wnsscc

Kesempatan

Aruna memasuki mobil Maraka dengan penuh rasa senang. Akhirnya ia maju satu langkah untuk lebih dekat dengan Maraka. Apapun maksud Maraka mengajaknya pergi hari ini ia tidak peduli, yang penting ia bisa bersama Maraka.

“Aku ada beli minum buat kamu, diminum ya.” ujar Aruna dengan manisnya sambil menyodorkan sebotol minuman pada Maraka.

Maraka mengambil nya, wajahnya sama sekali tak menoleh pada Aruna. “Makasih.”

“Hari ini mau kemana Mark?”

“Terserah lo.” jawab Maraka dengan cueknya.

Aruna menghela nafas, ia harus terbiasa dengan sikap Maraka yang belum luluh padanya. “Ke pantai aja yuk? Aku lagi pengen cari angin disana.”

“Masih siang, panas.”

“Hm, ke timezone aja deh, tapi sorenya ke pantai ya? Please?” pinta Aruna.

Maraka menghela nafas berat, “iya, tapi jangan lama, gue ada janji sama temen.”

“Yey!”

Aruna memasang sealt beltnya dan Maraka langsung menancapkan gasnya.

Ditengah perjalan hanya Aruna yang membuka percakapan, Maraka hanya menjawab seadanya dan tidak pernah membuka topik apapun.

Saat ingin menaruh sesuatu dikursi belakang, Aruna melihat secarik foto yang langsung ia ambil.

“Kamu.. Punya pacar Mark?”

Maraka menoleh, ia langsung mengambil foto tersebut setelah melihatnya. Foto ia dan Jihan yang diambil beberapa minggu lalu di taman dekat kampus.

“Pacar kamu?”

“Mantan.”

Tapi soon balikan. batin Maraka.

Aruna menghela nafas lega, setidaknya ia tidak sedang mengejar pacar orang.

Dan mungkin saja Maraka cuek begini karena belum move on dari mantannya, dan ini adalah kesempatan Aruna untuk masuk kehidup Marka dan menjadi sosok pengganti untuk nya.

–wnsscc

Diam-Diam Perhatian

Ini sudah hari kelima sejak Jihan memutuskan untuk rehat dari hubungannya dengan Marka. Keduanya benar-benar menjauh, bahkan ketika bertemu hanya ada lirikan dari keduanya.

“Cal, kangen Marka,” keluh Jihan lalu menyenderkan kepalanya pada bahu temannya itu.

“Kangen, kangen, baikkan mending Ji, gak lo banget ngajak break gini.”

“Ish lo tuh gak ngerti. Gue tu capek ngejalanin hubungan diem-diem gini, mana lagi dia keciduk sama cewek dan gak mau jujur.”

“Eh kunyuk, lo tau gak Maraka tu beberapa hari ini kacau parah gara-gara lo. Kata Dery Maraka jadi lebih sering mabok trus balap-balapan, mana dia mulai ngerokok.”

Jihan mengangkat kepalanya dari bahu Calya, “demi apa? Liar amat buset, dosanya udah berapa itu ya?”

“Misi neng-neng, nih snacknya.” sela Harsa yang tiba-tiba datang dengan dus berisi snack.

“Makaci Harsa jelek.” sahut Calya sambil menerima sebungkus plastik.

“Makasi Harsaa.”

“Widih ada roti, aqua, risol, berasa abis arisan gak si?”

Jihan mengambil sepotong roti isi sebagai hidangan pertamanya, dan menaruh makanan yang lain diatas rerumputan.

“Jangan dimakan, isinya kacang.” ujar seseorang dengan suara berat.

“Tukeran sama risol aku aja Han, kamu alergi kacang.” sambungnya.

Iya, orang itu Maraka.

Marka langsung mengambil roti Jihan dan menukarnya dengan risol miliknya, lalu pergi begitu saja.

“Belum sempet gue jawab udah dicomot aja.. Tapi lumayan si risol hehehe.”

“Mending lo baikkan deh Ji, kasian Marka tulus begitu lo ajak break.” timpal Calya.

“Gak tau deh, tapi gue kangen dia banget asli. Gue cuma pengen dia jujur plus sadar diri bahwa backstreet ini membunuhku.”

Jihan lanjut menyantap semua snack yang ia dapatkan. Mumpung sedang istirahat jadi ia mengisi perutnya dengan banyak makanan.

“Jihan, abis makan langsung ngumpul di bawah pohon sana ya, mau pembagian games.” ujar Winata tiba-tiba.

“Iya Win, gue abisin makanannya dulu ya.”

“Santai aja, yang penting nanti nyusul ya.”

“Siap Winwi- Maksud gue Winata.”

Winata tersenyum, “mau manggil Winwin juga gak apa-apa, senyaman lo aja, gue duluan ya!”

“Ji, lo bisa moveon dari modelan Winata? Kok bisa sih?” tanya Calya selepas kepergian Winata.

“Bisa, tapi susah bro, butuh 1 tahun buat move on dari Winata.”

–wnsscc

Sore

TW ; Sexual Assault

Jihan berdiri kikuk didepan Mall sendirian. Calya pamit pulang terlebih dahulu karena urusan mendesak di rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 dan Marka sama sekali tidak bisa dihubungi, kuota HPnya pun ikut habis.

Jihan memberanikan untuk berjalan kaki sendiri menuju jalan raya ramai untuk mendapatkan kendaraan umum.

Sore itu keadaan jalan yang Jihan lewati sepi, hanya ada bangunan tak berpenghuni dan sekelompok bapak-bapak diujung jalan yang sedang bermain catur.

“Neng cantik, sendirian aja nih. Sini abang temenin hahaha.” goda seorang bapak-bapak dengan perut agak buncit.

“Alus amat pak, gaskeun mumpung istri lagi kerja ye. Mending sama saya neng, jomblo hahaha.”

Jihan berusaha menghiraukannya, ia mempercepat jalannya.

Sampai ada seorang pria kurus mengenggam lengan Jihan, menahannya. “Ayo dong temenin kita sampe malem aja, aman kok aman.”

Jihan berusaha melepaskannya, lalu berlari sekuat mungkin untuk menghindar. Pria itu mengejar. Tidak ada inisiatif untuk menolong dari bapak-bapak yang lain.

Jihan sempat terjatuh saat tersandung kakinya sendiri, dan pria itu sedang berdiri dihadapan Jihan dengan penuh kengerian.

“Berulah lagi, balik lo!” seru seseorang yang membuat pria itu langsung berbalik pergi.

Jihan menoleh, berdiri dibaliknya seorang cowok dengan almet kampus yang sama dengan miliknya.

“Gapapa? Eh Jihan?”

Jihan mendapat uluran tangan yang membantunya berdiri. “Winata?”

Cowok itu mengangguk, “udah lama ya gak ketemu, apa kabar?”

“Baik Win, makasih ya udah nolongin.”

Winata mengangguk. Pandangannya teralih pada lengan dan lutut Jihan yang berdarah dan ada yang tergores.

“Ikut gue Han sebentar.”

Jihan tak merespon, wajahnya bingung dengan ucapan Winata barusan.

“Itu luka lo gue bantu obatin, bisa infeksi kalau didiemin.” jawab Winata.

Jihan mengangguk, lalu mengikuti Winata dari belakang dengan jalannya yang terpincang-pincang.

Perbincangan.

Selepas mengantar Jihan Marka memutuskan untuk mencari makan ke restauran terdekat.

Saat ingin memasuki restauran ia merada ada yang mencolek punggungnya.

“Haloo!”

Orang itu adalah Aruna Adhisty, perempuan yang akan dijodohkan dengannya. Gadis itu melambaikan tangannya menyapa.

“Beneran kan kamu Maraka.”

Marka menautkan kedua alisnya, bisa-bisanya ia bertemu dengan Aruna ditempat seperti ini.

“Ketemu lagi kita, kamu mau makan disini ya?”

“Menurut lo?”

“Yauda di ish santai aja dong jawabnya. Aku juga mau makan disini, bareng yuk?” tawar Aruna.

“Males.” Cowok itu melengos pergi tanpa memperdulikan Aruna. Tapi gadis itu pantang menyerah, ia mengintili Marka dari belakang.

Selesai mendapatkan pesanannya Marka menuju tempat dekat jendela untuk makan. Baru memulai suapannya Aruna datang dengan makanannya dan ikut duduk didepan Marka.

“Aku makan disini yaa.”

“Selamat makan Maraka!”

Marka tak merespon, ia diam saja, jika diladeni gadis ini pasti akan keras kepala.

“Oiya Maraka, kenapa semalem kamu gak pulang? Kakek kamu sampe nanyain aku tau gak. Mana kamu main pergi aja pas dinner, pada khawatirin kamu tau.”

“Kepo.”

“Cuek banget sih kamu, susah banget di deketin heran. Cuma kamu tau gak yang nolak dijodohin sama aku, biasanya aku yang nolak.”

“Berisik.” balas Marka.

“Nyenyenye, aku ngomong mulu biar gak canggung. Kenapa si kamu pake nolak-nolak perjodohan segala?”

“Ogah gue sama lo.”

Aruna cemberut, lagi-lagi dirinya tertolak Marka.

Mereka sama-sama diam untuk beberapa saat, sampai secara sengaja tangan Aruna terulur menuju rambut Marka seperti mengambil sesuatu.

“Ngapain sih? Gak sopan lo.”

“EH MAAF, ini ada sesuatu di rambut kamu, aku bantu ambil doang, maaf yaa.”

“Tau gak? Aku lagi jalanin sebuah misi tau. Kamu mau tau gak misi apa?”

Marka tak menjawab, hanya melirik sesaat.

“Misi membuat kamu jatuh cinta sama aku, jiakhh.”

“Ngimpi.”

–wnsscc

Sore

TW ; Sexual Assault

Jihan berdiri kikuk didepan Mall sendirian. Calya pamit pulang terlebih dahulu karena urusan mendesak di rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 dan Marka sama sekali tidak bisa dihubungi, kuota HPnya pun ikut habis.

Jihan memberanikan untuk berjalan kaki sendiri menuju jalan raya ramai untuk mendapatkan kendaraan umum.

Sore itu keadaan jalan yang Jihan lewati sepi, hanya ada bangunan tak berpenghuni dan sekelompok bapak-bapak diujung jalan yang sedang bermain catur.

“Neng cantik, sendirian aja nih. Sini abang temenin hahaha.” goda seorang bapak-bapak dengan perut agak buncit.

“Alus amat pak, gaskeun mumpung istri lagi kerja ye. Mending sama saya neng, jomblo hahaha.”

Jihan berusaha menghiraukannya, ia mempercepat jalannya.

Sampai ada seorang pria kurus mengenggam lengan Jihan, menahannya. “Ayo dong temenin kita sampe malem aja, aman kok aman.”

Jihan berusaha melepaskannya, lalu berlari sekuat mungkin untuk menghindar. Pria itu mengejar. Tidak ada inisiatif untuk menolong dari bapak-bapak yang lain.

Jihan sempat terjatuh saat tersandung kakinya sendiri, dan pria itu sedang berdiri dihadapan Jihan dengan penuh kengerian.

“Berulah lagi, balik lo!” seru seseorang yang membuat pria itu langsung berbalik pergi.

Jihan menoleh, berdiri dibaliknya seorang cowok dengan almet kampus yang sama dengan miliknya.

“Gapapa? Eh Jihan?”

Jihan mendapat uluran tangan yang membantunya berdiri. “Winata?”

Cowok itu mengangguk, “udah lama ya gak ketemu, apa kabar?”

“Baik Win, makasih ya udah nolongin.”

Winata mengangguk. Pandangannya teralih pada lengan dan lutut Jihan yang berdarah dan ada yang tergores.

“Ikut gue Han sebentar.”

Jihan tak merespon, wajahnya bingung dengan ucapan Winata barusan.

“Itu luka lo gue bantu obatin, bisa infeksi kalau didiemin.” jawab Winata.

Jihan mengangguk, lalu mengikuti Winata dari belakang dengan jalannya yang terpincang-pincang.

Rehat

“Yang nganterin kamu barusan Winata? Ngapain kamu sama dia?” tanya Marka sepulangnya Jihan.

“Gak sengaja ketemu, kamu abis ngapain? Ketemu cewek, ngobrol-ngobrol, elus-elusan kepala sampe masuk base iya?”

Marka menautkan kedua alisnya, base apa? Ia belum sempat mengecek twitternya sejak tadi.

“Kok kamu malah ngalihin topik si Han, siapa yang abis ketemu cewek? Yang ada kamu yang ditawarin pulang sama Winata mau aja padahal ada aku.”

Jihan berdecak, “kamu cek HP kamu, udah berapa kali aku kamu aku chat dan telfonin.”

“Ya kan bisa kabarin Dejun, Lucas, atau Hendery Jihan, kenapa harus Winata sih?”

“Kamu alergi banget ya Mark sama Winata? Harusnya kamu bersyukur kalau gak ada Winata disana mungkin sekarang aku gak ada disini.”

Sorot mata Jihan menatap Marka tajam. “Bahkan kamu gak sadar sama luka luka di lengan dan kaki aku Maraka, karena yang kamu pikirin cuma aku dibonceng Winata.”

Marka merubah pandangannya menuju lengan dan kaki Jihan. Benar saja, banyak goresan luka dan sebuah luka agak besar yang dilapisi hansaplast.

“Kamu kenapa? Jatuh?”

“Tanya Winata ajalah sana, capek aku.” jawab Jihan lalu melengos pergi.

Tapi Marka menahannya terlebih dahulu, ia menggenggam lengan Jihan. “Apaansi Han? Aku nanya kamu malah kayak gini, kamu kenapa si?”

“Kamu masih belum mau jelasin abis darimana dan sama siapa? Kamu Marka yang jadiin Winata sebagai pengalihan topik.”

Marka meneguk salivanya, darimana Jihan tahu? Dan tadi ia mendengar nama base? Base kampus?

“Diem kan kamu. Kamu suka marah aku deket-deket Winata padahal kita udah lost contact dari 1 tahun yang lalu. Tapi kamu malah jalan sama cewek yang bahkan aku gak tau siapa, ditambah kamu gak ada niatan mau cerita.”

“Itu temen aku Han..”

Jihan menghela nafas berat, “kalaupun aku percaya terus gimana orang-orang yang udah kemakan tweetan base kampus? Terus ngira kalian pacaran, dan ternyata sender ngenalin ceweknya atau lebih parah ceweknya nampakin diri? Aku lagi Mark yang sakit dan harus ngalah.”

“Sekarang aku tanya, kamu kenapasi se gasuka itu sama Winata?”

“Karena aku bukan Winata. Aku iri Han sama Winata, dia bisa jadi sosok terbaik buat kamu. Walau kamu punya aku sekarang, tapi aku gak pernah berhasil memperlakukan kamu lebih baik dari Winata. Winata yang selalu pamerin kamu, Winata yang selalu banggain kamu ke orang-orang. Aku pikir aku bisa jadi Winata kedua buat kamu tapi dengan cara yang berbeda. Tapi dengan ngajak kamu backstreet kayak gini aku udah salah ambil jalan.” jawab Marka yang membuat Jihan tertegun.

“Aku, aku takut kalau kamu sama Winata temenan atau deket lagi kamu bakal lupa aku. Karena aku tau Jihan, Winata selalu memperlakukan kamu dengan spesial.” sambung Marka mulai terdengar lirih.

“Marka, aku selalu suka apa yang kamu lakuin atau kasih buat aku. Menurut kamu Winata selalu menjadi yang terbaik buat aku, tapi kamu Marka orang terbaik menurut aku. Aku sayang kamu, aku suka kamu dengan apa adanya kamu. Tapi enggak dengan bohongnya kamu dan insecurenya kamu.”

“Kalau Winata yang terbaik, bukan kamu Mark yang sekarang berdiri dihadapan aku.”

“Kalau aku tanya lagi siapa cewek yang tadi kamu temuin kamu bakal jujur gak?” tanya Jihan, Marka terdiam.

Marka ingin memberi tahu semuanya pada Jihan, tapi buka sekarang. Marka belum mendapatkan keputusan akhir dari perjodohan ini. Jihan juga sedang mengerjakan skripsinya, ia tidak mau menambah beban pikiran untuk gadis itu.

Sedangkan Jihan, ia menghela nafas pasrah. “Marka, ayo break.. Aku butuh rehat, seminggu cukup.”

–wnsscc

Cupcakes with Love

Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi, dan Jihan sudah melakukan aktivitas dapurnya untuk memasakkan makanan untuk ia dan Marka sarapan.

Jihan fokus pada bahan-bahan makanannya dan layar handphonenya yang menunjukkan tutorial memasak.

Tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang melingkar diperutnya, itu Marka.

Cowok itu menenggelamkan wajahnya di pundak Jihan, Marka belum sadar 100%, bahkan cowok itu masih memejamkan matanya.

“Marka aku kaget demi apapun. Tumbenan banget kamu udah bangun?”

Cowok itu tak menggubris perkataan Jihan, ia masih dengan keadaan setengah tertidur.

“Marka, pingsan lo? Kok gak jawab sih?” tanya Jihan.

“Lo, lo, kamu Jihan, apaan lo lo.” jawab Marka yang sudah tersadar.

Jihan terkekeh. Dengan keadaan Marka memeluknya ia jadi tidak leluasa untuk bergerak, bahkan untuk mengambil bahan-bahan kue pun sulit.

“Mark, aku lagi buat kue, kamu bisa gak jangan peluk dulu? Aku susah gerak asli.”

Bukannya melepas dekapannya, Marka malah memasang wajah cemberut, “kamu gak suka aku peluk?”

Now Maraka telah mengeluarkan jurus bayinya batin Jihan. “Enggak gitu beb, ini aku lagi bikin kue, kalau kamu peluk yang susah gerak, nanti kuenya malah gak jadi-jadi.”

“Alah bilang aja gak suka aku peluk, Jihan jahat.” Marka melepas pelukannya, berjalan menuju sofa dengan ekspresi ngambeknya yang membuat Jihan tidak bisa menahan kegemasan.

“Kalau anak-anak kampus tau kelakuan asli si dingin Maraka gimana ya?”

“Ya kan aku gininya cuma ke kamu, ya jangan disebar dong!”

“Jihan kok gak nyamperin sih?” sambung Marka.

“Sibuk.”


Jihan kembali ke ruang tamu dengan sepiring cupcake yang baru saja ia buat. “Cupcakes with love for the best boyfriend in this damn planet.”

Marka menahan senyumnya, matanya masih fokus ke layar TV yang menampilkan film barat terbaru.

“Marah beneran? Ish aku kira cuma bercanda.”

“Marka?”

“Hm?”

“Yah marah, kalau gitu aku kasih ke Winata aja deh ya karena udah jadi mantan ter-”

Marka langsung memakan cupcakesnya ketika mendengar nama Winata terucap dari bibir Jihan, “mantan ter- apa?”

“Hehe enggak, makanya jangan ngambek terus dong! Btw Mark, enak gak?”

Marka mengangguk, “enak, tapi jangan bawa-bawa mantan kamu mulu dong, kan sekarang aku yang jadi pacar kamu.”

“Idih kapan aku bawa-bawa Winata? Baru sekali ini, Markie cemburuan wle.”

“Siapa yang gak cemburu kalo pacarnya bawa-bawa nama mantan?”

Untuk meredakan emosinya Marka membuka layar handphonenya, bukannya membaik moodnya malah semakin buruk melihat banyak notifikasi dari keluarganya.

“Marka marah ya? Maaf...”

–wnsscc

Boba + free hug

Pintu apatermen Jihan terbuka, nampak Marka yang berjalan masuk sambil menenteng boba yang ia janjikan. Marka datang dengan keadaan dan setelah yang sama saat makan malam tadi.

“Ih pacar aku ganteng banget kalau pake kemeja gini.”

“Emang biasanya gak ganteng?”

“Ganteng dong! Bobanya kayak biasa kan Mark?” tanya Jihan dengan pandangan yang langsung tertuju pada boba yang Marka bawa.

Marka mengangguk, “bobanya aku kasih kalau udah dapet hug dari kamu.”

“Hadeh modus.”

Jihan merentangkan tangannya yang langsung disambut dengan pelukan dari Marka. Marka menenggelamkan wajahnya dibahu kanan Jihan, ia seperti melampiaskan semuanya disana.

“Marka kamu gapapa?”

“No i'm not, Jihan..” jawab Marka dengan suara sedikit paruh.

Jihan menepuk-nepuk punggung Marka, lelakinya ini sedang tidak baik-baik saja, dan Jihan harus menjadi obat dan penenang untuknya.

“Mark, makan dulu ya? Kamu juga bersih-bersih dulu, biar segeran dikit.”

Marka menggeleng, “gak mau, maunya kayak gini terus sama kamu.”

“Kalau kayak gini terus lama-lama pinggang aku encok Marka, kamu juga berat banget. Nanti abis makan dan bersih-bersih hug lagi, lama juga gapapa.”

“Can i get a kiss too?” tanya Marka bercanda.

“Oalah jadi bocah kok ngelunjak.”

Marka terkekeh, ia melepaskan pelukannya. Ia memberikan boba yang masih ia tenteng sejak tadi.

“Thank you Maraka!“

“Iya sayang ku.”

“Idih sayang-sayang. Udah sana bersih-bersih, aku mau masak dulu bye!” ujar Jihan lalu meninggalkan Marka.


Sepasang kekasih itu kini tengah menikmati makanannya di ruang tamu. Sesekali mereka bercanda atau membicarakan hal-hal konyol tentang geng Marka yang gak pernah waras.

“Tapi Lucas pernah ngirim aku selfienya dia loh Mark, katanya 'yakin lo masih sedih setelah liat wajah tampan gue?' Kalau gak salah waktu kita berantem dua bulan lalu cuma gara-gara salah paham.”

“Itu aku yang nyuruh Jihan..”

“Ih demi apa? Ngapain kamu nyuruh Lucas kirim selfie gitu? Kenapa gak kamu aja? Gengsian banget si.”

Marka menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu, “ya kalau aku kirim selfiean muka aku takut kamunya makin kesel, jadi ya aku suruh Lucas aja yang ngirim.”

“Enggaklah, kamu jarang banget ngirim pap muka gitu, sekalinya ngirim bikin jantung aku senam lantai.”

Marka terkekeh, bersama Jihan memang membuatnya kembali ceria. “Besok-besok aku sering ngirim foto deh ya, biar jantung kamu diskoan.”

“Boleh banget, tapi sebelum ngirim fotonya tolong bilang dulu, biar aku siapin mentalnya dulu.”

Keduanya berakhir tertawa bersama, Jihan kembali makan dan Marka mengecek handphonenya yang bergetar sejak tadi.

Raut wajahnya berubah seketika ketika membaca isi notifikasi.

“Mark, kenapa?”

Marka menggeleng, ia membalas pesan tersebut dengan wajah penuh tidak suka. Lalu menaruh handphonenya setelah selesai.

“Jihan, aku mau peluk lagi boleh gak?”

Jihan mengangguk, “boleh, tapi abis makan ya.”

Marka mengangguk, lalu melanjutkan makannya dengan segera agar bisa kembali memeluk sang penenang dari setiap masalahnya.

–wnsscc

Mark dan Sikap Manis

Marka langsung memeluk Jihan dengan erat sesaat setelah ia memasuki kediaman Jihan. Lelaki itu benar-benar butuh Jihan saat ini, hanya Jihan yang bisa memenangkan rasa amarahnya.

Jihan yang tak siap dengan serangan pelukan Marka hanya terkejut. Ia menepuk-nepuk punggung Marka ketika menyadari bahwa prianya sedang tidak baik-baik saja.

“Marka, aku abis masak, baju aku agak kotor. Aku mau ganti baju dulu, nanti kalau mau lanjut peluk gapapa.”

Marka masih tidak melepas pelukannya, malah ia mengeratkan pelukannya agar semakin tenang. “Stay like this for a while please?“

“Marka, are you okay?“

“No im not. Dan karena itu biarin aku peluk kamu buat 5 menit aja.”

Jihan membalas pelukan Marka, keduanya berada diposisi yang sama sampai terdengar bunyi dari arah dapur.

“YAAMPUN, AKU LUPA KALAU LAGI MASAK!” seru Jihan, ia melepas pelukan diantara keduanya, dan berlari menuju dapur dengan panik.

“Aduh, untung masih bisa diselametin, kalau enggak sia-sia gue mendep di dapur dari maghrib tadi.” oceh Jihan pada dirinya sendiri.

Marka menghampiri Jihan yang sedang merutuki dirinya sendiri karena teledor, pria itu tersenyum, Jihan terlihat semakin cantik ketika sedang marah.

“What's wrong babe?“

“Cupcake yang aku buat gosong, padahal tadinya mau aku kasih kamu.”

Marka mengelus pucuk kepala pacarnya itu, “it's okay han, aku bakal tetep makan kok.“

“Yakin Mark? Ini rada gosong loh, takutnya lambung kamu syok.”

“Kenapa harus syok? Aku bakal makan apapun yang kamu buat untuk aku Jihan.”

Jihan tersenyum malu, gadis itu memalingkan wajahnya yang merah seperti tomat agar Marka tak melihatnya.

“Jihan, i really love you, jadi jangan tinggalin aku ya Han? Karena kamu rumah aku Han, dan akan selalu begitu.”

Jihan kembali menatap Marka, “Mark, kalau ada sesuatu yang salah tolong cerita ya? Biasanya kalau cowok ngomong kayak gini tanda-tanda mau putus.”

“I'm not that stupid to lose you Jihan, masalah apapun, dengan cara apapun, aku bakal disini sama kamu.”

–wnsscc

Malam Perjodohan

Marka terdiam seribu bahasa setelah mendengar penjelasan tentang perjodohannya dengan salah satu anak teman bisnis ayahnya. Marka sungguh ingin menolaknya, tapi jika ia tolak maka hak perusahaan akan berpindah kepada adik dari ayahnya, dan Marka tidak mau hal itu terjadi. Marka tahu betapa keras perjuangan ayahnya untuk membuat perusahaan sukses seperti sekarang.

“Sebentar lagi wanita yang akan dijodohkan denganmu akan segera datang, jaga sikapmu Marka.”

Beberapa saat kemudian, matanya menangkap sosok yang asing baginya. Seorang perempuan bergaun putih muncul dihadapannya.

“Selamat malam semuanya.”

“Astaga Hario, akhirnya kita berjumpa lagi. Seperti sudah lama ya hahaha.” basa-basi permulaan yang dikeluarkan dari mulut Darion, ayah kandung Marka.

“Kemarin tidak sempat kita bertemu karena kamu sibuk terus ya haha.”

Darion mempersilahkan tiga orang yang baru saja datang itu untuk duduk. Mereka berbincang-bincang tentang bisnis dan anak mereka yang kini telah beranjak dewasa.

“Marka sekarang sudah semester akhir ya? Wah dikit lagi wisuda dong ya.” ujar Arini, wanita paruh baya yang merupakan istri dari Hario.

“Iya tan.”

Sedangkan gadis cantik di sampingnya hanya terduduk diam tak bersuara, sekali-sekali mencuri pandangan pada Marka yang terlihat tidak nyaman.

“Aruna dan Marka ini berbeda dua tahun ya? Aruna kamu ambil jurusan apa nak di Kampus?” tanya Rozak, kakek Marka.

“Ambil kedokteran kek.”

Rozak bertepuk tangan singkat, “wah perpaduan yang sempurna ya. Calon dokter dan calon pembisnis.”

“Kenalan dong, biar nanti gak canggung lagi kalau bertemu.”

Marka enggan berkenalan dengan siapapun gadis di depannya. Sekarang, ia hanya butuh pelukan Jihan untuk meredakan segala emosinya.

“A-aku Aruna Adhisty salam kenal Marka.”

“Ya, saya Marka, salam kenal juga.”

“Masih canggung banget ya, walaupun begitu nanti pasti bisa lebih akrab lagi. Apalagi perbedaan umur kalian tidak jauh.” ujar Hario.

Para orang dewasa kembali membicarakan tentang bisnis-bisnis yang sama sekali tidak Marka mengerti. Sesekali ia mengecek handphone untuk membalas pesan Jihan atau nimbrung di grup pertemanannya.

–wnsscc