31 ; cuma Jihan yang boleh.

Akhirnya pekerjaan untuk hari ini selesai juga. Maraka langsung mengambil kunci mobilnya dan jas miliknya untuk pergi pulang. Sebelum itu ia menyapa para karyawan yang masih stay dan mengucapkan selamat tinggal.

Setibanya di basement kantor, Maraka langsung menghampiri mobilnya.

“Halo?”

Maraka menoleh, berdiri sosok gadis berambut pendek yang membuat Maraka menghela nafas malas. “Kenapa?”

“Sorry tapi aku boleh nebeng sampe perempatan komplek deket sini gak ya? Supir aku gak bisa jemput.” tanya gadis itu, yang tak lain adalah Syavira.

“Pake ojol kan bisa, jaman udah canggih.” tolak Maraka.

Syavira meraih lengan Maraka dan menggoyangkannya pelan, “aku ada trauma naik ojol Rak, please? gak jauh kok.”

Apaan sih pegang-pegang, cuma Jihan sama Mama yang boleh. batin Maraka.

“Saya sibuk Syav, maaf. Itu kamu. Eum, EH YUDA! Nah itu sama Yudha aja.”

Yang namanya dipanggil, langsung menghampiri Maraka dan Syavira. Maraka menyambut Yudha dengan sumringah, terbalik dengan Syavira yang menyambut Yudha dengan wajah masam.

“Yudh, anterin Syavira nih, kasian.”

“Rokok seminggu.” sambung Maraka.

Yudha langsung mengancungkan jempolnya setuju, “ayo Syav.”

Syavira berdecak sebal, lagi-lagi rencananya gagal.

Yudha langsung mengajak cewek itu untuk pergi ke mobilnya, sedangkan Maraka langsung masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan lega.

“Lo gak akan bisa Syav. Gak ada yang bisa rebut Maraka dan Jihan, begitu juga sebaliknya.” ujar Yudha seperti bisa membaca situasi.

Mulai sekarang, Syavira akan lebih gencar untuk melaksanakan tugasnya mengetahui target mereka bukanlah pasangan biasa.

Semakin cepat Syavira menyelesaikan tugasnya, semakin cepat ia pergi dari bayang-bayang dan ancaman bosnya.