03

tw // bullying

Aluna melangkah masuk ke dalam kelasnya, baru saja ia sampai, ia sudah disambut oleh tatapan kebencian dari Asya dan kawan-kawannya.

“Eh cupu, mana tugas gue?” pinta Asya sambil melipat tangannya di dada.

Aluna langsung mengeluarkan sebuah buku tulis dari tasnya, “ini Sya, udah aku kerjain semuanya.”

“Ok, awas ya sampe nilai gue jelek. Itu sama photo profile wa lo tolong ganti dong, gedeg gue ngeliatnya, sok cantik lo.”

“Maaf, kali ini gak bisa Sya. Aku takut ditegur Bu Ningsih, maaf kalau kamu gak nyaman.” jawab Aluna dengan lembutnya.

“Oh jadi lo udah berani ngelawan gue? Istirahat temuin gue di gudang sekolah. See you Aluna.” ujar Asya lalu berlalu pergi, ia juga sempat menyeruduk pundak Aluna dengan kencang saat berlalu pergi.


Aluna sudah menyiapkan seluruh mentalnya sebelum menemui Asya dan kawan-kawannya. Dan benar saja, baru saja ia sampai ia sudah dilempari dengan tepung yang Asya bawa.

Sabar Aluna, sabar.

“Gak usah sok ngelawan gue makanya lo.” itu suara Asya, gadis itu tertawa puas melihat Aluna terlumuri tepung terigu.

“Udah jelek, makin jelek dah lo.” kali ini Azkia yang bersuara.

Olivia, Alila, dan Agam hanya tertawa dibelakang Asya. “Telor yang tadi gue suruh lo bawa mana Liv?”

Olivia langsung memberikan satu butir telur pada Asya, untuk memuaskan hatinya, Asya langsung melemparkan telur tersebut pada Aluna.

Melihat Aluna yang sudah terlumuri telur dan tepung mereka malah semakin tertawa dengan keras. Asya maju beberapa langkah, mendorong Aluna sampai terjatuh, “jangan pernah lo ngelawan gue lagi, atau hal kayak gini bakal terjadi lagi.”

Setelahnya, Asya dan teman-temannya pergi, menyisakan Aluna sendirian. Gadis itu terduduk pasrah sambil membersihkan tepung dan isi telur yang menempel di rok dan seragamnya.

“Ayo bangun..”

Aluna mendongak, “Jeenan?”

“Bangun Lun, pake seragam olahraga gue buat gantiin seragam lo yang kotor.”

Jeenan mengulurkan tangannya, membantu Aluna untuk berdiri. “Lo gapapa?”

Aluna mengangguk, “gapapa Je, makasih ya.”

“Gue ambilin baju olahraga dulu, lo tungguh sebentar disini.” ujar Jeenan lalu berlaku pergi.

Aluna tersenyum miris, memikirkan nasib mirisnya menjadi bahan bullyan untuk Asya. Andaikan ia bisa berbuat sesuatu.