02

Jihan mengetuk pintu ruangan Maraka, setelah mendengar jawaban masuk Jihan langsung membuka pintu tersebut. Ia muncul dengan senyum indah dan dua kantong mie ayam yang ia beli.

“Haloo, ganggu gak?”

Maraka tersenyum senang, kepalanya menggeleng. Dengan cepat ia menghampiri Jihan dan membantu gadis itu membawa mie ayam.

“Tumben kesini, lagi gak sibuk?”

“Sibuk si gak terlalu ya, aku sengaja kesini mau lunch bareng kamu hehe.”

“Sering-sering Ji.”

Jihan duduk terlebih dahulu di sofa ruangan, “dikira dari kantor aku ke kantor kamu tinggal salto kali ya. Aku kesini juga nebeng sama anak kantor yang kebetulan satu arah.”

“Cowok?”

Jihan mengangguk, “sekali doang, hehe. Daripada naik ojek, keluar duit lagi.”

“Kalau gitu mending aku aja yang jemput, daripada kamu berduaan sama cowok.”

“Yauda maaf..”

“Termaafkan dengan effort kamu kesini. Eh aku mau ceritaa, hari ini aku kesel banget dah.”

Jihan berdehem merespon. “Cerita aja.”

“Sumpah, ada anak magang ngeselin banget pake ngilangin berkas penting. Aku sama Yudha bikin itu dua hari Ji asli, malah diilangin. Mana besok pagi harus nyerahin ke investor, untung dia mau tanggung jawab buat bantu Yudha, Ghea ngebuat berkas ulang.”

“I had a bad day, can you give me a little hug?” sambung Maraka Jihan.

“Little hug ya?”

“A big hug if you want.”

Jihan terkekeh, “big hug nya nanti dirumah aja, apart kita kan sebelahan.”

“Cuddle?” pinta Maraka.

Jihan mengangguk, Maraka tersenyum senang. Gadis itu merentangkan tangannya untuk menyambut Maraka yang langsung memeluk gadis itu. “You did well Mark.“

“Makan dulu ya.”

Maraka masih enggan melepas pelukannya, terlanjur nyaman.

“Kamu dah kebiasaan kalo dipeluk gamau ngelepas.”

Maraka tertawa kecil, “i love your comfortable hug, always make me feel better.”

“Ok Mr. Gombal, now it's time to eat, now eat your chicken noodle. Atau mau disuapin?” tawar Jihan.

Akhirnya Maraka melepas pelukannya, lalu mengangguk semangat. “Ok baby Maraka.”

Maraka benar-benar menjadi versi termanjanya ketika bersama Jihan, Jihan benar-benar rumah ternyamannya yang bisa membuatnya lebih lepas mengekspresikan diri.