Braga Punya Cerita.
“Thanks to you Win, karena lo ngajak keluar akhirnya gue terhindar dari pertanyaan kapan lulus dan sebagainya dari ibu-ibu.” ucap Jihan ditengah ramainya Braga malam ini.
Keduanya sedang berjalan ria memecah ramainya Braga, Bandung. Menikmati nikmat dan sejuknya suasana Bandung disore hari.
“Hahaha, pertanyaan lumrah buat remaja seumuran kita gak sih? Gue juga sering ditanyain gitu padahal baru taun kemaren masuk kuliah.”
“Iya si, tapi tetep aja pegel jawabnya.”
Keduanya berhenti didepan cafe, “mau pesen apa Ji?”
“Enaknya sore-sore makan waffle sama minum oreo cheescake gak sih? Gue itu aja deh.”
Winata mengacungkan jempolnya, lalu mengutarakan pesanannya pada pelayan cafe tersebut.
Setelah menunggu bbeberapa menit, Winata kembali dengan pesanan Jihan dan miliknya.
“Berapa Win? Biar gue gantiin uangnya.”
“Gak usah, gue traktir.”
“Demi apasi? Makasih loh.”
“Sama-sama. Oiya, gue bawa kamera analog, mau sekalian foto-foto gak?” tawar Winata.
Jihan mengangguk semangat. Saking semangatnya sampai tidak sadar bahwa ada bekas ice cream wafflenya menempel di sudut bibirnya.
Winata yang menyadari itu langsung mengusap sisa ice cream tersebut dengan jempolnya, “ada ice cream nempel.”
Jihan menoleh kaget, buru-buru ia mengelap mulutnya dengan telapak tangannya, “eum makasih win.”
Setelahnya, hadir sebuah kecanggungan diantara keduanya. Jihan masih syok dengan sikap Winata tadi, dan Winata agak gaenak hati karena canggungnya mereka sekarang.
“Kak permisi..” sapa seorang gadis kecil memecah kecanggungan mereka.
“Mau beli pudding aku gak kak? Daritadi belum ada yang beli.” sambungnya.
Jihan langsung mengeluarkan selembaran uang dua puluh ribu, “ih aku mau dong, berapa satunya?” tanya Jihan, ia berhenti dan mengambil posisi agak jongkok menyesuaikan gadis kecil di depannya.
“Satunya lima ribu kak, mau berapa?” tanya gadis itu dengan semangatnya.
“Aku mau empat boleh? Win, mau gak?”
Winata mengangguk, mengajak keduanya agak kepinggir agar tidak menghalangi orang yang berlalu lalang.
“Aku mau empat juga dong.” ucap Winata.
Gadis kecil itu buru-buru mempersiapkan pesanan untuk dua orang di depannya. “Ini ya kak, makasih banyak loh kakak ganteng, kakak cantik. Semoga rejekinya lancar terus.”
“Aamiin.” jawab Winata dan Jihan serempak.
Setelah menerima uang dari Jihan dan Winata, gadis kecil itu berlalu pergi.
“Suka kasian ngeliatnya, anak sekecil mereka yang seharusnya belajar dan main malah jualan buat ngelanjutin hidup.” ucap Jihan, mereka melanjutkan jalan-jalan sorenya.
“Iya, gak semua orang lahir dalam keadaan berada. Banyak yang terpaksa harus berjualan sejak kecil demi kelangsungan hidup. Itu sebabnya, kita orang yang beruntung lahir dalam keadaan berada harus banyak-banyak bersyukur.” timpal Winata.
“Iya Pak dokter, paham.” ledek Jihan.
Winata tertawa, mengusap pelan pucuk kepala Jihan, “bagus deh kalo ibu pengacara paham.”
Keduanya tertawa, mereka melanjutkan jalan-jalan hari itu dengan berkeliling braga dan sekitarnya. Menyaksikan para pemusik jalanan dan beberapa hiburan disepanjang perjalanan.
Hari itu Braga membuat cerita untuk mereka. Membuat cerita untuk dua manusia yang pernah saling mengisi kehidupan satu sama lain.