wnsscc

tw // sexual assault, cat calling

Pantulan cermin yang menampakkan wajah lelah dari seorang gadis 19 tahun. Gadis itu menghela nafasnya berat dan membasuh kembali wajahnya yang penuh peluh.

Ia kembali menguatkan dirinya dengan mengusap pucuk kepalanya, “you did a great job Elara.“

Ara memejamkan matanya sebentar, ia lelah, sudah dua pekerjaan yang ia lakukan hari ini demi melanjutkan hidupnya dan keluarganya.

Ara berbalik dan kembali ke tempat kerjanya, mengambil nampan dengan makanan pesanan pelanggan lalu berlalu pergi. Dengan sebisa mungkin Ara tersenyum dan menampakkan wajah manisnya untuk para pelanggan.

Ia berhenti di meja dekat jendela, meletakkan makanan-makanan pesanan para pelanggan dengan rapih dan hati-hati.

“What a pretty girl.” bisik salah satu pelanggan laki-laki berusia sekitar 40 tahunan pada temannya.

“What is your name pretty?” tanya pria tersebut dengan tatapan menggoda.

Ara hanya menjawab dengan senyuman, lalu kembali menata makanan.

“I think she doesnt understand what you say Rob.” ujar pria satu lagi kepada Rob.

Rob tersenyum jahil, lalu menaikkan satu alisnya dan mengkode sesuatu lewat mata pada temannya.

Perlahan Rob menjangkau jari jemari Ara dan mengelusnya, “how much are you worth for tonight?” tanya Rob yang langsung ditertawai oleh temannya.

Ara yang merasa dirinya sedang direndahkan dengan sigap menghempas tangan Rob dari jemarinya.

“Ow she's angry, hahaha.” ledek Rob.

Buru-buru Ara berbalik dan pergi sebelum Rob melakukan sesuatu yang aneh dan membuatnya marah.

Saat pergi Ara tak sengaja mendengar percakapan Rob dengan kawannya, “i really wanna play with her Jo, her body and her smile, uw.“

Ara benar-benar menahan tangisnya, bisa-bisanya ia diperlakukan dengan rendah oleh dua pria asing tadi.

“Ele-”

Ara langsung berlari pergi menuju kamar mandi, bahkan panggilan dari Zahra pun tak ia hiraukan.

Di depan cermin Ara memandangi kembali dirinya, ia benar-benar merasa terendahkan dengan pertanyaan Rob mengenai harga dirinya.

“Ele kamu gak apa-apa?” tanya Zahra yang membuat Ara mengusap air matanya dengan cepat.

“Eh Zahra, aku gak apa-apa kok.” jawab Ara dengan senyum palsunya.

“Terus kenapa nangis?”

“Kelilipan aku Ra hehe.”

“Oke, kalau ada apa-apa bilang aku aja ya Ele.” ujar Zahra lalu berlalu pergi.

cw // cheating

Ara dan Juni tengah mempersiapkan alat musiknya untuk penampilan hari ini. Keadaan Cafe juga ramai oleh pelanggan.

“Jangan gugup, santai aja.” ujar Juni.

Ara mengangguk, kembali mengatur nafasnya untuk mengurangi rasa gugup.

“First time ya Ra?” tanya Juni.

Ara mengangguk, “deg-degan.”

Setelah semua siap, Juni mengisyaratkan Ara untuk memulainya. Lagu pertama yang akan mereka bawakan adalah Billionaire by Travie McCoy ft. Bruno Mars.

Juni langsung menoleh kagum ketika mendapati suara halus milik Ara. Tangan gadis itu juga luwes dalam memetik senar gitarnya.

Saat lagu akan selesai, ring pintu berbunyi dan pintu pun terbuka. Menampakkan seorang laki-laki dan gadis dengan rambut yang tergerai.

Ara hanya tertawa kecil saat melihatnya, lalu kembali bernyanyi. Dirinya tak menyangka akan bertemu kekasihnya dan perempuan lain di Cafe ini.

Hansa, cowok itu langsung melotot kaget melihat Ara yang kini tengah menatap kearahnya. Cowok itu buru-buru mengajak perempuan disampingnya untuk pergi, mencari tempat lain. Perempuan itu menolak, ia juga belum menyadari kehadiran Ara disini, lalu menarik Hansa untuk duduk disalah satu meja kosong.

Setelah lagu selesai Juni menyuruh Ara untuk minum terlebih dahulu. “Nice performance. Gue suka suara lo.” puji Juni.

“Thanks Juni, lo juga keren kok.”

“Kalau habis ini gue bawain lagu Olivia Rodrigo yang traitor boleh gak?”

“Boleh. Kebetulan gue juga hafal.” jawab Juni.

Ara mengancungkan jempolnya, lalu mempersiapkan diri untuk lagu selanjutnya.

Sedangkan Hansa, tentu cowok itu merasa malu bertemu dengan kekasihnya dalam keadaan bersama perempuan lain. Sesekali juga ia mencuri-curi pandangan pada Ara.

“Kamu kenapa deh Sa?” tanya perempuan disampingnya.

“Aku gak apa-apa Lan.”

“Kesel banget deh aku lupa bawa kacamata, jadi gak bisa liat penyanyinya.”

Saat hendak menjawab, sudah terdengar suara petikan gitar. Kali ini Juni yang akan memainkan alat musik dan Ara yang akan bernyanyi.

Ketika bait pertama lirik tersebut dinyanyikan, Ara mengalihkan pandangannya ke arah Hansa dan Bulan.

Saat nyanyian memasuki reff, pandangan Ara kembali berpindah pada Hansa. Gadis itu menyindir kekasihnya melalui lagu yang ia bawakan.

Hansa pun merasa tersindir atas lagu yang Ara bawakan. Malu. Hansa malu.

“Suara bagus banget Sa, aku suka banget, halus gitu.” puji Bulan tanpa tahu siapa penyanyinya.

cw // family issue

Ara menghela nafasnya berat. Ia memandangi kertas pembayaran rumah sakit dengan bingung. Darimana ia bisa mendapatkan uang 1 juta dan harus diserahkan dalam satu hari atau Raina tidak bisa pulang.

Bahkan sisa gaji tiga pekerjaannya pun belum cukup untuk membayar biaya rumah sakit. Tanggal gajian pun masih tersisa 12 hari lagi.

Ara memejamkan matanya, memikirkan cara agar mendapatkan uang untuk membayar rumah sakit. Apa perlu ia mencari pekerjaan tambahan lagi?

Deva yang baru saja keluar dari ruangan menghampiri Ara. “Kak, mau cari makan dulu gak?”

Ara menggeleng, “lo aja Dev, gue mau hemat.”

“Hemat bukan berarti gak makan juga kan Kak. Lagi tumbenan lo hemat, emang sisa gaji kemarin abis?”

“Dev gue boleh minta tolong sama lo gak?” tanya Ara tanpa menjawab pertanyaan Deva tadi.

Deva mengangguk.

“Cariin gue pekerjaan lagi Dev, yang gajinya langsung bisa diambil. Gue butuh banget.”

“Kak, udah cukup tiga pekerjaan yang lo ambil. Jangan nyiksa diri lo lagi, emang lo gak cape kerja terus?”

“Kalau gue gak kerja nenek sama Raina mau dikasih makan apa? Lagi gue cuma butuh pekerjaan tambahan untuk sekarang doang, penting banget urgent.“

“Urgent dalam hal?” tanya Deva.

Ara membenarkan posisi duduknya, “biaya rumah sakit Reina. BPJS gue gak bisa dipake. Uang bulanan gue sisa sedikit. Kalaupun gue nekat pake mau makan pake apaan gue nanti?”

“Berapa emang?”

“Sejuta. Pusing banget gue Dev.”

“Gue yang biayain rumah sakit Reina deh kak, jadi lo gak perlu nyari kerja tambahan lagi. Gue tau lo capek.”

Ara menggeleng menolak, “Reina itu tanggung jawab gue Dev. Udah seharusnya gue yang bertanggungjawab kalau ada masalah kayak gini, lagian gue gak mau ngerepotin lo. Soal capek atau enggaknya gue mah gak masalah, yang penting keluarga gue sehat dan kenyang.”

“Gue udah janji sama Almarhum kakak buat jagain Reina.” sambung Ara.

“Reina sama nenek mungkin sehat, tapi mental dan fisik lo kak? Apa sehat juga?”

Ara terkekeh, “mental gue udah ancur dari semenjak ibu sama kakak meninggal Dev.”

“Oke gue ngerti kalau emang lo nolak bantuan gue kak. Tapi apa lo gak mau nyoba minta tolong sama ayah lo? Gimanapun juga dia ayah lo, kakek Reina.”

“Mending gue ke Padang jalan kaki daripada mohon-mohon ke Ayah yang hasilnya bakal tetep nihil. Ayah udah buang gue sama Reina Dev, dan semenjak itu menurut dia dan istri barunya yang tercinta berpikir kalau gue dan Reina bukan tanggung jawab dia lagi.”

“Kakak tiri lo yang perempuan, gak mau coba minta tolong sama dia?”

“Dia udah terlalu baik dan banyak ngebantu gue Dev, walaupun secara diem-diem. Bahkan dia rela nyisihin uang jajannya demi ngasih gue sama Reina kado. Gue juga paham biaya hidup di luar negri mahal, gak mungkin gue minta bantuan dia lagi.”

Ara kembali menyenderkan kepalanya, “bantu gue cari kerja tambahan ya Dev?”

“Raka.”

Maraka menoleh, kini mamanya telah duduk disampingnya. “Iya ma?”

“Jihannya enggak jadi dateng?”

“Jadi ma, lagi ganti baju sama bersih-bersih dulu dia. Nanti dateng kok.” jawab Maraka.

“Mama mau tanya sesuatu boleh?”

Maraka mengangguk.

“Raka beneran sayang sama Jihan?” tanya Yena.

“Ya bener ma, kalo gak sayang gak bakal sampe lima tahun gini.” jawab Maraka.

Yena mengangguk paham. “Keren anak mama, dijaga ya Jihannya.”

“Pasti.”

Entah, tapi Maraka merasa aneh dengan mamanya hari ini. Bukan sekali dua kali mamanya bertanya mengenai rasanya untuk Jihan.

Selang beberapa saat pintu unit terbuka, menampilkan Jihan dengan pakaian sopannya datang dengan senyuman.

Maraka langsung menghampiri gadisnya itu dengan tangan yang melebar.

“Ngapain?”

“Mau peluk.” jawab Maraka frontal.

“Enggak ah, ada mama kamu. Gausah ngada-ngada ya Maraka.” tolak Jihan dengan berbisik.

Maraka tertawa kecil, lalu mengajak gadis itu untuk duduk di meja makan dan menikmati masakan buatan mamanya.

“Kalau mau pelukan mah pelukan aja kali, anggap aja mama gak ada.” ujar Yena dengan senyuman menggoda diakhir.

“Hah engga Tan, Maraka cuma bercanda tadi.” balas Jihan.

“Tuh mama aja gapapa.” sambar Maraka. Jihan langsung merespon dengan cubitan dipinggang Maraka.

“Sakitt.”

Yena hanya tertawa melihat tingkah pasangan ini.

Tapi dalam hatinya ia merasa senang Maraka memiliki rumah nyaman selain dirinya, dimana Maraka berani menunjukkan sifat aslinya.

Kemudian Yena mempersilahkan Jihan duduk.

“Raka emang manja anaknya, dulu waktu kecil ngambek gamau tidur kalau gak dikasih kiss and hug.”

“Ma..”

“Jihan punya dua saudara ya?” tanya Yena.

“Iya Tan, dua-duanya cowok. Yang satu lagi sibuk kuliah yang satu sibuk kerja.” jawab Jihan sambil menikmati masakan Yena.

“Oh. Terus kalau mama gimana kabarnya? Sehat?”

“Alhamdulilah sehat sih Tan.”

“Ih Tante kapan-kapan mau ketemu mama kamu lagi dong, terakhir kali ketemu udah agak lama ya.”

“Bisa kok Tan, nanti aku coba bilang mama.”

—

Selesai makan, Jihan mengajukan diri untuk membersihkan piring-piring kotor. Tentunya dibantu oleh Maraka.

“Rak, berat Rak. Kepala kamu jangan nyender mulu.”

“Oh you gonna call me Raka too.“

Jihan mengangguk. “Enak ternyata manggil kamu Raka, gapapa kan?”

“Ya gapapa. But you promise to me before to call me Markie.” jawab Maraka dengan cemberut.

“Ngapain ih cemberut-cemberut gitu. Lagi susah jujur manggil kamu Markie, aku panggil Raka aja udah.”

Dibalik pintu kamar Maraka Yena mendengarkan seluruh obrolan mereka. Keakraban yang membuatnya semakin tidak tega jika suatu saat mereka benar-benar berpisah karena keegoisan kakek semata.

Cukup sudah Maraka mengorbankan mimpinya, jangan sampai cintanya pun ikut terkorbankan.

Cukup juga dia berdiam mengikuti alur buatan kakek sementara anaknya terus yang menjadi korban.

Dan akan merasa gagal juga Yena sebagai ibu jika ia tidak berhasil mencegah perjodohan yang bahkan keduanya sudah mempunyai pasangan masing-masing.

Di waktu istirahatnya, Jihan dan Arjuna menggunakan kesempatan tersebut untuk makan siang bersama di Cafe. Mereka memutuskan untuk pergi ke Cafe yang tak jauh dari kantor.

“Lo abis ini ke kantor Jaksa Jun?” tanya Jihan di sela-sela mengunyah makanannya.

“Iya.”

“Pak Adnan aktif banget deh asli, rajin-rajin deh ya lo sebagai anak didikan dia.”

“Ambis banget Pak Adnan asli deh Ji.” jawab Arjuna.

Arjuna langsung memberi tisu ketika menyadari ada bekas coklat di ujung bibir Jihan.

“Gue mau pesen minuman lagi, mau nitip gak?” tanya Jihan sambil bangkit dari kursinya.

Arjuna hanya menjawab dengan gelengan kepala, lalu Jihan berlalu pergi.

Keadaan Cafe saat ini cukup ramai, jadi Jihan harus menunggu beberapa antrian untuk memesan pesanannya.

“Jihan?”

Jihan menoleh. Berdiri sosok laki-laki dengan jaket denim dibelakangnya. Perawakannya tampak tak asing untuknya.

“Rayhan?”

“Iyaa gue Rayhan. Gak nyangka bakal ketemu lo disini. Sendiri aja Ji?”

“Enggak. Gue sama Juna, tuh anaknya lagi makan dipojok depan kaca.” jawab Jihan sambil mengarahkan posisi Arjuna dengan dagunya.

Rayhan langsung menoleh dan melihat posisi Arjuna. Cowok itu masih fokus makan dan tidak menyadari tatapan dari Jihan maupun Rayhan.

“Gak ngantor Ji?” tanya Rayhan.

“Ngantor kok. Ini lagi jam makan siang aja, makanya gue sama Juna ke Cafe. Lo?”

“Oh. Kalau gue emang lagi cuti, makanya bisa jalan-jalan bebas.”

Mereka mengobrol ria sambil sesekali maju selangkah karena antrian terus berkurang.

Arjuna yang baru menyadari bahwa Jihan sedang berbicara dengan seseorang, langsung memakai kacamatanya dan mencari tahu siapa yang sedang berbicara dengan Jihan.

“Rayhan Aldi?”

Setelah menerima pesanan, baik Rayhan ataupun Jihan, Jihan langsung mengajak Rayhan untuk duduk dan makan bersama dengan dirinya dan Juna.

“Rayhan?” tanya Arjuna ketika Rayhan berdiri dihadapannya.

“Iya ini gue Jun, lo apa kabar?”

“Gue baik. Gila udah berapa tahun gak ketemu kita.” jawab Arjuna langsung berjabat tangan dengan Rayhan.

“Kurang Athala gak sih? Kalo ada dia udah full member ini.”

“Sibuk dia, udah nikah juga anaknya.”

Obrolan berlanjut dengan asik dengan topik tentang masa-masa terindah mereka semasa SMP. Hingga tak terasa jam istirahat makan siang telah usai, Arjuna dan Jihan izin pergi duluan dan meninggalkan Rayhan sendiri.

“Even after so many years, she's still look pretty with those smile.“

“Never regret that time when i admire and like you Jihan Ayara.“

Sesampainya di kediaman Naka, mereka dipersilahkan masuk oleh sang tuan rumah.

“Abang mau main di kamar atau ruang tamu?” tanya Miya, mama Naka.

“Di kamar aja deh bun, gapapa kan?”

“Ya gapapa dong. Kalau laper atau perlu apa-apa langsung bilang bunda aja ya.”

Ansel, Maudy, dan Naka langsung mengacungkan jempolnya. Sedangkan Mahesa hanya mengangguk pelan.

“Assalamu'alaikum Naka!”

Itu suara Hema, tetangga Naka yang cukup akrab. Cowok itu menghampiri Naka dan yang lainnya. “Assalamu'alaikum tante. Hema mau ambil pesenan bolu mama, ada gak tan?”

“Waalaikumsalam Hema, ada. Sebentar ya tante ambil dulu.” jawab Miya lalu berlalu pergi.

Ansel yang merasa tak asing dengan namanya langsung menoleh. Ia buru-buru mengumpat dibalik badan Mahesa yang tinggi.

“Kenapa Sel?”

“E-enggak.”

Matanya pencuri-curi pandangan pada Hema yang tengah mengobrol dengan Naka. Pandangan mereka sempat bertemu sesaat sebelum Ansel kembali menyembunyikan wajahnya di balik Mahesa.

Sedangkan Mahesa, cowok itu hanya terdiam heran. Berkali-kali ia melirik Hema yang juga tak asing menurutnya.

“Sip, jadi adek kelas gue lo nanti. Kalau ada apa-apa tanya-tanya aja ke gue Ka.” itu adalah obrolan terakhir sebelum Miya datang dengan tentengannya.

“Ini ya Hema, terimakasih ya. Salam buat mama ya.”

“Makasih tante, nanti Hema salamin. Duluan ya, assalamu'alaikum.” jawab Hema lalu berlalu pergi.

“Waalaikumsalam.”

Ketika mendengar percakapan terakhir antara Hema dengan Naka, seketika tubuh Ansel melemas. “Sial gue, sial.” rutuk Ansel dengan berbisik.

Mahesa yang mendengar rutukan tersebut langsung menoleh. Nampak ekspresi pasrah Ansel, bahkan tangan Ansel meremas kaos Mahesa dengan cukup kuat.

Seluruh siswa baru dikumpulkan di tengah lapangan untuk melaksanakan upacara pembukaan MPLS. Sedangkan anak kelas 11-12 yang bukan OSIS atau penganggung jawab MPLS belajar seperti biasa di kelas.

Teriknya matahari seperti tidak bersahabat dengan keadaan sekarang. Akibatnya banyak siswa atau siswi yang mengeluh kepanasan bahkan ada yang hampir pingsan.

Ansel, Maudy baris depan belakang di barisan belakang. Selain karena telat, mereka juga termasuk siswa tinggi yang harus mengalah.

“Panas banget anjir. Matahari Jakarta ada dua atau gimana dah?” keluh Maudy berbisik.

“Liat dah temen lo. Gara-gara ketinggian dari sini aja keliatan.” ucap Maudy dengan mata mengarah ke Mahesa yang berbaris tak jauh dari mereka.

“Dia mah emang tinggi banget anjir.”

“Shut, jangan ngobrol.” tegur salah satu anggota OSIS yang sedang lewat berpatroli.

Ansel dan Maudy langsung berdiri tegap menghadap ke depan. Sedang ada amanat pembina upacara yang sedang berlangsung cukup lama.

Semakin lama, teriknya matahari semakin bertambah. Dan sudah banyak juga siswa yang tumbang tak kuat dan berakhir beristirahat di UKS.

Ansel memegang kepalanya yang terasa pusing. Tadi pagi ia hanya sempat sarapan roti satu buah karena kesiangan.

Peluh keringan pun bercucuran ditambah dengan kepala yang semakin sakit.

“Sel, gapapa?”

Ansel tak menggubris, bibirnya kini memucat dengan keringat yang semakin bercucuran.

Tak kuat, ia mengganti posisinya dengan posisi rukuk untuk mencegah matahari mengenai penglihatannya.

“Kak!” panggil Maudy dengan suara pelan dan menunjuk ke arah Ansel yang masih berada diposisi sama.

Salah satu perwakilan anak OSIS datang untuk mengecek keadaan, “pusing?”

Ansel mengangguk. Ia langsung dibawa menuju UKS. Anehnya Ansel merasa tak asing dengan aroma orang di sampingnya, tapi tak ia perdulikan karena kepalanya sudah benar-benar pusing.

“Sa, titip. Pusing katanya.”

“Lah? Bukannya lo petugas upacara Ma?”

“Digantiin Tio, kesiangan gue tadi.”

“Oh.”

“Ayo duduk disini, aku bikinin teh anget dulu ya.”

Ansel duduk di sofa dalam UKS. Ada cukup banyak orang disana. Ia menyederkan tubuhnya dan melepas topi serta mengatur nafasnya.

Ansel sempat melirik ke arah orang yang membawanya tadi, dari postur tubuh dan aroma tubuh ia merasa tidak asing.

“Lah? Anak tukang fotocopy?” seketika ia duduk tegap dan mencari keberadaan orang tadi, tapi nihil, ia tidak ada disini.

Athalia tertawa ketika melihat dua anak kecil sedang bermain peran menjadi orang tua dengan boneka di gendongannya. Membuatnya teringat akan masa kecilnya dulu.

Asik tertawa, sampai tak sadar bahwa Raja sudah datang dan duduk di sampingnya memperhatikan dirinya yang tertawa sejak tadi. Cowok itu tak berhenti tersenyum.

“Gemes banget ya mereka?”

Athalia tersentak kaget, ia reflex memukul pelan lengan Raja. “Kak, kaget.”

“Ahahaha sorry, sorry.”

Athalia membenarkan posisi duduknya, “udah dari kapan ada disini?”

“Belum lama sih Thal. Dari anak kecilnya pura-pura ngasih susu ke bonekanya.”

“Merhatiin banget ya kak..”

Raja langsung merogoh sakunya mencari sesuatu. Lalu ia mengeluarkan gelang buatan dengan hiasan sapi dari sakunya.

“Ih lucu!” seru Athalia.

Raja memberikan gelang tersebut, “buat kamu, buatan adik saya.”

“Beneran buat aku?”

Raja mengangguk. “Kembaran sama saya. Saya bebek, kamu sapi.” ucap Raja sambil menunjukkan tangannya yang sudah berhiaskan gelang dengan hiasan bebek.

“Makasih Kak Raja dan adiknyaa!”

Athalia langsung memakaikan gelangnya di tangan, ikut memajukan tangannya sampai bersentuhan dengan tangan Raja.

“Wow gemess!”

“Mau aku foto dulu, boleh gak?” tanya Athalia meminta izin.

Raja mengangguk, lalu membenarkan posisi tangannya agar Athalia memotretnya dengan sempurna.

“Udah kak, thank you udah mau minjemin tangannya!”

Melihat Athalia dengan senyum cerahnya, Raja teringat mengenai tujuannya mengajak Athalia bertemu malam ini. Untuk perpisahan minggu kedepan, mungkin?

“Thal.”

“Iya kak?”

Raja menelan salivanya ragu, ada rasa kelu di lidah sehingga tak ada sepatah kata yang ingin ia ucapkan keluar.

“Kak?”

“Ah enggak jadi, maaf.”

Pengecut. Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal untuk sementara saja Raja tidak berani.

Maaf Athalia.

Raja menunggu kedatangan Athalia di rooftop tower apartemennya.

Beberapa menit kemudian Athalia datang dengan senyum ceria dan sapaan hangatnya. Gadis itu ikut duduk di bangku kayu di samping Raja.

“Gak jadi jalan-jalan kak?”

“Sini aja, temenin saya. Enak, adem.” jawab Raja.

“Kakak lagi dengerin lagu apa?”

“I hear a symphony by Cody Fry.“

“Wow such a romantic song“

Raja menawarkan bagian kanan earphonenya, “mau dengerin bareng?”

Athalia mmengangguk, lalu mengambil earphone kanan dan meletakkannya di telinga.

“I always feel like i'm in a theater show playing as a main character who fallin love with her bestfriend whenever i hear this song.“

“Tau gak kak? One of my dream is to be playing any roll in a musical theater. But i cant.“

“Kenapa?”

“Aku bukan tipe orang yang percaya diri. Aku pernah coba sekali buat audisi buat salah satu peran di musical theater, but i messed up. Aku gugup dan berakhir lupa dialog dan tereliminasi.”

Raja mencabut earphonenya, mengeraskan volume lagu dan memulai lagu dari awal lagi. Ia bangun dan mengulurkan tangannya.

“Ngapain kak?”

“Makes your dream come true.“

“Kak Raja..”

Athalia menerima uluran tangan dari Raja. Mereka berdua kini berhadapan dengan kedua tangan saling bertaut.

“Just imagine that we are bestfriend who fallin love with each other, and dance with the feels in it.“

Saat lagu memasuki bagian reff, Raja mulai menuntun Athalia untuk berdansa bersama. Awalnya Athalia ragu, tapi dengan arahan dari Raja, ia mulai menggerakan kakinya dan menatap Raja seolah dia adalah sahabatnya yang ia cintai.

Raja tersenyum, begitupun Athalia.

Gelak tawa juga sempat hadir diantara keduanya.

Sore itu, langit menjadi saksi kisah romansa dan rasa yang mulai muncul diantara keduanya.

Lagu berakhir, begitupun dengan dansa romantis mereka. Diakhiri dengan Athalia yang membungkuk anggun sebagai penanda akhir dansa.

Gadis itu mengangkat tangannya, bermasuk untuk mengajak Raja tosan, tapi dengan cepat laki-laki itu mendekap Athalia, erat.

Athalia yang tidak siap dengan pergerakan Raja hanya terdiam kaget. Jantungnya berdegup dengan cepat seketika. Harum parfum Raja membuat dirinya seketika nyaman, ditambah dengan dekapan hangat dari Raja.

Tangan Athalia bergerak mengusap-usap punggung Raja, dan laki-laki itu membalas dengan usapan di kepala Athalia.

Dansa romantis yang diakhiri dengan pelukan penuh kasih.

Raja yang seolah tidak ingin melepas dan Athalia yang hanya diam tak berkutik.

Athalia menghampiri Raja yang sedang memotret sebuah tanaman dengan kameranya.

“Halo Kak!”

Raja menoleh, “Athalia halo, sebentar ya.”

Raja kembali pada aktivitas memotretnya, Athalia yang penasaran ikut mengintip hasil foto setelah Raja memotret. Membuat jarak diantara mereka begitu dekat.

“Tha-” omongan Raja terhenti ketika tatapan mereka bertemu dengan posisi wajah yang sangat dekat, terpisah 5cm saja.

Raja mengedipkan matanya beberapa kali, berakhir menjauhkan wajahnya dan menciptakan atmosfer canggung untuk dirinya.

“Kenapa kak?”

“Eh itu, saya mau nawarin kamu buat jadi model foto saya. Mau gak?” tawar Raja.

Athalia mengangguk semangat, walaupun ia merasa agak aneh mengapa Kak Raja tak berani menatapnya dan menjadi canggung.

Athalia langsung mengambil posisi bagus, dan Raja hanya mengikuti gadis itu.

“Udah?”

“Udah kak, ayo!”

Raja mengarahkan kameranya ke posisi sempurna untuk mengambil gambar Athalia.

Setelah beberapa kali Raja mengambil gambar dan Athalia yang sudah beberapa kali mengambil posisi, mereka menyudahi sesi foto hari ini.

“Nanti kirim ya kak.”

“Iya Thal.”

Berlanjut dengan Athalia mengajak Raja untuk berpiknik kecil-kecilan dengan snack dan makanan ringan yang ia bawa.

Mereka juga bercerita-cerita atau bergurau dengan asik seperti kawan lama.

Dari dua belah pihak, baik Athalia maupun Raja, mereka merasakan kenyamanan saat berada didekat satu sama lain.