189
Maraka merebahkan Jihan dikasur saat sampai. Ia benar-benar dendam pada Arkan yang membuat gadisnya seperti ini. Maraka diam memandang gadis itu sebentar, benar-benar cantik walaupun dengan keadaan seperti ini. Ah, Maraka benar-benar sudah jatuh hati padanya.
Saat hendak pergi untuk bersih-bersih, tangan Maraka ditarik oleh Jihan yang setengah sadar. “Loh, Maraka?”
Jihan belum benar-benar sadar dari mabuknya, Maraka yang mendengar panggilan Jihan langsung kembali duduk dihadapan gadis itu. “Kok bisa disinii?? Ngapain?”
“Nemenin kamu.” jawab Maraka, ia membantu merapihkan poni Jihan yang berantakan.
Kedua tangan Jihan mendekap pipi Maraka, “kenapa kamu baik banget? Aku jadi susah buat move on dari kamu kalo kayak gini.”
“Kenapa belum ngajak aku balikan sampe sekarang? Aku gapapa kamu aja backstreet lagi, gapapa, asal sama kamu huaa.”
“Tapi Mark, emang aku sebikin kamu malu itu ya sampe gak mau publish aku? Ya aku tau si aku gak cakep-cakep amat buat kamu yang ganteng abis.”
“Coba kalau aku secantik Aruna, mungkin kita masih pacaran terus pamer-pameran di instastory kali ya haha. Maaf ya, maaf aku gak cantik.”
“Tapi aku sok tau banget gak sih bilang gini, haha, kamu pun gak pernah cerita kenapa gak mau publish hubungan. Tapi mungkin aja gak sih karena kamu malu, kan gak mungkin kalo ternyata kamu selingkuh atau aku yang ternyata selingkuhannya. Indosiar banget.”
Maraka meraih tangan Jihan dan mengusapnya. “No you're not, kamu itu cantik, paling cantik buat aku. Aku gak pernah malu punya kamu, malah aku seneng dan bersyukur banget.”
Jihan tersenyum mendengarnya, walaupun dengan keadaan setengah mabuk, gadis itu masih bisa mendengar dan merasakan dengan jelas perkataan Maraka.
“Aku ceritain tentang kenapa nya besok ya, pas kamu udah sadar. Sekarang kamu tidur, pasti capek ya seharian ini kuliah, nugas. I love you Ji, now go to bed.”
Jihan menunjukkan jari kelingkingnya, “janji ya besok hehe?”
Maraka menakutkan kelingking mereka, “janji cantik, sekarang tidur ya, good night.”
Jihan mengecup singkat pipi kanan Maraka lalu merebahkan dirinya dan menutup dirinya dengan selimut. Maraka yang kaget hanya bisa tersenyum gemas, lalu pergi untuk membersihkan diri.
Sekembalinya Maraka, Jihan sudah tertidur pulas. Melihat Jihan seperti ini semakin membuatnya merasa bersalah, harusnya Maraka tidak membawa Jihan pada ketakutannya. Harusnya Maraka tidak menjadikan Jihan korban dari ketakutannya.
Maraka mengecek sebentar handphonenya, banyak telepon dan pesan tak terjawab dari kakek dan kedua orang tuanya. Maraka capek, ia tidak ingin menambah lelahnya dengan meladeni mereka yang isi pikirannya hanya bisnis, bisnis, dan bisnis.
“Udah bangun? Masih pusing gak?” itu suara Maraka. Cowok itu datang dari luar kamar dan ikut duduk di ranjang berhadapan dengan Jihan.
Jihan yang masih kebingungan hanya terdiam tak menjawab. Matanya memandang Maraka bingung.
“Bingung ya? Kamu semalem mabok, mau aku pulangin tapi kata Arjuna jangan soalnya bakal diomelin mama-papa kamu.”
Jihan terbelakak kaget. Bisa-bisanya ia melakukan sesuatu yang sangat ia hindari. Ia juga takut melakukan yang tidak-tidak saat mabuk semalam. “Gue, gak aneh-aneh kan?”
“Jawab jujur gak ya?”
“Maraka!”
“Obatin aku dulu, nanti aku jawab. Sakit Ji..” keluh Maraka sambil menunjukkan luka-luka disekitar wajahnya.
“Ish manja. Yauda mana sini obat-obatnya.”
Maraka bangkit dan mengambil kotak p3k miliknya di laci meja, lalu kembali dan memberikannya pada Jihan.
“Kok bisa gini sih? Emang semalem pada ngapain sih?” tanya Jihan, tangannya mulai beraksi mengobati Maraka.
“Aku berantem sama Arkan, ya habisnya dia kurang ajar bikin kamu mabuk gitu. Arkan jahat Ji.” jawab Maraka.
“Lo berantem karena nolongin gue? Wait, Bang Tama gak tau kan soal ini?”
“Bang Tama gak tau. Iya aku nolongin kamu sampe begini, makanya tanggung jawab, bantu obatin.” jawab Maraka.
“Ya ini juga lagi gue obatin.”
“Nanti sore ke pantai mau? Sekalian mau ngomong sesuatu, mau ya?” ajak Maraka.
“Boleh.”