39 ; 1001 cara

Ruangan rapat hari ini cukup ramai dengan kumpulan orang dari berbagai perusahaan dibawah naungan G&J company maupun AZ company. Materi rapat hari ini tentang peluncuran produk terbaru hasil kolaborasi dan kerja sama para pekerja terbaik dari masing-masing perusahaan.

Sementara Aruna dan Maraka berada di meja bagian depan, Daksa, Gia, Syavira, Ghea, dan Yudha duduk di bagian paling belakang. Mereka menunggu sekaligus mencatat materi penting tentang hari ini.

“Eum Daksa, sorry tapi laptop aku tiba-tiba mati, can you help me buat colokin chargeran di stop kontak disamping kamu?” tanya Gia meminta bantuan. Sedangkan Syavira hanya bergidik ngeri melihat kelakuan sok imut dari temannya.

Tanpa menjawab, Daksa langsung mengambil chargeran dari tangan Gia dan mencoloknya ke stop kontak, lalu cowok itu fokus kembali pada rapat.

“Thank you Daksa!“

Kini, giliran Syavira melancarkan aksinya untuk membuat Ghea dan Yudha pulang bersama nanti.

“Ghe, nanti kamu pulang bareng Pak Maraka ya?” tanya Syavira.

“Iya Sya, kenapa?”

“Eum sorry, tadi Pak Maraka bilang tepat sebelum rapat, dia mau ngajak aku ke tempat salah satu proyek kita di Kemang. Jadi kamu pulang bareng Yudha dulu ya..” jawab Syavira, 100% berbohong.

Yudha yang merasa namanya ikut terseret langsung menoleh.

“Konteks Pak Maraka ngajak lo ke tempat proyek?” tanya Ghea memastikan.

“Mungkin dia mau aku belajar kali ya, secara aku kan anak baru. Jadi gak apa-apa ya?”

Ghea berpikir sebentar, “agak aneh tapi oke lah.”

Syavira bersorak penuh menang di dalam hatinya, begitupun dengan Gia yang menoleh bangga pada keberhasilan temannya.

*Syavira sus. * batin Yudha.


Setelah berpamitan dengan Daksa, Aruna, dan Gia, Maraka pergi untuk segera pulang. Sedangkan Syavira hanya mengintili cowok itu setelah Yudha dan Ghea pulang.

“Loh, kamu ngapain? Ghea mana?” tanya Maraka saat menyadari bahwa bukan Ghea yang mengikutinya.

“Itu Rak, Ghea harus pulang bareng Yudha karena ada acara gitu, tadi belum sempet bilang ke kamu jadi nitip pesannya ke aku.” jawab Syavira, lagi-lagi berbohong.

“Oh, terus, kamu ngapain ngintilin saya?”

Syavira tertawa canggung, “gini loh Rak. Mobil aku ternyata mogok, masih di bengkel, dan kamu tau kan aku gak bisa naik ojek online. Niatnya aku mau nebeng, hehe.”

“Taksi online gak bisa?”

Syavira menggeleng.

Maraka bingung. Ia risih sebenarnya, tapi kasihan juga jika harus menolak dan menelantarkan Syavira disini sendirian, apalagi gadis itu punya trauma.

“Cuma sampe depan komplek?”

Syavira mengangguk semangat.

“Oke, naik.”

Syavira berseru senang dalam hatinya, langkah pertamanya berhasil. Kini ia hanya akan melakukan sesuatu lagi setelahnya untuk mempercepat semua ini.

Jika Syavira berhasil, maka ia bisa lepas dari nerakanya. Neraka berbentuk manusia yang membuatnya menderita beberapa tahun ini.