214

Kini Jihan, Arjuna, Dery, Lucas, Calya, Shakira, dan Shaka berkumpul di kediaman Jihan untuk membicarakan mengenai kecelakaan pesawat.

“Beneran belum ada yang dibales chatnya? Atau telfon gitu?” tanya Dery.

Semuanya menggeleng. “Maraka beneran pulang hari ini kan?” tanya Arjuna memastikan.

“Bener, tadi pagi dia ngechat gue bilang mau otw balik Jun.” jawab Jihan, matanya sudah berkaca-kaca karena Maraka.

“Jam berapa?”

“Jam tujuh Jun.”

“Sekarang jam 12, 5 jam setelah kabar terakhir Maraka. Tadi gue check, flight rute Singapore-Jakarta tu cuma yang jam 7 sama jam 9. Terus yang kecelakaan yang rute jam 7.”

“Mungkin gak Maraka ngambil yang jam 9?”

“Mungkin aja sih, dan harusnya sekarang udah sampe gak sih? Singapore deket anjir.”

Jihan tak kuat lagi menahan air matanya, ia menangis begitu saja, “lo jangan nangis dulu Ji, adohh.” ucap Arjuna.

“Gue udah tanya Aruna, terus dia bilang Maraka check-out hotel sekitar jam setengah enaman.” timpal Shakira.

Obrolan mereka terhenti karena suara bel pintu yang berbunyi. Karena Jihan masih menangis, Lucas yang akhirnya pergi mengecek.

“AA JURIG!”

Perhatian semua orang teralih pada teriakan Lucas. Shaka dan Dery yang penasaran akhirnya ikut menyusul.

“LAH MARAKA!?”

Mendengar teriakan Lucas yang lainnya ikut pergi melihat apa yang terjadi.

Maraka berdiri disana, dengan ekspresi bingung karena semua temannya menatapnya aneh.

“Lah masih idup lu?” tanya Arjuna ngaco.

“Ya menurut lo?” jawab Maraka kebingungan.

Jihan yang melihat kehadiran Maraka langsung memeluk cowok itu dan menangis sejadi-jadinya disana.

Merusak suasana, Lucas yang terharu ikut memeluk Maraka. “Gue kira lo kenapa-napa anjir aelah.”

“Kalian kenapa sih?”

“Syukur deh lo gak kenapa-napa, hampir aja temen gue jadi jomblo. Lagi lo tuh kalo apa-apa check HP kenapa sih, kabarin gitu loh.” ujar Calya.

“HP gue lowbatt, lupa ngecas semalem sorry. Tapi serius ini kenapa?”

“Tar Jihan yang jelasin, kesian tu anaknya udah sedih banget sampe gamau lepas meluk. Mana mukanya jelek lagi kalau nangis.” jawab Arjuna yang langsung ditatap sinis oleh Jihan.

“Yang penting lu selamet dah. Dah yang lain bubar yuk, kasih waktu buat dua orang yang mau pacaran. Atau ngerendang aja di apart gue, abis masak banyak nih.” sambung Arjuna.


“Kenapa nunduk terus? Ayo cerita dong ini ada apa, aku penasaran.”

Jihan menggeleng, “sebentar, muka aku masih jelek abis nangis.”

“Enggak, kata siapa jelek. Juna cuma bercanda tadi, tetep cantik kok. Ayo ceritaa.” jawab Maraka menenangkan.

“Ada berita, pesawat rute Singapore-Jakarta jatuh. Aku panik, takut kamu salah satu korbannya. Kamu ditelpon ga diangkat, dichat gak dibales. Bahkan Shakira sampe nanya sama Aruna. Kamu bikin panik asli. Arjuna sampe keselek ikan gurame pas tau kabarnya.”

Maraka tertawa kecil, “oh gitu. Maaf udah bikin khawatir.”

Maraka memeluk gadis itu, menenangkannya. Ada rasa bahagia saat mengetahui bahwa Jihan sepeduli dan sekhawatir itu padanya.

Dipeluk seperti ini Jihan malah menangis lagi. Membayangkan jika Maraka menjadi salah satu korban dan pergi meninggalkannya.

“Jangan nangis.. Aku bawa coklat, jangan nangis lagi ya?”

Jihan mengangguk, lalu menerima setas berisikan coklat yang Maraka bawa. “Banyak banget, kamu mau buat aku diabetes atau gimana?”

“Katanya kamu mau coklat setoko. Karena aku gabisa beli setoko jadi aku beliin segitu aja.”

“Aku cuma becanda padahal, tapi makasih ya.”

Maraka mengangguk. Ia merebahkan dirinya dan menaruh kepalanya di bantal diatas paha Jihan.

“Capek ya?”

Maraka mengangguk pelan, “tapi abis liat kamu udah gak capek lagi sih.”

“Idih gombal.”

Satu tangan Jihan meraba rambut Maraka dan memainkannya. “Puk-pukin Ji, aku suka kalau kamu mainin rambut aku.”

“Mau netflix-an gak?”

Maraka mengangguk, “sekalian netflix and chill aja mau gak?”

Jihan menepuk tubuh Maraka pelan, “dih istighfar lu.”

Maraka tertawa, “yaudah cuddle aja mau gak? Kita selama pacaran gak pernah cuddle gak sih?”

“Enggak, udah ah, gini aja udah. Gak ada cuddle atau netflix and chill.”

Maraka bangun dan merangkul Jihan, “yauda iyaa.”

Ia menarik pelan Jihan untuk bersender di bahunya. Mengelus-elus lembut rambut Jihan.

Sesekali Jihan menyuapi Maraka dengan coklat yang cowok itu berikan.

Keduanya benar-benar menikmati hari minggu dengan manis setelah ada kejadian menghawatirkan tadi.