wnsscc

Sama seperti dulu-dulu, keadaan rumah masih sepi, hanya sedikit suara yang terdengar.

Maraka yang masih mengenakan pakaian kerjanya nyelonong masuk setelah menyapa satpam, dan pembantu rumah.

“Raka anak mama, apa kabar?”

“Eh ma, kabar Raka baik.” jawab Maraka.

Yena langsung memeluk anaknya penuh rindu, hampir satu bulan mereka tidak bertemu.

“Pulang dari kapan ma?”

“Kemarin.”

“Anak mama gemukan ih.” sambung Yena.

Lalu Yena merangkul Maraka dan mengajak putra satu-satunya itu untuk masuk menemui kakek dan papanya.

“Coba kamu ikut mama sama papa kemarin ke Jepang, bisa quality time kita.”

“Kerjaan Raka disini banyak ma.”

Mereka telah sampai di ruang makan. Sunyi, hanya ada suara para bibi yang sedang menyiapkan makanan.

Satria dan kakek sudah duduk tenang sambil menunggu makanan. Yena dan Maraka pun ikut duduk bersebelahan.

“Cucu kakek sudah datang.”

“Bagaimana kabarmu?”

Maraka langsung menoleh kaget, biasanya kakek hanya akan menanyakan kabar perusahaan, tapi kali ini beda.

“Kabar Raka baik.”

“Terimakasih sudah menjaga perusahaan kakek dengan baik ya, terimakasih juga untuk kerja kerasmu Raka.” puji kakek.

Maraka mengangguk canggung.

“Sekarang makan dulu, udah lama juga kan ya kita gak dinner bareng.” sambung kakek.

“Kamu masih sama pacarmu itu kah?” tanya kakek di sela-sela makannya.

“Masih. Kenapa?”

“Enggak apa-apa, kakek liat kamu lebih bahagia sekarang, kakek turut senang.”

Maraka langsung menoleh ke Yena yang langsung tersenyum dan mengangguk kecil.

“Terimakasih kek.”

“Kapan-kapan aja kesini dong Rak, papa juga mau ketemu. Masa mama doang yang udah ketemu, papa belum.” ucap Satria.

“Iya, nanti Raka tanyain ke anaknya dulu.”

“Anaknya baik loh pa, cantik lagi, asik juga, enak diajak bicara. Cocok sama Raka yang masih kaku sama orang. Tapi mama lihat Raka aktif banget kalau deket Jihan, berarti udah nyaman dan klop banget ya.” balas Yena, pembicaraan dan suasana semakin hangat.

Maraka tersenyum kecil, ini suasana yang ia inginkan sedari dulu. Hangat, obrolan sederhana tanpa membawa topik tentang saham atau perusahaan.

“Raka mau nikah umur berapa nak?” tanya kakek, pertanyaan yang hampir membuat Maraka mengeluarkan makanannya.

“Pak, tiba-tiba banget pertanyaannya, kasian ini anaknya keselek.”

Kakek tertawa, “pertanyaan seperti itu lumrah kan diumur-umur Raka yang sekarang. Lagi kakek hanya bertanya, bukan mendesak untuk segera menikah.”

“Enggak didekat, dekat ini kayaknya kek. Raka masih sibuk ngurusin kerjaan kantor, Jihan pun juga begitu. Lagi belum ada persiapan penuh buat lanjut ke jenjang yang lebih serius. Apalagi menikah itu kan sekali untuk selamanya, jadi Raka harus persiapin dari segi materi dan mental dulu semateng mungkin.”

Satria bertepuk tangan singkat dan mengusap kepala anaknya itu, “keren jawaban anak papa. Emang bener kok, pernikahan itu tanggung jawab yang besar, jadi gak hanya materi, mental juga harus mateng ya.”

39 ; 1001 cara

Ruangan rapat hari ini cukup ramai dengan kumpulan orang dari berbagai perusahaan dibawah naungan G&J company maupun AZ company. Materi rapat hari ini tentang peluncuran produk terbaru hasil kolaborasi dan kerja sama para pekerja terbaik dari masing-masing perusahaan.

Sementara Aruna dan Maraka berada di meja bagian depan, Daksa, Gia, Syavira, Ghea, dan Yudha duduk di bagian paling belakang. Mereka menunggu sekaligus mencatat materi penting tentang hari ini.

“Eum Daksa, sorry tapi laptop aku tiba-tiba mati, can you help me buat colokin chargeran di stop kontak disamping kamu?” tanya Gia meminta bantuan. Sedangkan Syavira hanya bergidik ngeri melihat kelakuan sok imut dari temannya.

Tanpa menjawab, Daksa langsung mengambil chargeran dari tangan Gia dan mencoloknya ke stop kontak, lalu cowok itu fokus kembali pada rapat.

“Thank you Daksa!“

Kini, giliran Syavira melancarkan aksinya untuk membuat Ghea dan Yudha pulang bersama nanti.

“Ghe, nanti kamu pulang bareng Pak Maraka ya?” tanya Syavira.

“Iya Sya, kenapa?”

“Eum sorry, tadi Pak Maraka bilang tepat sebelum rapat, dia mau ngajak aku ke tempat salah satu proyek kita di Kemang. Jadi kamu pulang bareng Yudha dulu ya..” jawab Syavira, 100% berbohong.

Yudha yang merasa namanya ikut terseret langsung menoleh.

“Konteks Pak Maraka ngajak lo ke tempat proyek?” tanya Ghea memastikan.

“Mungkin dia mau aku belajar kali ya, secara aku kan anak baru. Jadi gak apa-apa ya?”

Ghea berpikir sebentar, “agak aneh tapi oke lah.”

Syavira bersorak penuh menang di dalam hatinya, begitupun dengan Gia yang menoleh bangga pada keberhasilan temannya.

*Syavira sus. * batin Yudha.


Setelah berpamitan dengan Daksa, Aruna, dan Gia, Maraka pergi untuk segera pulang. Sedangkan Syavira hanya mengintili cowok itu setelah Yudha dan Ghea pulang.

“Loh, kamu ngapain? Ghea mana?” tanya Maraka saat menyadari bahwa bukan Ghea yang mengikutinya.

“Itu Rak, Ghea harus pulang bareng Yudha karena ada acara gitu, tadi belum sempet bilang ke kamu jadi nitip pesannya ke aku.” jawab Syavira, lagi-lagi berbohong.

“Oh, terus, kamu ngapain ngintilin saya?”

Syavira tertawa canggung, “gini loh Rak. Mobil aku ternyata mogok, masih di bengkel, dan kamu tau kan aku gak bisa naik ojek online. Niatnya aku mau nebeng, hehe.”

“Taksi online gak bisa?”

Syavira menggeleng.

Maraka bingung. Ia risih sebenarnya, tapi kasihan juga jika harus menolak dan menelantarkan Syavira disini sendirian, apalagi gadis itu punya trauma.

“Cuma sampe depan komplek?”

Syavira mengangguk semangat.

“Oke, naik.”

Syavira berseru senang dalam hatinya, langkah pertamanya berhasil. Kini ia hanya akan melakukan sesuatu lagi setelahnya untuk mempercepat semua ini.

Jika Syavira berhasil, maka ia bisa lepas dari nerakanya. Neraka berbentuk manusia yang membuatnya menderita beberapa tahun ini.

Akhirnya pekerjaan untuk hari ini selesai juga. Maraka langsung mengambil kunci mobilnya dan jas miliknya untuk pergi pulang. Sebelum itu ia menyapa para karyawan yang masih stay dan mengucapkan selamat tinggal.

Setibanya di basement kantor, Maraka langsung menghampiri mobilnya.

“Halo?”

Maraka menoleh, berdiri sosok gadis berambut pendek yang membuat Maraka menghela nafas malas. “Kenapa?”

“Sorry tapi aku boleh nebeng sampe perempatan komplek deket sini gak ya? Supir aku gak bisa jemput.” tanya gadis itu, yang tak lain adalah Syavira.

“Pake ojol kan bisa, jaman udah canggih.” tolak Maraka.

Syavira meraih lengan Maraka dan menggoyangkannya pelan, “aku ada trauma naik ojol Rak, please? gak jauh kok.”

Apaan sih pegang-pegang, cuma Jihan sama Mama yang boleh. batin Maraka.

“Saya sibuk Syav, maaf. Itu kamu. Eum, EH YUDA! Nah itu sama Yudha aja.”

Yang namanya dipanggil, langsung menghampiri Maraka dan Syavira. Maraka menyambut Yudha dengan sumringah, terbalik dengan Syavira yang menyambut Yudha dengan wajah masam.

“Yudh, anterin Syavira nih, kasian.”

“Rokok seminggu.” sambung Maraka.

Yudha langsung mengancungkan jempolnya setuju, “ayo Syav.”

Syavira berdecak sebal, lagi-lagi rencananya gagal.

Yudha langsung mengajak cewek itu untuk pergi ke mobilnya, sedangkan Maraka langsung masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan lega.

“Lo gak akan bisa Syav. Gak ada yang bisa rebut Maraka dan Jihan, begitu juga sebaliknya.” ujar Yudha seperti bisa membaca situasi.

Mulai sekarang, Syavira akan lebih gencar untuk melaksanakan tugasnya mengetahui target mereka bukanlah pasangan biasa.

Semakin cepat Syavira menyelesaikan tugasnya, semakin cepat ia pergi dari bayang-bayang dan ancaman bosnya.

Syavira atau si anak baru di kantor ini membuka pintu ruangan Maraka setelah tiba. Gadis itu menghampiri Maraka yang sedang berkutat dengan berkas-berkas ditangannya.

“Halo Maraka? Or, hallo boss?” sapa Syavira.

“Duduk.”

“Aku harus panggil kamu apa? Bos or Raka?” tanya Syavira basa-basi.

Maraka memutar bola matanya malas, lagi-lagi ia harus berhadapan dengan cewek yang membuatnya kesal saat Dery sengaja mengajaknya blind date kemarin.

“Ok i'll call you Raka. Jangan terlalu kaku gak sih, kita pernah ketemu sekali, so we're friend right?“

Terlalu banyak basa-basi, Maraka tidak suka.

“Langsung ke intinya aja, saya gak suka basa-basi. Kamu mau minta penjelasan bagian mana?”

Syavira terkekeh pelan, “relax Rak, as i sad before santai aja.”

Maraka menghela nafasnya berat, “saya sibuk, waktu saya berharga, jadi kamu jangan buang-buang waktu saya buat ngobrolin hal-hal gak jelas di jam kantor begini.” tekan Maraka.

“Berarti bisa dong ketemu di jam luar kantor?” tanya Syavira memancing.

Demi Tuhan, Maraka sudah muak. Ia sudah meluangkan waktunya untuk Syavira tapi malah disia-siakan seperti ini.

“Eh, ini foto cewe kamu? Wow.” tanya Syavira sambil mengambil bingkai foto Maraka dan Jihan dari sudut meja.

Cantikan gue anjir, cowok sekeren lo taste ceweknya yang kayak gini? Duh you better open your eyes deh Maraka. batin Syavira.

“Syavira. Bisa tidak jangan membuang waktu saya? Dipikir saya hari ini cuma ngeladenin kamu aja?”

Syavira tersenyum kecil, “ey chill dude, aku cuma pengen kenalan santai aja kok.”

“Btw kamu-”

Omongannya terhenti dengan nada dering yang bunyi dari handphone Maraka. Cowok itu langsung berjalan agak menjauh dan mengangkat telepon.

Syavira menatap Maraka, memikirkan cara agar cowok itu segera luluh. Namun dari yang ia lihat, Maraka bukan tipe cowok yang gampang luluh, apalagi Maraka sering memamerkan Jihan di sosial media, keliatan banget seberapa bucinnya cowok itu.

“Gabisa Jun, gue besok nemenin Jihan potong rambut.” ujar Maraka saat berbicara dengan Arjuna lewat telepon.

Syavira yang mendengarnya buru-buru membuka handphonenya untuk mengabari tentang hal ini. Ia mengetikkan pesan untuk bosnya.

Maraka kembali saat Syavira berhasil mengirimkan pesan. Cewek itu langsung memasukkan handphonenya kedalam saku roknya.

“Syavira, saya sibuk. Saya bener-bener gak ada waktu buat perkenalan santai kamu, jadi sekarang, saya ada sekitar 10 menit untuk menjelaskan apa yang gak kamu mengerti. Kalau kamu masih mau basa-basi lagi mending kamu keluar, buang-buang waktu saya.” ujar Maraka yang sudah tak tahan lagi.

“Oke Raka, sorry, sorry buat basa-basi aku tadi.”

Maraka menghela nafas lega, seumur hidup baru kali ini Maraka bertemu cewek modelan Syavira.

Alunan musik merdu menghiasi ruangan penuh keheningan dan ketegangan. Tiga manusia tengah duduk bersama saling menunggu untuk sang ketua berbicara.

“Bagaimana?”

“Hari ini hari kedua saya berkerja. Dan masih aman pak, belum ada interaksi dari kedua target di kantor hari ini. Saya juga sedang mencoba untuk memulai dengan langkah awal yang bapak ajarkan.” jawab salah satu dari dua gadis yang hadir di ruangan ini. Gadis dengan ciri khas rambut pendek dan kalung dengan motif kupu-kupu duluanlah yang angkat bicara.

“Bagus, kamu?” tanya seorang pria paruh baya atau dikenal dengan sang bos. Pertanyaan kali ini mengarah pada gadis berambut kepang panjang dengan tahi lalat di sudut bibir kanan.

Gadis itu menelan salivanya gugup, “s-saya, laporan saya selama berkerja dua hari ini adalah, eum, sudah ada interaksi layaknya sepasang kekasih dari kedua target. Terlihat seperti sepasang kekasih harmonis sekaligus partner kerja. Saya sudah mencoba langkah bapak namun hanya ada respon singkat dari target utama.”

Pria paruh baya itu berdehem, “laporan yang bagus untuk awalan. Ingat, kalian hanya punya waktu 1 bulan 24 hari untuk mensukseskan misi tersebut. Uang 20 juta sudah saya transfer direkening kalian, setiap kemajuan akan saya tambahkan bonus 5 juta. Terus laporkan pada saya.”

Selepas berujar demikian, pria itu meninggalkan ruangan. Menyisakan dua wanita yang langsung bernafas lega dan menyederkan diri mereka di sofa.

“Mark, let's play truth or truth.” ajak Jihan.

Maraka menaikkan satu alisnya bingung, “truth or truth? Kenapa gak truth or dare aja?” tanya Maraka.

“Seruan truth or truth kalau truth or dare aku gak tau mau ngasih dare apa.”

“Yauda ayo, mau aku atau kamu dulu?”

“Ladies first“

“Yeu, yaudah sok kamu mau nanya apa sama aku.” ucap Jihan, wajahnya menunjukkan ekspresi penasaran tentang apa yang akan Maraka tanyakan.

Maraka terdiam sejenak, “eum. Your ideal boyfriend type?“

“A guy with broad shoulders, tall, more action than talk, and most importantly, understanding.“

“Aku banget gak sih?” tanya Maraka dengan penuh percaya diri.

Jihan tertawa kecil, “ya kan aku emang sebutin ciri-ciri kamu. Kamu kan tipe ideal aku Mark.”

Maraka hampir menyemburkan minuman dalam mulutnya. Bahkan pipinya berubah menjadi warna merah tomat dengan cepat.

“Jangan salting, aku gak gombal, aku lagi jujur.” ucap Jihan yang berusaha menahan tawanya.

“Jihan..”

“Kenapa? Ayo sekarang giliran kamu.”

“Ask me, ask me anything. I will answer it all of your questions.“

Jihan terdiam, ia akan menanyakan pertanyaan yang menganggunya beberapa hari ini. “I think about this a lot. But Mark, what if we're not ended up together? Kita udah lama bareng, kalau kita emang gak ditakdirin buat bersama gimana?”

Maraka langsung menatap gadis itu dalam, menghela nafasnya dengan berat.

“Pertanyaannya terlalu berat ya? Aku ganti aja ya?”

“No, i will answer it.“

Maraka meraih tangan Jihan, mengusapnya lembut. “If we're not ended up together, actually that's ok walaupun bakal nyakitin aku banget. Takdir dan kisah cinta kita selanjutnya cuma Tuhan yang tau Ji.”

“But remember this, walaupun kita gak berakhir bersama, you will always be my best love, we spend so many times together right? I will never forget all of our memory. Bakal susah mungkin untuk melepas atau mengikhlaskan kamu nantinya, but i never regret with anything when i'm with you, because i always threat you right, so was you. But i really hope we always together, now, tomorrow, and forever.“

Terharu. How lucky is Jihan to have a boyfriend like Maraka. Actually they're lucky to have each other.

“Maraka. Thank You.“

Keadaan diluar hujan, Jihan masih menunggu Maraka di lobby kantor. Kantor sudah sepi karena memang sudah waktunya jam pulang, jam pun sudah menunjukkan pukul 9.

Ia sudah menunggu Maraka selama 30 menit, bahkan sudah berusaha menghubungi cowok itu.

“Kak, gak pulang?”

Jihan menoleh, “eh Sastra, lagi nunggu jemputan. Kamu juga belum pulang?”

“Oh tadi saya harus ngurus berkas-berkas dulu sebentar. Tadi saya juga liat kakak disini sekitar 30 menit yang lalu, belum dijemput juga?”

Jihan menggeleng, “mungkin macet kali ya..”

“Oh gitu, saya nungguin kakak aja deh ya. Kantor juga udah sepi banget gini, gak baik sendiri.” ujar Sastra lalu duduk disamping Jihan.

“Kalau mau pulang duluan pulang aja Sas, aku gapapa sendiri kok.”

Sastra tersenyum ramah, “gak apa-apa kak, saya temenin aja. Sekalian ada yang mau saya tanyain mengenai kasus tadi, gapapa? Maaf kalau kesannya saya sok akrab dan banyak omong, saya cuma pengen bisa berbaur aja kak hehe.”

“Ih gapapa Sas, kamu kalau mau tanya langsung tanya aja, gak usah sungkan.”

“Iya kak.”

Menurut Jihan, Sastra ini anaknya aktif banget. Selalu mencoba untuk berbaur ke sekitar dan nyesuain diri sama keadaan. Anaknya juga sopan banget. Tapi kadang Jihan ngerasa Sastra mirip seseorang yang gak bisa Jihan inget.

Mereka berbincang hampir 30 menit lamanya, keadaan hujan diluar juga semakin deras. Dan belum ada tanda kedatangan Maraka sampai sekarang.

“Kak, apa mau bareng saya aja? Udah satu jam kakak nunggu, mungkin yang jemput lupa.” tawar Sastra.

“Mungkin lupa kali ya..”

“Saya bawa mobil kak, aman dari hujan. Mau bareng saya aja atau gimana?”

Jihan terdiam sejenak. Jika ia menolak tawaran Sastra dan Maraka benar-benar lupa lalu bagaimana cara ia pulang? Ojek online tidak mungkin di keadaan hujan seperti ini, ia juga malas menunggu sendiri lagi jika memesan via online.

“Gapapa Sas kalau aku numpang?”

“Ya gak apa-apa kak, kan saya juga yang nawarin. Mau bareng aja nih?”

“Yauda deh, makasih ya Sas.”

“Aman kak.”

Sepanjang perjalanan menuju pulang hanya ada rasa kecewa dibenak Jihan. Maraka sudah berjanji tapi saat cowok itu benar-benar menghilang tanpa kabar.

Jihan mengetuk pintu ruangan Maraka, setelah mendengar jawaban masuk Jihan langsung membuka pintu tersebut. Ia muncul dengan senyum indah dan dua kantong mie ayam yang ia beli.

“Haloo, ganggu gak?”

Maraka tersenyum senang, kepalanya menggeleng. Dengan cepat ia menghampiri Jihan dan membantu gadis itu membawa mie ayam.

“Tumben kesini, lagi gak sibuk?”

“Sibuk si gak terlalu ya, aku sengaja kesini mau lunch bareng kamu hehe.”

“Sering-sering Ji.”

Jihan duduk terlebih dahulu di sofa ruangan, “dikira dari kantor aku ke kantor kamu tinggal salto kali ya. Aku kesini juga nebeng sama anak kantor yang kebetulan satu arah.”

“Cowok?”

Jihan mengangguk, “sekali doang, hehe. Daripada naik ojek, keluar duit lagi.”

“Kalau gitu mending aku aja yang jemput, daripada kamu berduaan sama cowok.”

“Yauda maaf..”

“Termaafkan dengan effort kamu kesini. Eh aku mau ceritaa, hari ini aku kesel banget dah.”

Jihan berdehem merespon. “Cerita aja.”

“Sumpah, ada anak magang ngeselin banget pake ngilangin berkas penting. Aku sama Yudha bikin itu dua hari Ji asli, malah diilangin. Mana besok pagi harus nyerahin ke investor, untung dia mau tanggung jawab buat bantu Yudha, Ghea ngebuat berkas ulang.”

“I had a bad day, can you give me a little hug?” sambung Maraka Jihan.

“Little hug ya?”

“A big hug if you want.”

Jihan terkekeh, “big hug nya nanti dirumah aja, apart kita kan sebelahan.”

“Cuddle?” pinta Maraka.

Jihan mengangguk, Maraka tersenyum senang. Gadis itu merentangkan tangannya untuk menyambut Maraka yang langsung memeluk gadis itu. “You did well Mark.“

“Makan dulu ya.”

Maraka masih enggan melepas pelukannya, terlanjur nyaman.

“Kamu dah kebiasaan kalo dipeluk gamau ngelepas.”

Maraka tertawa kecil, “i love your comfortable hug, always make me feel better.”

“Ok Mr. Gombal, now it's time to eat, now eat your chicken noodle. Atau mau disuapin?” tawar Jihan.

Akhirnya Maraka melepas pelukannya, lalu mengangguk semangat. “Ok baby Maraka.”

Maraka benar-benar menjadi versi termanjanya ketika bersama Jihan, Jihan benar-benar rumah ternyamannya yang bisa membuatnya lebih lepas mengekspresikan diri.

tw // bullying

Aluna melangkah masuk ke dalam kelasnya, baru saja ia sampai, ia sudah disambut oleh tatapan kebencian dari Asya dan kawan-kawannya.

“Eh cupu, mana tugas gue?” pinta Asya sambil melipat tangannya di dada.

Aluna langsung mengeluarkan sebuah buku tulis dari tasnya, “ini Sya, udah aku kerjain semuanya.”

“Ok, awas ya sampe nilai gue jelek. Itu sama photo profile wa lo tolong ganti dong, gedeg gue ngeliatnya, sok cantik lo.”

“Maaf, kali ini gak bisa Sya. Aku takut ditegur Bu Ningsih, maaf kalau kamu gak nyaman.” jawab Aluna dengan lembutnya.

“Oh jadi lo udah berani ngelawan gue? Istirahat temuin gue di gudang sekolah. See you Aluna.” ujar Asya lalu berlalu pergi, ia juga sempat menyeruduk pundak Aluna dengan kencang saat berlalu pergi.


Aluna sudah menyiapkan seluruh mentalnya sebelum menemui Asya dan kawan-kawannya. Dan benar saja, baru saja ia sampai ia sudah dilempari dengan tepung yang Asya bawa.

Sabar Aluna, sabar.

“Gak usah sok ngelawan gue makanya lo.” itu suara Asya, gadis itu tertawa puas melihat Aluna terlumuri tepung terigu.

“Udah jelek, makin jelek dah lo.” kali ini Azkia yang bersuara.

Olivia, Alila, dan Agam hanya tertawa dibelakang Asya. “Telor yang tadi gue suruh lo bawa mana Liv?”

Olivia langsung memberikan satu butir telur pada Asya, untuk memuaskan hatinya, Asya langsung melemparkan telur tersebut pada Aluna.

Melihat Aluna yang sudah terlumuri telur dan tepung mereka malah semakin tertawa dengan keras. Asya maju beberapa langkah, mendorong Aluna sampai terjatuh, “jangan pernah lo ngelawan gue lagi, atau hal kayak gini bakal terjadi lagi.”

Setelahnya, Asya dan teman-temannya pergi, menyisakan Aluna sendirian. Gadis itu terduduk pasrah sambil membersihkan tepung dan isi telur yang menempel di rok dan seragamnya.

“Ayo bangun..”

Aluna mendongak, “Jeenan?”

“Bangun Lun, pake seragam olahraga gue buat gantiin seragam lo yang kotor.”

Jeenan mengulurkan tangannya, membantu Aluna untuk berdiri. “Lo gapapa?”

Aluna mengangguk, “gapapa Je, makasih ya.”

“Gue ambilin baju olahraga dulu, lo tungguh sebentar disini.” ujar Jeenan lalu berlaku pergi.

Aluna tersenyum miris, memikirkan nasib mirisnya menjadi bahan bullyan untuk Asya. Andaikan ia bisa berbuat sesuatu.

A Happy Ending Story

Setelah merayakan kelulusan, Maraka mengajak Jihan untuk meluangkan waktu di Pantai sore harinya.

Maraka menarik Jihan menuju suatu tempat, wajah Maraka agak mencurigakan seperti menyembunyikan sesuatu.

“Mau kemanaa?” tanya Jihan.

“Udah ikut aja.” jawab Maraka, tangan cowok itu menggengam Jihan dan terus menariknya.

Sampai akhirnya mereka sampai disebuah tempat dekat bebatuan besar, tempatnya sepi.

Maraka menuju kebelakang badan Jihan dan menutup mata gadis itu, menuntunnya pelan-pelan.

Maraka melepas tangannya dari tangan Jihan, cewek itu terkejut melihat sesuatu didepannya.

“SO SWEET BANGET, THANK YOU!” seru Jihan, cewek itu buru-buru memeluk Maraka senang.

Di depannya tertulis “Happy Graduation” dengan hiasan simple yang sudah Maraka dibantu teman-temannya siapkan.

“You did well Jihan, semua tangisan kamu selama ngerjain skripsi gak sia-sia.” ujar Maraka sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu.

“Aku terharu, kamu niat banget sampe buat ini semua. Mau nangis..” lirih Jihan sambil menahan tangisnya.

Maraka tertawa, ia memegang pipi gadis itu, “hey, don't cry..”

Maraka kembali membawa gadis itu kedalam pelukannya. Membiarkan mereka berada diposisi itu untuk beberapa saat.

“I'm so lucky to have you, thank you karena udah nerima aku Jihan.. Nerima keegoisan aku.”

“Jangan ngomong gitu..” jawab Jihan, suaranya agak bindeng akibat habis nangis.

“Setelah kamu ngewujudin cita-cita kamu, dan setelah aku berhasil ngendaliin perusahaan, let's get married.”

Jihan memukul tubuh Maraka pelan, “enteng banget dah lu ngajak nikahnya. Yang romantis dikit dong.”

Maraka tertawa, lalu ia melepaskan pelukan diantara keduanya. Tangannya merogoh saku celana miliknya, mengeluarkan sesuatu dari sana.

Dengan posisi agak jongkok, Maraka mengeluarkan isi dari kotak yang ia ambil dari saku tadi. Meraih tangan kanan Jihan.

“Kayak gini udah romantis belum?”

Jihan mengangguk, “mau nangis lagi..”

Maraka memasukkan cincin di jari manis Jihan, “lets get married when you ready Ji, ketika kita udah bener-bener siap.”

Jihan mengangguk, cewek itu langsung memeluk Maraka senang. Jadi ini rasanya dilamar orang yang disayang?

“Aku nyiapin ini semua sampe berantem sama Arjuna gara-gara itu cowok kelamaan, penuh drama deh.”

“But glad you Like it.”

Matahari terbenam kala itu menjadi saksi bisu untuk sepasang kekasih dengan cerita romantisnya. Menjadi saksi bisu bagaimana keduanya saling mencintai untuk waktu yang lama, bahkan mungkin selamanya.