194
Semilir angin pantai yang lembut menemani sepasang manusia yang sedang diambang kecanggungan.
Setelah aksi nekat Maraka tadi, keduanya tidak lagi bicara kecuali untuk hal-hal penting. Hanya berani saling melirik tanpa bersuara.
“Itu, maaf, tadi kaget ya?” tanya Maraka membuka topik.
“Kaget sih, tapi gapapa, eh, apasih.” jawab Jihan salting.
Maraka terkekeh, “tapi suka gak? Suka gak kalau aku gandeng di depan umum gitu?” goda Maraka.
Jihan mendorong pelan lengan Maraka, “apasih, gajelas.” jawab Jihan salah tingkah.
“Maaf ya, maaf buat perlakuan aku dulu. Aku baru berani sekarang Ji, aku baru sadar sekarang. Emang brengsek banget aku campurin kamu diurusan masa lalu aku.”
Jihan menoleh kaget, “eh? Maksudnya?”
“Alasan aku dulu belum berani go public hubungan kita aku punya trauma Ji. Aku dulu masih takut. Aku takut kejadian dulu keulang, aku takut kamu jadi korban dan aku masih gak bisa ngelindungin kamu. Harusnya aku gak takut dan paham sama perbedaan situasi yang ada. Tapi sekarang, aku udah mulai coba buat berdamai, berdamai sama semuanya. Aku udah coba maafin diri sendiri, maaf baru bisa sekarang.” ujar Maraka, wajahnya tertunduk.
Jihan tak mengerti, korban? Trauma? Maraka punya trauma? “Aku gak ngerti Mark, coba ceritain lebih detail, aku gak mudeng sumpah.”
Maraka mulai menceritakan semua kisahnya pada Jihan, dari awal traumanya dimulai sampai pertemuannya dengan Area beberapa hari lalu.
“Kamu kenapa gak pernah cerita si Mark, aku jadi ngerasa jahat banget kalau kayak gini. Ngelepasin kamu disaat kamu masih nyimpen semua cerita kelam.” ucap Jihan dengan nada rendah, ia jadi tidak enak hati setelah mendengar cerita Maraka.
“No, don't be like that. Emang salah aku aja gak terbuka sama kamu, maaf.”
“Aku bener-bener minta maaf Jihan..” sambung Maraka, wajahnya terangkat menampakkan raut penyesalan disana.
Jihan yang tak tega melihatnya langsung memeluk cowok itu, “no need to say sorry Maraka, aku tau pasti rasanya berat.”
Maraka membalas pelukan Jihan, menenggelamkan wajahnya di bahu Jihan, ia hampir menangis disana, tapi ia tahan sebisa mungkin. Lega juga setelah jujur pada Jihan tentang semuanya.
“Masih mungkin gak Ji buat kita balikan?” tanya Maraka merusak suasana sedih diantara keduanya.
Jihan melepaskan pelukannya, menepuk lengan Maraka pelan, “ngerusak suasana banget ya lo.”
“Aku serius, kita kan udah saling terbuka. Mending balikan aja gak sih? Kamu juga udah terlanjur peluk-peluk aku, sayang banget kalo gak balikan.” goda Maraka.
“Dih, gak ah. Nanti diajak backstreet lagi, males.” balas Jihan balik menggoda.
Maraka gemas, ia mencubit pelan pipi kanan Jihan. “Enggaklah, mau bukti? Aku post foto kamu sekarang. Tapi balikan dulu, ya? Ya?”
“Eh apaansi main post post aja, gue gak mau jadi bahan gibahan base lagi ya. Gara-gara tadi lo main gandeng udah pasti masuk base nih gue.”
“Yaudasi gapapa, base doang. Kecuali masuk lambe turah, baru heboh boleh.”
“Balikan ya Ji? Kamu emang tega nolak cowok ganteng kayak aku? Mubazir juga Ji nolak cowok ganteng kayak aku.” sambung Maraka yang langsung ditertawai oleh Jihan.
“Pede banget lo. Ada jaminannya gak nih kalau lo gak bakal ngajak gue backstreet lagi?”
“Jaminan, jaminan. Aku ini ngajak kamu pacaran bukan nawarin pinjol.”
“Ya kali aja lo ngajak gue backstreetan lagi.”
“Ok, you can have all of my movies DVD collection. Cukup?”
Jihan kaget, sumpah dia hanya bercanda, gak nyangka Maraka bakal nanggepin serius. “GUE BECANDA, koleksi DVD lo ori plus mahal semua, gak jadi deh.”
“Seriously Ji, you can have that all, asal kita balikan ya? I really love you, please??”
Jihan membuang muka, “yaudah iya, tapi yang DVD gausah ya, gak berani gue.”
Maraka tersenyum lebar, “KAMU NERIMA AKU? FIX KITA BALIKAN NIH YA?”
Jihan masih malu, dirinya tak berani menatap Maraka yang masih kegirangan.
Sampai kecupan singkat mendarat dipipinya, itu ulah Maraka. Jihan langsung memukul Maraka, “gak sopan ih main cium-cium aja.”
“Why? Aku kan pacar kamu sekarang, PACAR.”
“Yaudah si, gausah diteken juga kata pacarnya, gue juga tau.”
“Aku Ji, aku, kita kan udah officialy dating. YEY. I love you pacarku.”
“Iya makasih, i love me too.” goda Jihan.
“Ok then, Maraka is angry now.”
Jihan tertawa puas, asik juga godain Maraka saat cowok itu sedang dalam bayi mode. “Becanda, i love you too. Gitu kan?”
Keduanya berakhir dalam canda tawa di sore hari, hari itu semuanya terjadi sesuai apa yang Maraka bayangkan.
Ia dan Jihan akhirnya kembali bersama, namun dengan situasi dan rencana yang berbeda.