49 ; kapan nikah?
Sama seperti dulu-dulu, keadaan rumah masih sepi, hanya sedikit suara yang terdengar.
Maraka yang masih mengenakan pakaian kerjanya nyelonong masuk setelah menyapa satpam, dan pembantu rumah.
“Raka anak mama, apa kabar?”
“Eh ma, kabar Raka baik.” jawab Maraka.
Yena langsung memeluk anaknya penuh rindu, hampir satu bulan mereka tidak bertemu.
“Pulang dari kapan ma?”
“Kemarin.”
“Anak mama gemukan ih.” sambung Yena.
Lalu Yena merangkul Maraka dan mengajak putra satu-satunya itu untuk masuk menemui kakek dan papanya.
“Coba kamu ikut mama sama papa kemarin ke Jepang, bisa quality time kita.”
“Kerjaan Raka disini banyak ma.”
Mereka telah sampai di ruang makan. Sunyi, hanya ada suara para bibi yang sedang menyiapkan makanan.
Satria dan kakek sudah duduk tenang sambil menunggu makanan. Yena dan Maraka pun ikut duduk bersebelahan.
“Cucu kakek sudah datang.”
“Bagaimana kabarmu?”
Maraka langsung menoleh kaget, biasanya kakek hanya akan menanyakan kabar perusahaan, tapi kali ini beda.
“Kabar Raka baik.”
“Terimakasih sudah menjaga perusahaan kakek dengan baik ya, terimakasih juga untuk kerja kerasmu Raka.” puji kakek.
Maraka mengangguk canggung.
“Sekarang makan dulu, udah lama juga kan ya kita gak dinner bareng.” sambung kakek.
“Kamu masih sama pacarmu itu kah?” tanya kakek di sela-sela makannya.
“Masih. Kenapa?”
“Enggak apa-apa, kakek liat kamu lebih bahagia sekarang, kakek turut senang.”
Maraka langsung menoleh ke Yena yang langsung tersenyum dan mengangguk kecil.
“Terimakasih kek.”
“Kapan-kapan aja kesini dong Rak, papa juga mau ketemu. Masa mama doang yang udah ketemu, papa belum.” ucap Satria.
“Iya, nanti Raka tanyain ke anaknya dulu.”
“Anaknya baik loh pa, cantik lagi, asik juga, enak diajak bicara. Cocok sama Raka yang masih kaku sama orang. Tapi mama lihat Raka aktif banget kalau deket Jihan, berarti udah nyaman dan klop banget ya.” balas Yena, pembicaraan dan suasana semakin hangat.
Maraka tersenyum kecil, ini suasana yang ia inginkan sedari dulu. Hangat, obrolan sederhana tanpa membawa topik tentang saham atau perusahaan.
“Raka mau nikah umur berapa nak?” tanya kakek, pertanyaan yang hampir membuat Maraka mengeluarkan makanannya.
“Pak, tiba-tiba banget pertanyaannya, kasian ini anaknya keselek.”
Kakek tertawa, “pertanyaan seperti itu lumrah kan diumur-umur Raka yang sekarang. Lagi kakek hanya bertanya, bukan mendesak untuk segera menikah.”
“Enggak didekat, dekat ini kayaknya kek. Raka masih sibuk ngurusin kerjaan kantor, Jihan pun juga begitu. Lagi belum ada persiapan penuh buat lanjut ke jenjang yang lebih serius. Apalagi menikah itu kan sekali untuk selamanya, jadi Raka harus persiapin dari segi materi dan mental dulu semateng mungkin.”
Satria bertepuk tangan singkat dan mengusap kepala anaknya itu, “keren jawaban anak papa. Emang bener kok, pernikahan itu tanggung jawab yang besar, jadi gak hanya materi, mental juga harus mateng ya.”