diangkat, dichat gak dibales. Bahkan Shakira sampe nanya sama Aruna. Kamu bikin panik asli. Arjuna sampe keselek ikan gurame pas tau kabarnya.”

Maraka tertawa kecil, “oh gitu. Maaf udah bikin khawatir.”

Maraka memeluk gadis itu, menenangkannya. Ada rasa bahagia saat mengetahui bahwa Jihan sepeduli dan sekhawatir itu padanya.

Dipeluk seperti ini Jihan malah menangis lagi. Membayangkan jika Maraka menjadi salah satu korban dan pergi meninggalkannya.

“Jangan nangis.. Aku bawa coklat, jangan nangis lagi ya?”

Jihan mengangguk, lalu menerima setas berisikan coklat yang Maraka bawa. “Banyak banget, kamu mau buat aku diabetes atau gimana?”

“Katanya kamu mau coklat setoko. Karena aku gabisa beli setoko jadi aku beliin segitu aja.”

“Aku cuma becanda padahal, tapi makasih ya.”

Maraka mengangguk. Ia merebahkan dirinya dan menaruh kepalanya di bantal diatas paha Jihan.

“Capek ya?”

Maraka mengangguk pelan, “tapi abis liat kamu udah gak capek lagi sih.”

“Idih gombal.”

Satu tangan Jihan meraba rambut Maraka dan memainkannya. “Puk-pukin Ji, aku suka kalau kamu mainin rambut aku.”

“Mau netflix-an gak?”

Maraka mengangguk, “sekalian netflix and chill aja mau gak?”

Jihan menepuk tubuh Maraka pelan, “dih istighfar lu.”

Maraka tertawa, “yaudah cuddle aja mau gak? Kita selama pacaran gak pernah cuddle gak sih?”

“Enggak, udah ah, gini aja udah. Gak ada cuddle atau netflix and chill.”

Maraka bangun dan merangkul Jihan, “yauda iyaa.”

Ia menarik pelan Jihan untuk bersender di bahunya. Mengelus-elus lembut rambut Jihan.

Sesekali Jihan menyuapi Maraka dengan coklat yang cowok itu berikan.

Keduanya benar-benar menikmati hari minggu dengan manis setelah ada kejadian menghawatirkan tadi.

Bandara.

Jihan menarik Arjuna agar bergerak lebih cepat lagi. Kata Maraka, ia pergi take off sekitar jam 4.15 sore, dan sekarang sudah pukul 15.32, Jihan takut tak sempat untuk bertemu Maraka sebelum pergi.

“Lo si Jun ah nyetir kek jompo, lama.”

Matanya mengedar, mencari Maraka di dekat tempat yang Maraka informasikan. Sampai ia menangkap Maraka dengan seorang pria tinggi berdiri tak jauh dari mereka.

Jihan langsung berlari melepas tautan tangannya dengan Arjuna yang ikut menyusul.

“Maraka!”

Yang disebut namanya langsung menoleh dan tersenyum, “Om Jo duluan aja, saya ada urusan sebentar.”

John yang mengerti situasi langsung pamit untuk check-in tiket terlebih dahulu.

“Maaf telat, Arjuna ngendarainnya lama banget asli.”

“Gue terus, salah mulu gue.” balas Arjuna tak terima.

“Emang salah lo.”

Maraka terkekeh, emang paling seru kalau liat Jihan dan Arjuna berdebat konyol seperti ini.

“Dery, Lucas, gak ikut Jun?” tanya Maraka.

“Dery lagi nganterin Lucas ke tukang urut, keseleo dia. Gegayaan manjat pohon mangga, terus jatuh.”

Obrolan mereka terhenti dengan suara pengumuman informasi keberangkatan Maraka. “Yah, gabisa lama-lama.”

Maraka langsung memeluk gadis itu dengan erat, “gonna miss you Ji.”

Jihan menepuk-nepuk punggung Maraka, “hmm, beneran ya kamu gabakal kecantol cewek Singapore.”

Maraka terkekeh pelan, ia juga melepaskan pelukannya dan bersiap dengan kopernya. “Iyaa, gak akan.”

“Hati-hati Mark, oleh-oleh jangan lupa.” timbrung Arjuna.

Maraka mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Lalu mengusap pelan pucuk kepala Jihan, “see u lima hari lagi cantikku.”

Setelah berpamitan, Maraka langsung berlalu. Mereka sempat berdada-dada.

“Bakal kangen banget gue Jun, elah.”

“Lima hari doang kek ditinggal lima abad lo. Dah yuk balik, cilor gue belum diambil anjing.”

Perpisahan sepasang kekasih yang manis yang ternyata juga disaksikan oleh gadis cantik bernama Aruna.

Aruna menyaksikan semuanya dengan sesak didada, ia juga ingin bisa dekat dan diperlakukan seperti itu oleh Maraka. Tapi kesempatannya sudah hilang, dan dirinya harus mencoba menghilangkan rasanya untuk Maraka.

Maraka merebahkan Jihan dikasur saat sampai. Ia benar-benar dendam pada Arkan yang membuat gadisnya seperti ini. Maraka diam memandang gadis itu sebentar, benar-benar cantik walaupun dengan keadaan seperti ini. Ah, Maraka benar-benar sudah jatuh hati padanya.

Saat hendak pergi untuk bersih-bersih, tangan Maraka ditarik oleh Jihan yang setengah sadar. “Loh, Maraka?”

Jihan belum benar-benar sadar dari mabuknya, Maraka yang mendengar panggilan Jihan langsung kembali duduk dihadapan gadis itu. “Kok bisa disinii?? Ngapain?”

“Nemenin kamu.” jawab Maraka, ia membantu merapihkan poni Jihan yang berantakan.

Kedua tangan Jihan mendekap pipi Maraka, “kenapa kamu baik banget? Aku jadi susah buat move on dari kamu kalo kayak gini.”

“Kenapa belum ngajak aku balikan sampe sekarang? Aku gapapa kamu aja backstreet lagi, gapapa, asal sama kamu huaa.”

“Tapi Mark, emang aku sebikin kamu malu itu ya sampe gak mau publish aku? Ya aku tau si aku gak cakep-cakep amat buat kamu yang ganteng abis.”

“Coba kalau aku secantik Aruna, mungkin kita masih pacaran terus pamer-pameran di instastory kali ya haha. Maaf ya, maaf aku gak cantik.”

“Tapi aku sok tau banget gak sih bilang gini, haha, kamu pun gak pernah cerita kenapa gak mau publish hubungan. Tapi mungkin aja gak sih karena kamu malu, kan gak mungkin kalo ternyata kamu selingkuh atau aku yang ternyata selingkuhannya. Indosiar banget.”

Maraka meraih tangan Jihan dan mengusapnya. “No you're not, kamu itu cantik, paling cantik buat aku. Aku gak pernah malu punya kamu, malah aku seneng dan bersyukur banget.”

Jihan tersenyum mendengarnya, walaupun dengan keadaan setengah mabuk, gadis itu masih bisa mendengar dan merasakan dengan jelas perkataan Maraka.

“Aku ceritain tentang kenapa nya besok ya, pas kamu udah sadar. Sekarang kamu tidur, pasti capek ya seharian ini kuliah, nugas. I love you Ji, now go to bed.”

Jihan menunjukkan jari kelingkingnya, “janji ya besok hehe?”

Maraka menakutkan kelingking mereka, “janji cantik, sekarang tidur ya, good night.”

Jihan mengecup singkat pipi kanan Maraka lalu merebahkan dirinya dan menutup dirinya dengan selimut. Maraka yang kaget hanya bisa tersenyum gemas, lalu pergi untuk membersihkan diri.

Sekembalinya Maraka, Jihan sudah tertidur pulas. Melihat Jihan seperti ini semakin membuatnya merasa bersalah, harusnya Maraka tidak membawa Jihan pada ketakutannya. Harusnya Maraka tidak menjadikan Jihan korban dari ketakutannya.

Maraka mengecek sebentar handphonenya, banyak telepon dan pesan tak terjawab dari kakek dan kedua orang tuanya. Maraka capek, ia tidak ingin menambah lelahnya dengan meladeni mereka yang isi pikirannya hanya bisnis, bisnis, dan bisnis.


“Udah bangun? Masih pusing gak?” itu suara Maraka. Cowok itu datang dari luar kamar dan ikut duduk di ranjang berhadapan dengan Jihan.

Jihan yang masih kebingungan hanya terdiam tak menjawab. Matanya memandang Maraka bingung.

“Bingung ya? Kamu semalem mabok, mau aku pulangin tapi kata Arjuna jangan soalnya bakal diomelin mama-papa kamu.”

Jihan terbelakak kaget. Bisa-bisanya ia melakukan sesuatu yang sangat ia hindari. Ia juga takut melakukan yang tidak-tidak saat mabuk semalam. “Gue, gak aneh-aneh kan?”

“Jawab jujur gak ya?”

“Maraka!”

“Obatin aku dulu, nanti aku jawab. Sakit Ji..” keluh Maraka sambil menunjukkan luka-luka disekitar wajahnya.

“Ish manja. Yauda mana sini obat-obatnya.”

Maraka bangkit dan mengambil kotak p3k miliknya di laci meja, lalu kembali dan memberikannya pada Jihan.

“Kok bisa gini sih? Emang semalem pada ngapain sih?” tanya Jihan, tangannya mulai beraksi mengobati Maraka.

“Aku berantem sama Arkan, ya habisnya dia kurang ajar bikin kamu mabuk gitu. Arkan jahat Ji.” jawab Maraka.

“Lo berantem karena nolongin gue? Wait, Bang Tama gak tau kan soal ini?”

“Bang Tama gak tau. Iya aku nolongin kamu sampe begini, makanya tanggung jawab, bantu obatin.” jawab Maraka.

“Ya ini juga lagi gue obatin.”

“Nanti sore ke pantai mau? Sekalian mau ngomong sesuatu, mau ya?” ajak Maraka.

“Boleh.”

Semilir angin pantai yang lembut menemani sepasang manusia yang sedang diambang kecanggungan.

Setelah aksi nekat Maraka tadi, keduanya tidak lagi bicara kecuali untuk hal-hal penting. Hanya berani saling melirik tanpa bersuara.

“Itu, maaf, tadi kaget ya?” tanya Maraka membuka topik.

“Kaget sih, tapi gapapa, eh, apasih.” jawab Jihan salting.

Maraka terkekeh, “tapi suka gak? Suka gak kalau aku gandeng di depan umum gitu?” goda Maraka.

Jihan mendorong pelan lengan Maraka, “apasih, gajelas.” jawab Jihan salah tingkah.

“Maaf ya, maaf buat perlakuan aku dulu. Aku baru berani sekarang Ji, aku baru sadar sekarang. Emang brengsek banget aku campurin kamu diurusan masa lalu aku.”

Jihan menoleh kaget, “eh? Maksudnya?”

“Alasan aku dulu belum berani go public hubungan kita aku punya trauma Ji. Aku dulu masih takut. Aku takut kejadian dulu keulang, aku takut kamu jadi korban dan aku masih gak bisa ngelindungin kamu. Harusnya aku gak takut dan paham sama perbedaan situasi yang ada. Tapi sekarang, aku udah mulai coba buat berdamai, berdamai sama semuanya. Aku udah coba maafin diri sendiri, maaf baru bisa sekarang.” ujar Maraka, wajahnya tertunduk.

Jihan tak mengerti, korban? Trauma? Maraka punya trauma? “Aku gak ngerti Mark, coba ceritain lebih detail, aku gak mudeng sumpah.”

Maraka mulai menceritakan semua kisahnya pada Jihan, dari awal traumanya dimulai sampai pertemuannya dengan Area beberapa hari lalu.

“Kamu kenapa gak pernah cerita si Mark, aku jadi ngerasa jahat banget kalau kayak gini. Ngelepasin kamu disaat kamu masih nyimpen semua cerita kelam.” ucap Jihan dengan nada rendah, ia jadi tidak enak hati setelah mendengar cerita Maraka.

“No, don't be like that. Emang salah aku aja gak terbuka sama kamu, maaf.”

“Aku bener-bener minta maaf Jihan..” sambung Maraka, wajahnya terangkat menampakkan raut penyesalan disana.

Jihan yang tak tega melihatnya langsung memeluk cowok itu, “no need to say sorry Maraka, aku tau pasti rasanya berat.”

Maraka membalas pelukan Jihan, menenggelamkan wajahnya di bahu Jihan, ia hampir menangis disana, tapi ia tahan sebisa mungkin. Lega juga setelah jujur pada Jihan tentang semuanya.

“Masih mungkin gak Ji buat kita balikan?” tanya Maraka merusak suasana sedih diantara keduanya.

Jihan melepaskan pelukannya, menepuk lengan Maraka pelan, “ngerusak suasana banget ya lo.”

“Aku serius, kita kan udah saling terbuka. Mending balikan aja gak sih? Kamu juga udah terlanjur peluk-peluk aku, sayang banget kalo gak balikan.” goda Maraka.

“Dih, gak ah. Nanti diajak backstreet lagi, males.” balas Jihan balik menggoda.

Maraka gemas, ia mencubit pelan pipi kanan Jihan. “Enggaklah, mau bukti? Aku post foto kamu sekarang. Tapi balikan dulu, ya? Ya?”

“Eh apaansi main post post aja, gue gak mau jadi bahan gibahan base lagi ya. Gara-gara tadi lo main gandeng udah pasti masuk base nih gue.”

“Yaudasi gapapa, base doang. Kecuali masuk lambe turah, baru heboh boleh.”

“Balikan ya Ji? Kamu emang tega nolak cowok ganteng kayak aku? Mubazir juga Ji nolak cowok ganteng kayak aku.” sambung Maraka yang langsung ditertawai oleh Jihan.

“Pede banget lo. Ada jaminannya gak nih kalau lo gak bakal ngajak gue backstreet lagi?”

“Jaminan, jaminan. Aku ini ngajak kamu pacaran bukan nawarin pinjol.”

“Ya kali aja lo ngajak gue backstreetan lagi.”

“Ok, you can have all of my movies DVD collection. Cukup?”

Jihan kaget, sumpah dia hanya bercanda, gak nyangka Maraka bakal nanggepin serius. “GUE BECANDA, koleksi DVD lo ori plus mahal semua, gak jadi deh.”

“Seriously Ji, you can have that all, asal kita balikan ya? I really love you, please??”

Jihan membuang muka, “yaudah iya, tapi yang DVD gausah ya, gak berani gue.”

Maraka tersenyum lebar, “KAMU NERIMA AKU? FIX KITA BALIKAN NIH YA?”

Jihan masih malu, dirinya tak berani menatap Maraka yang masih kegirangan.

Sampai kecupan singkat mendarat dipipinya, itu ulah Maraka. Jihan langsung memukul Maraka, “gak sopan ih main cium-cium aja.”

“Why? Aku kan pacar kamu sekarang, PACAR.”

“Yaudah si, gausah diteken juga kata pacarnya, gue juga tau.”

“Aku Ji, aku, kita kan udah officialy dating. YEY. I love you pacarku.”

“Iya makasih, i love me too.” goda Jihan.

“Ok then, Maraka is angry now.”

Jihan tertawa puas, asik juga godain Maraka saat cowok itu sedang dalam bayi mode. “Becanda, i love you too. Gitu kan?”

Keduanya berakhir dalam canda tawa di sore hari, hari itu semuanya terjadi sesuai apa yang Maraka bayangkan.

Ia dan Jihan akhirnya kembali bersama, namun dengan situasi dan rencana yang berbeda.

Braga Punya Cerita.

“Thanks to you Win, karena lo ngajak keluar akhirnya gue terhindar dari pertanyaan kapan lulus dan sebagainya dari ibu-ibu.” ucap Jihan ditengah ramainya Braga malam ini.

Keduanya sedang berjalan ria memecah ramainya Braga, Bandung. Menikmati nikmat dan sejuknya suasana Bandung disore hari.

“Hahaha, pertanyaan lumrah buat remaja seumuran kita gak sih? Gue juga sering ditanyain gitu padahal baru taun kemaren masuk kuliah.”

“Iya si, tapi tetep aja pegel jawabnya.”

Keduanya berhenti didepan cafe, “mau pesen apa Ji?”

“Enaknya sore-sore makan waffle sama minum oreo cheescake gak sih? Gue itu aja deh.”

Winata mengacungkan jempolnya, lalu mengutarakan pesanannya pada pelayan cafe tersebut.

Setelah menunggu bbeberapa menit, Winata kembali dengan pesanan Jihan dan miliknya.

“Berapa Win? Biar gue gantiin uangnya.”

“Gak usah, gue traktir.”

“Demi apasi? Makasih loh.”

“Sama-sama. Oiya, gue bawa kamera analog, mau sekalian foto-foto gak?” tawar Winata.

Jihan mengangguk semangat. Saking semangatnya sampai tidak sadar bahwa ada bekas ice cream wafflenya menempel di sudut bibirnya.

Winata yang menyadari itu langsung mengusap sisa ice cream tersebut dengan jempolnya, “ada ice cream nempel.”

Jihan menoleh kaget, buru-buru ia mengelap mulutnya dengan telapak tangannya, “eum makasih win.”

Setelahnya, hadir sebuah kecanggungan diantara keduanya. Jihan masih syok dengan sikap Winata tadi, dan Winata agak gaenak hati karena canggungnya mereka sekarang.

“Kak permisi..” sapa seorang gadis kecil memecah kecanggungan mereka.

“Mau beli pudding aku gak kak? Daritadi belum ada yang beli.” sambungnya.

Jihan langsung mengeluarkan selembaran uang dua puluh ribu, “ih aku mau dong, berapa satunya?” tanya Jihan, ia berhenti dan mengambil posisi agak jongkok menyesuaikan gadis kecil di depannya.

“Satunya lima ribu kak, mau berapa?” tanya gadis itu dengan semangatnya.

“Aku mau empat boleh? Win, mau gak?”

Winata mengangguk, mengajak keduanya agak kepinggir agar tidak menghalangi orang yang berlalu lalang.

“Aku mau empat juga dong.” ucap Winata.

Gadis kecil itu buru-buru mempersiapkan pesanan untuk dua orang di depannya. “Ini ya kak, makasih banyak loh kakak ganteng, kakak cantik. Semoga rejekinya lancar terus.”

“Aamiin.” jawab Winata dan Jihan serempak.

Setelah menerima uang dari Jihan dan Winata, gadis kecil itu berlalu pergi.

“Suka kasian ngeliatnya, anak sekecil mereka yang seharusnya belajar dan main malah jualan buat ngelanjutin hidup.” ucap Jihan, mereka melanjutkan jalan-jalan sorenya.

“Iya, gak semua orang lahir dalam keadaan berada. Banyak yang terpaksa harus berjualan sejak kecil demi kelangsungan hidup. Itu sebabnya, kita orang yang beruntung lahir dalam keadaan berada harus banyak-banyak bersyukur.” timpal Winata.

“Iya Pak dokter, paham.” ledek Jihan.

Winata tertawa, mengusap pelan pucuk kepala Jihan, “bagus deh kalo ibu pengacara paham.”

Keduanya tertawa, mereka melanjutkan jalan-jalan hari itu dengan berkeliling braga dan sekitarnya. Menyaksikan para pemusik jalanan dan beberapa hiburan disepanjang perjalanan.

Hari itu Braga membuat cerita untuk mereka. Membuat cerita untuk dua manusia yang pernah saling mengisi kehidupan satu sama lain.

Area melambaikan tangannya ketika melihat Maraka datang. Gadis itu memasang senyum cerahnya untuk menyambut Maraka.

“Haii, apa kabar??”

“I'm good, you?”

“Aku baik, kamu gak banyak berubah ya dari dua tahun lalu. How's Dery, Lucas?”

“They're totally fine. How's Singapore? Nyaman?”

Area mengangguk, “of course. Jadi ambil kedokteran gigi?”

Keduanya mulai berjalan berdampingan menyusuri taman, menikmati angin malam.

“Enggak Re, gak dapet restu.”

“I told you to do what you want Rak, not what they want.”

“Tapi restu juga penting Re, kalau mereka gak setuju gimana gue kuliahnya.”

“Jadinya apa? Hukum? Ekonomi?”

“Menejemen.”

“Ooh calon CEO, aku gak sengaja liat di tl twitter aku kamu udah berhasil ajak perusahaan lain kerjasama.”

“Keren.” puji Area.

Mereka berhenti diujung jembatan di tengah danau. Menikmati pemandangan malam yang begitu indah.

“Re, for what happen a years ago, i'm so sorry..” ucap Maraka langsung kepada intinya.

Area menoleh, tersenyum tulus. “Is not your fault Rak, jangan merasa bersalah gitu.”

“Tetep aja, gue gagal ngelindungin lo sebagai pacar pada saat itu Re..”

“Rak, please? Kamu gak gagal, aku tau kamu ngelindungin aku saat itu. Aku tau kamu udah do your best buat aku saat itu.”

“And Rak, jangan karena kejadian dulu kamu jadi takut buat ngepublish your relationship with your new girlfriend ya? That's make me sad.”

“I'm totally fine Rak, bahkan aku udah berdamai sama masa lalu. Now your turn ya?”

“Re..” lirih Maraka.

“Raka, ayo berdamai. Is not your fault for what happen a years ago. Emang mulut mereka aja yang jahat, i know you do your best to protect me, and that's enough. Not all of them hate me because mereka gak setuju sama hubungan kita, some of them emang benci aku aja.”

“Situasi juga udah berbeda Rak, lingkungan juga berbeda. You really love her right?”

Maraka mengangguk, “but i'm scared..”

“Eh, trust me, it wont happen again. Now, talk to her, tell her that you gonna publish your relationship.”

“Actually, we alredy broke up a week ago.”

Area menepuk jidatnya, “ah, i forgot. Arjuna alredy tell me about that, sorry.”

“Ajak balikan Rak, sebelum terlambat. Btw, who is she? Kali aja aku kenal kan.”

“Jihan Ayara.”

“Is she good?”

Maraka mengangguk, “she's the best. She always there for me whenever i need her.” jawab Maraka dengan senyuman.

“Good then. You're a good man that deserve a good girl too Rak.”

“May i see her pic?”

Maraka mengangguk. Ia mengeluarkan handphone nya dan membuka aplikasi gallery. Lalu membuka album foto yang dikhususkan untuk Jihan.

“Pretty, keliatan friendly juga.”

“What about you? Udah pacar belum Re? Gak mungkin gak kecantol cowok Singapore.”

“Actually i got engaged a month ago hehe. Cuma tunangan sih, nikahnya mah nanti.” jawab Area sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Ey congrast! Jangan lupa undang pas nikahan nanti.”

“Pasti lah, dan kamu harus dateng sama pasanganmu ya.” ledek Area.

“Iya deh. Who's the boy? Anak Singapore asli kah?”

Area menggeleng, “no, dia dari Indonesia juga sama kayak aku, cuma emang udah tinggal agak lama di Singapore. And he's really kind, and, rich.”

“Owh crazy rich Singapore.”

“Ahaha no.”

“Btw Rak, promise to me kalau kamu bakal perbaikin hubunganmu dengan Jihan ya? Aku tunggu kabar baiknya loh..”

Maraka mengangguk, “iyaa.”

Keduanya kembali berjalan mengelilingi taman sambil bercerita tentang kisah mereka dulu.

Setidaknya satu masalah telah usai, dan kini Maraka tinggal memperbaiki hubungannya dengan Jihan.

Maraka mengetuk kaca mobil Aruna setelah sampai. Gadis itu langsung membuka pintu mobil dan keluar.

“Hai, maaf ngerepotin..”

“Lo sendiri?” tanya Maraka.

Aruna mengangguk. “Hari ini perdana gue ngendarain mobil sendiri. Dan gue gak tau kalau ada masalah sama mobilnya, padahal papa gue make tadi pagi dan gak terjadi apa-apa.”

“Oh. Tunggu sebentar, orang dari bengkelnya masih otw. Lo tunggu di mobil gue aja.”

Aruna menggeleng, “no, gue ikut lo tunggu disini aja.”

“Btw Mark, lo yang ngewakilin buat grand opening our brand dua minggu lagi?” tanya Aruna membuka topik.

“Yang di Singapore? Iya.”

“Ah, sama. I don't know why mereka nge launching brand baru buru-buru banget.”

“Lo dateng nanti ke Singapore?”

Aruna mengangguk, “of course. Selain gue siapa lagi yang bakal dateng ngewakilin, mama papa sibuk sama perusahaan yang lain.”

“Kinda hard ngurusin perusahaan di usia gue yang masih baru mateng ini. Be honest sebenernya gue gak tertarik ngurusin beginian. Bahkan masuk ilmu menejemen bukan keinginan gue. Ya tapi gimana, selain gue siapa lagi yang bakal ngurusin perusahaan ortu haha.”

Maraka terdiam. Nasibnya sama dengan Aruna. Masuk jurusan menejemen dan melanjuti perusahaan orang tuanya juga bukan keinginannya. Bahkan Maraka harus membuang jauh-jauh cita-citanya menjadi dokter gigi.

“Life is hard.” ucap Maraka.

“Bahkan gue harus ngebuang jauh-jauh cita-cita gue buat jadi arsitek demi menuhin apa yang orang tua mau.” ujar Aruna, kali ini agak lirih.

Memang agak perih rasanya ketika mengingat sesuatu yang gagal ia raih hanya karena kemauan orang tua.

“Candy?” tawar Maraka.

“Thank you.” jawab Aruna sambil menerima permen pemberian Maraka.

“Mark sorry, can i ask you something? Ini agak privacy but, can i?”

Maraka mengangguk.

“Lo sama Jihan Ayara anak hukum ada hubungan ya?”

Maraka menoleh kaget, “enggak.”

Tadinya ada, haha. batin Maraka.

Aruna tersenyum puas, “ohh..”

“Itu orang dari bengkel?” tanya Aruna sambil menunjuk ke dua orang yang berjalan menghampiri mereka.

Maraka mengangguk, “pak!”