218
Maraka benar-benar pulang sesuai janjinya pada mamanya. Kalau bukan karena mamanya yang menyuruh, Maraka ogah pulang ke rumah.
“Raka anak mama, sehat?”
“Sehat ma.”
Yena langsung memeluk anak tunggalnya itu, lalu mengajaknya masuk untuk menemui ayah dan kakek Maraka yang sudah menunggu.
Maraka langsung duduk di kursi meja makan, menunggu kakek dan ayahnya selesai makan.
“Keren, kakek bangga padamu soal grand opening kemarin. Gak salah kakek mempercayakan perusahaan pada kamu.”
Maraka memutar bola matanya malas. Alih-alih menanyakan kabarnya, kakek malah langsung membicarakan tentang bisnis.
“Maraka, bagaimana kalau kamu meneruskan perusahaan kakek di Singapore sana? Soal kuliah gampang, tinggal pindah.”
“Maraka gak mau. Udah cukup Maraka menuruti keinginan kakek buat jadi ahli waris perusahaan.”
“Kenapa? Kan enak tinggal di Singapore sana, kehidupan dan pendidikan kamu juga akan kakek jamin.”
“Maraka tetep gak mau. Maraka punya temen, kehidupan disini, gak mungkin Maraka tinggalin gitu aja. Lagian apa kakek gak capek ikut campur sama kehidupan Maraka? Maraka aja capek ngikutin keinginan kakek mulu.” jawab Maraka jujur.
“Alah bilang aja kamu gak mau ninggalin pacar kamu itu. Tinggalkan aja kalau ia membawa pengaruh aneh, masih banyak cewek cantik dan kaya raya diluaran sana. Lagi kakek seperti ini demi jaminan masa depan kamu.”
“Udah Maraka bilang jangan pernah bawa-bawa dia. Maraka pokoknya gak mau ambil alih perusahaan Singapore, cukup yang disini aja. Kalau kakek maksa, Maraka bakal lepas tangan sama perusahaan yang di Jakarta.”
“Kok kamu jadi melawan seperti ini sih? Satria, liat anakmu ini, bisa-bisanya dia membantah ayah.”
Satria bingung, disatu sisi ia juga kasihan melihat Maraka yang harus selalu menuruti keinginan kakek, tapi ia tidak mungkin melawan ayah sendiri. “Raka..”
“Apa? Papa mau bela kakek lagi? Emang sama aja kalian, gak pernah ngertiin Maraka. Papa tau gak pengorbanan apa yang udah Maraka lakuin demi menuhin keegoisan kalian? Maraka gagal raih cita-cita Maraka jadi dokter gigi demi kalian.”
“Terus sekarang, kalian mau Maraka ninggalin kehidupan Maraka disini? Maraka gak mau.” sambung Maraka penuh emosi.
Daripada berada disini lebih lama dan emosinya semakin memuncak, Maraka memutuskan untuk pergi dari sana. Yena dan Satria sempat menghadang Maraka, tapi cowok itu memilih untuk tetap pergi daripada menghadapi keegoisan orang tuanya.
Maraka membanting stirnya kesal, memang pilihan yang salah untuk datang dan meladeni keluarganya.
Saat ini ia benar-benar frustasi, marah, dan Maraka butuh pelampiasan. Sempat muncul notifikasi chat dari teman SMAnya tentang ajakan untuk pergi ke arena. Karena Maraka benar-benar tak tahu harus kemana dan ia benar-benar membutuhkan pelampiasan, Maraka langsung menancapkan gas menuju arena.
“Wih si jagoan dateng juga.” ujar Ryan, teman SMA Maraka dulu.
“Lawannya siapa?”
“Arkan Wardana, anak kampus lo juga kalo gak salah.”
Maraka mengangkat satu alisnya, belum tobat juga ternyata.
“Minjem motor lo Yan.”
“Santai, pake aja.”
Selang beberapa menit, Arkan datang dengan wajah penuh luka bekas pukulan Tama beberapa hari lalu. “Wow Maraka..”
“Belum tobat juga ya lo ternyata. Kirain abis dipukulin Tama bakal tobat.”
“Tama? Zafran Pratama? Lo kenal Rak?” tanya Ryan.
“Abang cewek gue.”
Arkan menatap Maraka penuh menantang, “ngomongin soal cewek lo, kalau hari ini lo kalah balapan, Jihan buat gue. Gimana?”
“Jangan bawa-bawa Jihan anjing, sekere itu kah lo sampe jadiin anak orang taruhan?”
Arkan tertawa. “Enggak sih, cuma emang udah ngincer Jihan aja gue dari lama. Gimana? Kalau lo menang lo bisa ambil semua yang gue punya.”
“Kalau gue menang, lo gue abisin.”
“Deal.”
Keduanya mengambil posisi masing-masing, mereka sempat saling menatap penuh sengit. Maraka pastikan Arkan akan habis ditangannya hari ini. Dan Arkan pastikan, Jihan akan menjadi miliknya.
Bendera di kibarkan, keduanya langsung menancapkan gas dan saling mengebut.
Selang beberapa saat, keduanya kembali, Maraka memimpin, dan ya Maraka berhasil mencapai garis finish mendahului Arkan.
Cowok itu langsung menyeret Arkan turun dan memukulinya. Melampiaskan amarahnya disana, bahkan ia tidak peduli saat menjadi tontonan orang-orang disana.
Melihat Arkan benar-benar habis dibuat Maraka, Ryan langsung menarik cowok itu dan menahannya. “Udah Rak udah, tar anak orang mati berabe.”
“Jangan pernah libatin Jihan dalam hal apapun, atau lo bakal gue bikin sekarat.”
Setelahnya, Ryan menyuruh Maraka untuk pulang daripada terus disini dan emosinya semakin tak terkendali.
Maraka benar-benar pulang, bukan ke apartemennya, melainkan pulang ke kediaman Jihan. Maraka ingin melihat Jihan, meskipun sebentar dan hanya untuk meredakan emosinya.