168
Maraka mengetuk kaca mobil Aruna setelah sampai. Gadis itu langsung membuka pintu mobil dan keluar.
“Hai, maaf ngerepotin..”
“Lo sendiri?” tanya Maraka.
Aruna mengangguk. “Hari ini perdana gue ngendarain mobil sendiri. Dan gue gak tau kalau ada masalah sama mobilnya, padahal papa gue make tadi pagi dan gak terjadi apa-apa.”
“Oh. Tunggu sebentar, orang dari bengkelnya masih otw. Lo tunggu di mobil gue aja.”
Aruna menggeleng, “no, gue ikut lo tunggu disini aja.”
“Btw Mark, lo yang ngewakilin buat grand opening our brand dua minggu lagi?” tanya Aruna membuka topik.
“Yang di Singapore? Iya.”
“Ah, sama. I don't know why mereka nge launching brand baru buru-buru banget.”
“Lo dateng nanti ke Singapore?”
Aruna mengangguk, “of course. Selain gue siapa lagi yang bakal dateng ngewakilin, mama papa sibuk sama perusahaan yang lain.”
“Kinda hard ngurusin perusahaan di usia gue yang masih baru mateng ini. Be honest sebenernya gue gak tertarik ngurusin beginian. Bahkan masuk ilmu menejemen bukan keinginan gue. Ya tapi gimana, selain gue siapa lagi yang bakal ngurusin perusahaan ortu haha.”
Maraka terdiam. Nasibnya sama dengan Aruna. Masuk jurusan menejemen dan melanjuti perusahaan orang tuanya juga bukan keinginannya. Bahkan Maraka harus membuang jauh-jauh cita-citanya menjadi dokter gigi.
“Life is hard.” ucap Maraka.
“Bahkan gue harus ngebuang jauh-jauh cita-cita gue buat jadi arsitek demi menuhin apa yang orang tua mau.” ujar Aruna, kali ini agak lirih.
Memang agak perih rasanya ketika mengingat sesuatu yang gagal ia raih hanya karena kemauan orang tua.
“Candy?” tawar Maraka.
“Thank you.” jawab Aruna sambil menerima permen pemberian Maraka.
“Mark sorry, can i ask you something? Ini agak privacy but, can i?”
Maraka mengangguk.
“Lo sama Jihan Ayara anak hukum ada hubungan ya?”
Maraka menoleh kaget, “enggak.”
Tadinya ada, haha. batin Maraka.
Aruna tersenyum puas, “ohh..”
“Itu orang dari bengkel?” tanya Aruna sambil menunjuk ke dua orang yang berjalan menghampiri mereka.
Maraka mengangguk, “pak!”