wnsscc

Abi dan Alin telah sampai di danau yang sering mereka kunjungi semasa SMP dulu. Danau yang tempatnya yang tak jauh dari sekolahnya dulu.

“Kangen ya kesini. Sejuknya masih sama.” ucap Abi, bibirnya tersenyum tipis sambil menikmati hembusan angin pagi.

Alin mengangguk, “kamu sih pake pindah. *Btw* apa yang mau kamu omongin Bi?” tanya Alin.

Abi menggigit bibir bawahnya, ia gugup, kakinya pun tak berhenti bergerak menandakan gugupnya Abi sekarang. Abi memiringkan tubuhnya, mengambil sebuah box dengan pita sebagai hiasan yang ia simpan di sampingnya.

“Buat kamu.” ucap Abi sambil menyodorkan box tersebut.

Alin mengerutkan dahinya, tangannya pun ragu untuk menerima barang tersebut, “buat aku?” tanyanya memastikan. Abi mengangguk.

Dengan ragu Alin menerima box tersebut, lalu melirik Abi yang memberinya isyarat untuk membuka box tersebut. Alin mulai membuka dengan melepaskan pita yang terikat di *box,* lalu membuka penutupnya dengan perlahan.

“Baju?”

Abi mengangguk, “buat kamu.”

“Dalam rangka apa Bi? Perasaan ulang tahun aku masih lama deh.” tanya Alin lagi, gadis itu terus melontarkan pertanyaan karena ia benar-benar bingung saat ini.

Abi terkekeh, cowok itu menggeleng. “Enggak dalam rangka apa-apa Lin, cuma mau ngasih aja. Oiya Lin,” cowok itu memotong potongannya.

“Kenapa Bi? Tapi terima kasih ya kadonya, lucu Bi bajunya.”

“Lin, kalau aku bilang aku masih suka sama kamu jawaban kamu apa?” tanya Abi berbasa-basi.

“Jangan suka aku Abi..” jawab Alin, gadis itu tak pernah lelah untuk mengatakan kalimat ini pada Abi.

Abi tersenyum miris, “masih belum bisa ya Lin?” tanya Abi.

Alin menggeleng, “bukan belum bisa Bi, tapi memang enggak bisa. Dari awal aku deket sama kamu, aku ‘gak pernah kepikiran sekalipun untuk jadiin kamu pacar. Kamu sahabat aku Bi, *************sahabat.*************”

Alin tertunduk, ia sedih, ia sedih bahwa setelah hari ini mungkin dia dan Abi tidak akan sama lagi seperti dulu.

“Aku minta maaf banget Bi kalo ini terdengar jahat banget buat kamu, tapi—aku punya pacar Abi.”

Deg! Rasanya seperti jatuh lalu tertimpa tangga. Setelah ditolak dan mendengar jawaban Alin yang terdengar begitu sakit untuknya, Abi harus mendengar kabar lain bahwa Alin sudah punya pacar.

“Siapa?”

“Satria. Satria Rakhabumi, teman dekat kamu dulu.” jawaban dari Alin yang membuat pria di sebelahnya tercekat.

“Dari kapan?” nadanya kini terdengar lirih.

“Semalam. Satria *******confess******* semalam Bi. Sebelum kamu nyalahin aku biar aku jelasin dulu ya Bi. Aku udah suka Satria sejak kita bertiga pergi ke pasar malam waktu kelas delapan dulu, tapi aku pendem Bi. Aku enggak berani cerita ke siapapun, bahkan kamu, apalagi setelah aku tahu Satria ternyata lagi deket sama anak kelas sembilan. Ditambah kamu *****confess***** ke aku waktu kamu kelas sepuluh, aku makin yakin buat pendam semuanya sendiri. Beberapa bulan terakhir aku sama Satria deket lagi Bi, dan aku masih ragu untuk cerita ke kamu apalagi kamu selalu terus terang soal rasa kamu ke aku. Kemarin setelah kamu ngajak aku pergi, Satria ada nge**chat** aku, dia ngajak makan di tempat yang biasa aku dan Satria datengin beberapa minggu terakhir. Disitu Satria ****nembak**** aku Bi, dan aku terima. Aku minta maaf karena terlalu tertutup sama kamu soal ini Bi, hal yang harusnya aku kasih tahu biar kamu berhenti berharap sama aku.”

“Jadi emang bukan aku ya Lin orangnya?” Abi mengalihkan matanya, akan semakin sakit jika melihat wajah Alin sekarang.

Abi menghembuskan nafasnya berat, momen ini sungguh berat untuknya, “selamat ya Alin.”

“Abi..”

Abi menoleh, menatap dalam gadis di hadapannya, “aku harap kamu dan Satria selalu bahagia, dan selamat atas kalian. Aku percaya Satria bisa jaga kamu.”

Abi mengulurkan tangannya, menandakan bahwa Abi ingin penolakan ini berakhir dengan damai.

Memang bukan Abi, bukan Abi yang sejak awal ada di hati Alin. Bagi Alin, Abi hanya teman dekat yang akan selalu berada diposisi itu. Tapi bagi Abi, Alin adalah cintanya, Alin adalah cinta pertamanya. Alin adalah wanita yang mampu membuat Abi jatuh begitu dalam.

“Bahagia ya Lin?”

Semua teman Jihan sudah berkumpul di stasiun. Tadi ayah sudah sempat mengunjungi dan mengantar Jihan, tapi langsung pergi karena ada keperluan.

“Bisa langsung masuk kereta aja gak sih? Gue ngantuk banget, tidur semalem cuma 4 jam.” keluh Arjuna.

“Lo duduk aja disitu, daripada bawel ngeluh mulu.” balas Lucas.

“Semua udah dibawa kan Ji?” tanya Shaka, Jihan mengangguk.

Sesaat setelahnya Winata datang membawa paper bag dan ia berikan ke Jihan, “buat dimakan di jalan.”

Hendery langsung melirik Maraka yang wajahnya langsung merah menahan cemburu.

“Thank you Win.”

“Gue gak bisa lama-lama karena harus pergi kerja, duluan ya Ji, semuanya.” pamit Winata lalu melengos pergi.

Shaka melirik jamnya, “dua puluh menit lagi kereta lo dateng, mending lo segera masuk deh.”

Jihan mengangguk, yang lainnya kecuali Calya membantu membawa barang bawaan Jihan.

Tepat sebelum check-in, Jihan berpamitan dengan semuanya. Ia memeluk teman-teman terdekat satu-persatu, begitupun dengan Arjuna yang ikut berpamitan walaupun hanya akan pergi selama beberapa hari.

Kini giliran Jihan permitan pada kekasihnya yang menatapnya dengan sendu. Jihan melebarkan tangannya, dengan cepat Maraka menghampirinya dan memeluknya dengan begitu erat.

“Hati-hati ya, selalu kabarin aku.”

“Iya..”

Setelah cukup puas untuk berpamitan, Jihan dan Arjuna mulai check-in sambil melambaikan tangannya pada teman-temannya.

“Jangan nangis Rak.” ledek Lucas.

“Apaansih lo.”

Maraka kembali dari tempatnya dengan setelah tidur yang nyaman. Sudah ada Jihan yang duduk menunggunya sambil menonton tv dan mengunyah cemilan.

“Ngunyah terus!” ledek Maraka.

Jihan terkekeh, ia menepuk sisi sofa disampingnya, “sini!”

Maraka langsung berlari kecil dan duduk manis disamping Jihan, menyenderkan kepalanya pada bahu Jihan.

“Bisa gak ya kamu gak usah pergi aja besok? Gak mau ditinggal kamu..” gumam Maraka dengan pandangan lurus ke depan.

“Enggak bisa dong Rak.”

Maraka memanyunkan bibirnya, “we’ve been together for almost sever years, we’ve meet almost every day, it’s hard to make a distance with you.”

“Kamu bisa Raka.”

“I cant taste your delicious breakfast anymore, no more morning hug, or lunch together. Susah buat terbiasa kayak sama kamu.”

“Kita bisa berkabar kok Rak, its hard, i know. Coba ya? Ini buat kepentingan aku juga kan.”

“Iya, kamu baik-baik ya disana, jangan lupain aku apalagi gak ngabarin aku. Nanti kamu aku datengin loh.”

Jihan terkekeh, “iya sayang.”

“Aku kesana kalau ada waktu luang, kalau gak ada juga aku ada-adain.”

“Ya jangan maksa juga dong Rak, mending disini temenin mama kamu.”

“Mama ngerti kok, aku udah coba ngomong kemarin. Dia juga paham pasti berat buat aku, kamu.”

“Thank you for being my life energy for this sever years. Aku harap kamu tetap jadi energi aku walaupun kamunya jauh disana.” sambung Maraka.

“I love you in every distance we’re apart.”

Winata melambaikan tangannya ketika melihat Jihan yang tengah mencarinya.

“Kalau kamu ngobrol berdua sama Winata gapapa Ji, aku tunggu di cafe lain.” ucap Maraka.

“Hah ngapain? Kamu ikut aku.”

Jihan menarik tangan Maraka, membawanya menuju Winata yang sudah menunggunya.

“Win, apa kabar?” tanya Jihan.

“Baik Ji, lo sama Maraka gimana?”

“We’re good.”

“Duduk, duduk. Kalian mau pesen apa? Biar gue pesenin bareng sama pesenan gue.” tawar Winata.

Jihan melirik seolah bertanya gapapa? Winata mengangguk kecil. Bagaimanapun mereka pernah bersama, bahasa tubuh masing-masing pun rasanya sudah paham.

“Kamu mau pesen apa Rak?” tanya Jihan sambil menoleh ke Maraka yang sedaritadi hanya diam saja.

“Samain aja sama kamu.”

“Okey, ice green teanya dua deh Win. Itu aja.”

Winata mengangguk, lalu berlalu pergi ke dalam memesan pesanan.

Tanpa aba-aba Maraka menarik telapak tangan Jihan menuju pahanya, menggenggam bahkan mengelusnya.

Jihan paham, Maraka selalu begini setiap mereka bertemu dengan Winata. Jihan tersenyum mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa saat kemudian pria berjas dokter itu kembali dengan membawa pesanan mereka.

Penampilan Winata saat ini mampu membuat siapapun yang melewatinya terpana. Jas dokter dengan kacamata dan rambur rapihnya, bahkan membuat Maraka sedikit cemas pacarnya akan ikut terpana.

“Kapan berangkat Ji?”

“Besok Win.”

“Wow cepet juga ya, Jogja daerah mana?” tanya Winata.

“Di deket tempat KKN kita dulu tuh, gak nyangka banget bakal dapet disana.” jawab Jihan. Mereka sempat satu kelompok saat KKN dulu, tanpa Maraka.

Winata menunjukkan wajah antusiasnya, “wah enak dong, disana kan sejuk banget ya. Deket juga sama kota.”

“Iya.”

“LDR dong kalian nanti?”

Jihan mengangguk, “tapi bakal sering ketemu sih kayaknya.”

Jihan mengatur nafasnya perlahan sebelum menghampiri Maraka yang sudah menunggunya di ruang tamu.

“Rak, maaf lama.”

“Gapapa, kondisi kamu udah membaik?” tanya Maraka sambil mengisyaratkan Jihan untuk duduk disampingnya.

“Udah, dont worry. Terimakasih juga ya udah khawatirin aku semaleman.”

Maraka mengangguk, menatap manik gadis disampingnya yang terlihat cukup gugup. “Mau ngomong apa? Is something happen?”

“Raka, maaf.”

“Sorry for what?” Maraka menaikkan satu alisnya.

“Jadi begini..

Aku keterima kerja Rak, tapi bukan disini, bukan di Jakarta. Cukup jauh walaupun masih di dalam Pulau Jawa.”

“What? Where?”

“Jogja. Kamu tau kan mama sama Jiel juga disana? Aku sekalian nemenin mereka. Jiel juga udah mau skripsian kan ya, jadi mungkin aku bisa bantu dia. Papa disini udah ada Bang Tama, papa juga setuju kalau aku ambil kerja disana sekalian nemenin mama. Maaf, maaf baru bilang sekarang.”

Maraka masih terdiam, benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan terpisah jarak.

“Kapan? Kapan kamu pindah?”

“L-lusa.”

“HAH? SECEPAT ITU?”

“Iya, aku udah dapet tiket, udah beberes barang walaupun ada beberapa yang belum sih. Semalem aku gamau ketemu kamu dulu karena aku bingung, bingung gimana cara bilangnya.”

Maraka seperti menjernihkan pikirannya, benar-benar kaget mendengar jadwal keberangkatan Jihan yang tidak ada seminggu lagi.

“Ji.. kenapa tiba-tiba banget?”

“Aku minta maaf, aku gak tega bilangnya ke kamu.”

Maraka menghela nafasnya berat, “ok, its your decision and i respect it. Tapi inget Ji, jangan putus komunikasi sama aku.”

“Pasti.”

“Dan jangan cari cowok lain. Aku bakal sering-sering ke Jogja buat ketemu kamu, gonna miss u so bad.”

Jihan memainkan ibu jarinya untuk menghindari perasaan gugup yang menyerang. Disampingnya ada Daksa yang hanya tertunduk sambil memainkan ponselnya.

“Udah putus kak?” tanya Jihan membuka percakapan.

“Proses, lagi berantem ini juga.” jawab Daksa santai yang membuat Jihan hampir melepas tawanya. Entah mengapa jawabannya terdengar sangat lucu.

Klek!

Pintu ruangan terbuka, menampilkan pria tua dengan tongkat yang memopongnya untuk berjalan. Aura tegasnya sudah terpancar ke seluruh ruangan, membuat kedua manusia yang tadinya cukup santai kembali gugup.

“Maaf sudah memanggil kalian lebih awal dari hari yang ditentukan.”

Ia duduk diseberang Jihan dan Daksa yang sibuk merapihkan pakaian.

“Bagaimana progresnya? Sudah h-5.”

“Lagi berantem, paling besok putus.” jawab Daksa lagi-lagi dengan santainya. Tapi Jihan sadar, raut wajah Daksa yang menampilkan kesedihan dengan mata yang cukup sembab.

Kakek melirik ke ara Jihan, “saya.. Masih gitu-gitu aja sama Maraka. Susah pak, Maraka selalu punya cara buat nyelesain masalah dan maafin saya.”

Pria dengan tahi lalat dipinggir mulut itu menghela nafasnya. “Masih ada lima hari, kamu pikirkan bagaimana caranya.”

“Saya juga sudah menyiapkan semuanya, terkhusus kamu Daksa, kamu bisa bawa adikmu mulai perawatan lusa. Akan saya biayai secara rutin dan soal pekerjaan dan tempat tinggal sudah aman. Saya tidak akan mengganggu kalian lagi asal kalian juga tidak melanggar perjanjian kita.” sambungnya. Daksa hanya mengangguk pasrah.

“Dan kamu Jihan, benar hanya tidak ingin tempat tinggal dari saya? Tidak akan saya pungut biaya apapun asal kamu patuh.”

Jihan menggeleng, hadiah dari perjanjian mereka hanya mereka tidak akan menganggu ayahnya lagi. Dan pekerjaan hanya bonus dari keputusan beratnya. Maraka pasti akan sangat marah jika mengetahui hubungan mereka hanya dihargai dengan sesuatu yang mungkin Maraka bisa berikan.

“Saya ucapkan maaf yang sebesar-besarnya pada kalian. Saya tau ini pasti berat banget, hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun harus kandas karena pernjanjian saya dahulu. Terimakasih juga sudah menjadi pengkabul kesepakatan ini, terimakasih dana maaf. Saya harap apa yang saya kasih sepadan ya.”

Daksa melirik Jihan sebentar yang sedaritadi hanya tertunduk lesu tanpa bicara banyak.

Tidak akan mudah untuk mereka melepaskan.

Aku menatap manik mata yang penuh ke khawatiran di depanku. Dengan jari-jari yang menyatu, mengepal, serta bibir yang tak henti merapalkan doa, dan aku yang hanya bisa duduk, tertunduk, tapi dengan keheranan dengan mengapa aku ada disini.

“Sya, ceritakan tentang yang sebenarnya terjadi didalam nanti ya. Mas percaya kamu gak bersalah, tindakanmu sudah benar. Tinggal membuka hati mereka dengan fakta yang sebenarnya saja yang akan menjadi tugasmu didalam nanti.” ucapan pendukung yang datang dari bibir masku membuatku agak bernafas lega.

Aku tidak takut, mengapa harus takut? Aku tidak salah, para pelaku yang ku hajar dua hari lalu lah yang seharusnya merasa takut dan bersalah. Lagi semua orang—kecuali mereka yang termakan omongan dan uang yang manis pasti akan percaya padaku dan korban.

Beberapa saat kemudian, sapaan dengan suara lemah itu menyapa telingaku. Berdiri gadis sebayaku dengan wajah pucatnya tersenyum manis padaku, “terimakasih ya Hasya sudah membelaku sampai segininya. Maaf sudah melibatkanmu sampai sejauh ini.”

Aku berdiri, mensejajarkan diriku dengannya, mengusap pelan punggungnya, “sama-sama. Kamu gak perlu takut, kamu tidak bersalah disini, malah kamu korban. Aku yakin, akan ada keadilan disini, hari ini.” aku menenangkannya, ia hanya mengangguk pelan.

Wanita paruh baya muncul dari belakangnya, tingginya lebih pendek dariku atau temanku. Ia tersenyum dengan begitu tulus padaku, “terimakasih ya nak, terimakasih sudah menyelamatkan Gita semalam. Saya sekeluarga benar-benar berhutang budi pada kamu.”

Aku mengangguk bangga. Aku sudah menyelamatkan hidup seorang gadis remaja, jadi apa yang harus aku takutkan mengenai apa yang akan terjadi didalam sana nanti?

“Kakaknya nak Hasya ya? Kenalkan, saya Fitri, ibu kandung Gita. Saya ingin berterimakasih dengan sungguh-sungguh. Kamu mempunyai adik yang hebat dan pemberani.” lagi-lagi pujian terdengar dari lisan wanita itu. Masku langsung menoleh dan tersenyum bangga, rasanya kekhawatiran itu sudah hilang dengan cepatnya.

Pintu ruangan didepanku terbuka, menampakkan wanita paruh baya dengan pakaian rapih mempersilahkan kami masuk. Saat diri ini sudah selangkah berada di dalam, pandanganku langsung terpaku pada cowok dengan pakaian urak-urakan yang asik duduk bersantai sambil menyeringai menatapku.

Tengil. kata pertama yang keluar dari benakku setelah melihatnya.

Perempuan tadi mempersilahkan kami duduk, aku berhadapan dengannya saat ini, si tengil itu. Mataku tak hentinya menatap tajam cowok berandal itu. Sedangkan Gita yang kini duduk disampingku, hanya tertunduk tak berani menatap siapapun kecuali diriku dan ibunya.

“Sudah berkumpul semuanya ya?” itu suara kepala sekolahku. Entah mengapa aku menjadi kurang suka padanya semenjak kejadian acuhnya dia terhadap korban bully di sekolah ini.

“Saya pribadi sudah mendengar cerita dari nak Joshua mengenai kejadian dua hari lalu, dan keluhan tentang babak belurnya Joshua karena dipukuli kamu, apa benar itu nak Hasya?”

Aku memutar bola mataku, “saya gak bakal nyerang seseorang tanpa alasan yang kuat. Bisa-bisanya bapak masih bertanya dan mengumpulkan kami disini padahal jelas-jelas Joshua yang bersalah dan sudah penuh dengan bukti.”

“Saya gak akan nyerang Joshua kalau dia tidak berusaha melecehkan Gita dihadapan saya.” pembelaan dan buktiku sudah kuat, aku yakin aku akan menang hari ini.

Pandangan kepala sekolah berganti pada Gita yang sedang tertunduk menahan tangis. “Kalau kamu Gita? Apakah kamu merasa dilecehkan?”

“PAK!” refleks aku berteriak, demi Tuhan aku baru pertama kali mendengar pertanyaan bodoh seperti ini.

“Kamu jangan berperilaku tidak sopan, gurumu sedang bertanya, dimana sopan santunmu itu?” kali ini pertanyaan tidak mengenakkan itu datang dari ibu Joshua, ia menatapku sinis sekali.

“Kalau saya balik bertanya dimana akal sehat putra ibu sampai melakukan hal sebejat itu apakah termasuk tidak sopan?” matanya langsung melotot sempurna, begitu juga dengan Joshua yang langsung menatapku dengan amarah.

Masku hanya diam sedaritadi, membiarkanku membela diriku dan Gita. Tugasnya disini hanya mengawasi diriku agar tidak lepas kendali dan melakukan hal bodoh. “Sudah-sudah jangan bertengkar seperti ini, kita masih menunggu jawaban dari nak Gita.”

“Gapapa Ta, keluarin aja semuanya.” bisikku pada Gita.

Gita menarik nafasnya dalam, ia harus berani, karena ceritanya hari ini akan berpengaruh dengan keputusan nanti. “Bapak masih bertanya apakah saya merasa dilecehkan padahal jelas-jelas ada bukti video dimana saya meronta-ronta minta dia berhenti? Pertanyaan yang seharusnya bapak lontarkan disini adalah apakah pelaku merasa bersalah? Kalau bapak dan kalian semua ingin menyalahkan Hasya atas perilakunya yang memukuli Joshua, kenapa kalian tidak menyalahkan Joshua atas perilaku bejatnya? Apa karena ia donatur tertinggi sekolah sedangkan saya dan Hasya hanya anak beasiswa?

Padahal sudah ada bukti jelas mengenai kejadian hari itu, lantas apa yang perlu diluruskan lagi? Lalu kenapa pelaku masik asik berkeliling sekolah sedangkan saya disini berusaha mengobati trauma saya? Bahkan tidak ada permintaan maaf apapun yang keluar dari bibir pelaku, benar-benar tidak tahu diri.

Dia merasa dirinya berada diposisi aman hanya karena posisi orang tuanya di sekolah, tanpa tahu sanksi sosial yang akan terjadi kedepannya.”

Kali ini ibu Joshua yang angkat bicara, “tapi apa dengan memukuli anak saya hingga babak belur harus menjadi keputusan? Kamu sudah melakukan kekerasan terhadap anak saya, dan saya tidak terima itu. Saya bisa saja melaporkan hal ini!”

Aku terkekeh, entah mengapa hal ini terdengar sangat lucu. “Ibu bisa melaporkan saya sebagai kasus kekerasa, tapi saya juga bisa melaporkan Joshua karena kasus pelecehan. Bagaimana bu? Jadi meneruskan kasus ini ke ranah hukum?”

Masku tersenyum simpul, ia begitu bangga padaku saat ini. Kekhawatiran tadi terasa sangat sia-sia melihat kondisiku saat ini.

tw // mention of abuse , family issues

Baru saja Kaia keluar dari rumahnya, mobil putih Heza sudah terlihat terparkir di depan rumahnya.

Sang pemilik pun sedang berdiri di depan mobilnya sambil melambaikan tangan, Kaia hanya membalasnya sambil tersenyum.

“Kenapa jemput aku? Kan aku bilang gak usah Hezaa.”

“Gapapa, ayo masuk!”

Sesampainya di dalam mobil, Heza memberikan plester pada Kaia untuk dahinya yang terluka.

“Heza..”

Heza mengambil kembali plesternya dari tangan Kaia, membukanya dan memakaikannya di dahi Kaia. “Sakit ya?”

Kaia mengangguk dengan matanya yang sudah perih menahan air mata.

“Kamu kuat ya Kaia, aku kagum.”

“Kayak neraka Za.. Aku tau sekarang kenapa abang gak betah di rumah mama.”

Kepalanya tertunduk, “tadi aku dilempar gelas, ditampar, sakit..”

Seperti tak ingin menyembunyikannya, Kaia menceritakan semuanya pada Heza, rumahnya yang sebenarnya.

Heza langsung memeluk gadis itu erat-erat, mengelus kepala dan punggung gadis itu secara bergantian. Membiarkan perempuannya menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.

“Aku sayang bunda.. tapi kenapa bunda jahat banget Za. Perih banget Za dijadiin pelampiasan bunda..”

Heza tidak melepaskan pelukannya sampai Kaia benar-benar tenang, ia membiarkan Kaia menangis dan yang ia hanya lakukan hanya menenangkannya.

“Nanti kita kompres ya luka lebamnya.”

“Kok bunda jahat banget ya Za? Aku anaknya loh, aku juga mau dipeluk bunda kayak anak-anak lain.”

Keluhan tak henti-hentinya keluar dari bibir Kaia. Semakin sakit keluhannya, semakin erat pelukan yang Heza berikan.

“Aku mau kabur aja rasanya dari rumah, tapi bunda lagi sakit. Nanti yang rawat bunda selain aku siapa? Sejahat-jahatnya bunda aku gamau bunda kenapa-napa.”

“Nanti kalau Kai dipukul lagi bilang aku ya, nanti aku dateng.”

Kaia mengangguk, lalu melepaskan pelukan mereka. Matanya sudah sembab, dan jemari Heza menjelajah wajah Kai mengusap sisa-sisa air mata.

“Heza, aku laper.”

Heza tersenyum, “mau makan apa?”

“Masakan kamu aja gimana? Kangen masakan kamu.” jawab Kaia.

“Yaudah.”

Kaia menyenderkan tubuhnya pada kursi mobil, mengarahkan kepala dan tatapannya pada Heza yang sedang menyetir.

“Kenapa?” tanya Heza dengan sedikit menoleh.

“Itu pelukan kedua kita setelah kamu pertama kali meluk aku waktu aku lulus sbm tau, salting loh aku.”

“Peluk aku lagi dong nanti kakak Heza.”

“Gausah aneh-aneh.”

“Udah jam setengah sepuluh lewat, pada mau balik gak?” tanya Aqil.

“Eh iya dah, balik sekarang aja yuk. Besok sekolah coy.” jawab Abina.

“Yaudah balik-balik, kita lanjut main kapan-kapan aja.” Ahmad menimpali.

“Ra, lo yakin mau nganter gue pulang terus balik semalam ini?” tanya Asya.

Haura mengangguk, “gue yang udah ngajak dan jemput lo, harus gue juga dong yang nganter lo balik.”

“Sya, bawa motor?” itu suara Nathan.

Asya menggeleng, “bareng Haura gue. Bawa motor dia.”

“Yakin Ra? Nanti lo balik gimana? Sendiri gitu?”

“Iyalah, masa gue nyuruh Asya nganterin gue pulang, gak selesai-selesai nanti.” jawab Haura sambil memasang helm di kepalanya.

“Jalanan rumah Asya serem kalo malem, lo yakin? Asya sama gue aja dah.” ujar Nathan.

“Terus si Raky? Gila ye lo ngajak anak orang tapi gak nganterin balik.” jawab Haura.

“Raky sama lo, rumah lo berdua kan deket, searah, enak lah.”

“Raky!” panggil Nathan.

Yang dipanggil namanya langsung menghampiri Nathan. “Kenapa Nath?”

“Lo balik bareng Haura ya, bawa motor kok dia. Nah gue nganter Asya, rumahnya lumayan jauh. Kasian kalau Haura yang nganterin, udah malem.”

Gue belum iyain? Nathan gajelas. batin Haura.

“Hauranya mau? Kalau gamau gapapa, nanti aku bisa naik ojol.”

Haura tidak enak hati, dari blok m ke tempat mereka berdua lumayan jauh, lumayan juga kalau harus naik ojek online.

“Ya boleh deh. Bawa helm gak lo?”

Rakyan mengangguk, lalu menunjukkan helm yang berada ditangannya.

Sedangkan Asya hanya diam, dia hanya orang yang butuh tumpangan saat ini, jadi dengan siapapun asalkan selamat sampai tujuan akan ia iyakan.

Setelah semuanya berpamitan, mereka menuju kendaraan masing-masing, ada yang menunggu jemputan dan ditemani oleh Awan dan Aqil yang akan pulang terakhir.

“Ky, nanti kita mampir tukang bensin bentar ya, tinggal sedikit, takut gak nyampe.”

“Iya Haura. Makasih ya udah mau ngasih tumpangan gini.”

Kini hanya tersisa Haura dan beberapa murid lainnya di depan gerbang sekolah. Haura masih bimbang akan dengan apa dia pulang. Mau naik ojek online tapi saldonya tidak mencukupi, belum lagi tunainya sudah habis. Mau naik Transjakarta tapi bus tak kunjung datang.

“Bisa-bisa gue pulang bareng sama Asya deh jam 4 nanti kalau gak kunjung pulang gini.” gumam Haura resah.

“Halo Haura.” sapaan sekaligus tepukan tiba-tiba dari belakang.

“Raky, kaget.”

“Eh, maaf-maaf. Aku gak maksud Ra.”

“Gapapa. Kenapa Ky?” tanya Haura pada Rakyan yang kini telah berdiri disampingnya.

“Kamu gak pulang?”

“Bukan gak pulang, gue bingung mau pulang naik apa.” jawab Haura.

“Emang biasanya pulang naik apa?”

“Biasanya gue tuh bareng Asya Ky, nebeng pake motor dia. Tapi Asyanya lagi ada rapat osis sampai jam 4 nanti.”

“Oh begitu, emang rumahmu dimana Ra?”

“Di komplek Dream Ky, agak jauh dari sini. Lumayan juga kalau pulang jalan kaki.”

Rakyan menoleh kaget, “samping komplek rumahku dong Ra. Aku komplek Neo, mau bareng aja apa?”

“Lo naik apa emang balik?” tanya Haura.

“Naik Transjakarta Ra, tapi gak dari sini, dari halte depan Warung Padang. Kalau dari sini lama Ra, kalau dari sana cepet, banyak bus yang dateng juga. Mau bareng?”

Haura mengangguk, “boleh. Kebetulan aku abis isi saldo cardnya kemarin.”

“Yaudah ayok!”


Haura melambaikan tangannya pada Rakyan karena ia telah sampai di halte depan kompleknya. Alih-alih membalas sapaan Haura, Rakyan malah ikut turun bersamanya.

“Loh Ky? Kok ikut turun?”

“Aku mau makan bakso di deket komplek sini, laper.” jawab cowok itu dengan senyum cerianya.

“Komplek Mang Dadang ya?”

“Iya, kamu tau Ra?”

“Eh gue juga sering disana. Jadi ikut laper juga jadinya kan..”

“Yaudah ayo makan bareng aja Ra.”

Haura menggeleng, “uang aku kurang Ky. Nanti malem aja lah aku beli sendiri.”

“Biar aku traktir. Sekaligus tanda terimakasih karena kamu udah mau temenan sama aku sih.”

“Ayo Haura!” seru Rakyan sambil mendorong pelan punggung Haura dengan tangan kanannya.