wnsscc

Maraka memakirkan mobilnya tak jauh dari tempat kejadian. Laki-laki itu keluar dengan kotak p3k seadanya yang tersedia di mobil.

Pandangannya menjelajah mencari dimana keberadaan Syavira. Sampai pandangannya menangkap sosok Syavira yang tengah terduduk lesu dengan keadaan berantakan tak jauh dari tempatnya.

“Syavira.”

Perempuan itu mendongakkan kepalanya. Mimik wajahnya berubah bahagia ketika melihat Maraka datang dan berdiri tepat di depannya.

“Raka.. Makasih.”

Maraka menyerahkan kotak p3k kecil pada Syavira, menyuruh gadis itu untuk mengobati lukanya sendiri.

Syavira menerimanya, membukanya, dan mulai mengobati luka di kaki dan lengan.

Sedangkan Maraka, cowok itu hanya berdiam diri, menyaksikan Syavira yang sedang mengobati dirinya.

“Ngapain disini sendirian?” tanya Maraka.

“Tadi abis dateng dari ultah temen, niatnya mau cari taksi disekitar sini karena emang gak ada taksi satupun di tempat ultah. Ternyata malah kena sial begini.”

“Kenapa gak pesen ojol?”

“Malem-malem begini siapa yang mau ambil? Lagi tempatnya sepi banget Rak asli deh.”

Syavira menyerahkan kotak p3k pada Maraka setelah selesai, “makasih ya.”

“Tunggu dulu disini sebentar sampe Yudha dateng. Saya ada urusan lain, kamu pulang sama Yudha.”

“Urusan lain atau takut pacar kamu marah?”

“Gausah kepo.”

Ansel duduk di bangku kelas sendirian. Keadaan kelas kini kosong menyisakan dirinya yang tak bisa kemana-mana akibat luka di kakinya.

“Agak horor ya anjir gue di kelas sendiri. Lagi kompak bener dah satu keluar, keluar semua.” oceh Ansel pada dirinya sendiri.

Dirinya hanya ditemani suara AC dan ocehan-ocehan siswa sekolah dari luar kelasnya.

Mengantuk, gadis itu menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangannya, mulai mencoba memejamkan matanya.

Gagal. Ia gagal memejamkan matanya karena suara ketukan di pintu, dengan cepat gadis itu kembali mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang mengetuk.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Loh, sepi banget.”

“Lagi pada di kantin kak, istirahat.” jawab Ansel.

“Eh ada orang, lah lo?”

Yang tadinya mengantuk, melihat siapa yang datang kondisi Ansel langsung segar bugar.

“Kakak PMR ya?”

Yang diajak bicara melangkahkan kakinya menuju tempat Ansel dengan setumpuk kertas di tangannya.

“Masih gak inget gue ternyata.”

Ansel menelan salivanya panik, takut-takut orang di depannya mengungkit masa lalu mereka yang agak memalukan.

“Lo Ansel kan?” tanyanya, Ansel mengangguk.

“Gue Hema, Hema Pramudya.”

“Lo beneran gak inget gue?” tanya Hema sambil menaruh tumpukan kertas di atas meja Ansel.

Ansel menggeleng.

“Padahal dulu kita sering berangkat ngaji bareng. Tapi gapapa, lain kali pasti lo inget.”

Ansel tersenyum canggung, peluh pun mulai berseluncur indah di keningnya.

“Ini formulir buat ekskul, nanti bagiin ke temen-temen lo. Deadline pengumpulan Jum'at, kalo bisa kumpulin semua dulu baru serahin nanti ke gue.

Kalau mau serahin besok di ruang OSIS sekitaran abis zuhur. Kalau mau serahin Jum'at kalo bisa pagi, soalnya siangnya sholat jum'at.

Nanti bilang aja mau serahin formulir ekskul ke Hema gitu. Paham gak Sel?”

Ansel mengangguk, “paham kak.”

“Satu murid minimal ambil satu ekskul ya, jangan ada yang gak ikut, gue yang pusing nanti.”

“Nanti lo minta anak kelasan lo aja buat bagiin, masih sakit kan kaki lo?”

“Iya kak.”

“Sel lo beneran gak inget gue?”

Lagi-lagi Ansel menggeleng.

“Padahal gue mau nepatin janji gue dulu, yauda deh, gue duluan ya, jangan lupa ya Sel.”

Ansel mengangguk lesu.

Hema ingat, Hema ingat akan janji konyol mereka berdua dulu.

Ansel menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan sedikit kasar, merutuki dirinya dan kebodohannya dulu.

tw // mention of blood

Dengan berlari, Ansel menyusuri lorong sekolahnya dengan wajah panik dan sedikit terpincang-pincang. Pasalnya, saat akan pergi ke sekolah tadi, ia terjatuh karena tak berhati-hati ketika berlari.

Bahkan secara tak sadar, ada darah yang menembus di rok biru panjangnya. Rasa sakitpun tak terasa sedikitpun karena rasa takutnya dihukum oleh kakak OSIS.

“Eh kamu, sini!”

Ansel memejamkan matanya, lalu berbalik secara perlahan dan merutuki kesialannya hari ini dalam hati. Dengan berat Ansel melangkahkan kakinya menuju perempuan dengan kerudung putih segiempat yang berdiri tak jauh darinya.

“Telat? Gak liat sekarang jam berapa?”

“M-maaf kak.”

“Ini hari terakhir mpls loh, gak disiplin banget. Yang lain udah upacara penutupan kamu malah baru dateng.”

“Maaf kak, kesiangan.”

Perempuan didepannya menggeleng dengan mimik galak.

“Udah telat, rok basah, itu kenapa bisa basah?”

“Hah?”

Ansel memencet asal bagian basah roknya, tanpa mengetahui luka di kakinya.

“Aduh!”

“E-eh kenapa?”

Perlahan Ansel menghangatkan sedikit roknya, sampai menunjukkan bagian luka basah dengan darah disekitarnya.

“Allahuakbar berdarah.”

“Bentar, bentar, tunggu disini.”

Cewek berkerudung itu berjalan cepat meninggalkan Ansel yang masih kesakitan.

Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali dengan seorang laki-laki dengannya.

“Kenapa?”

“Kakinya luka, lo mantan anak PMR kan? Bawa ke UKS Ma tolong, gue mau lanjut keliling.”

“Boleh, ayo ikut gue.”

Ansel mendongak sedikit, ia tidak bisa melihat wajah cowok didepannya, hanya terlihat punggung lebarnya dengan rambut hitam pekat.

Dengan terpincang-pincang Ansel berjalan mengekori orang di belakangnya, melewati para siswa baru yang sedang berupacara. Ia sedikit menjadi pusat perhatian beberapa guru dan siswa disana, malu? Banget kalau kata Ansel.

“Duduk.” titah cowok itu saat mereka telah sampai di UKS.

Ansel kembali mendongak, agak terkejut ketika tahu siapa yang ada di depannya. Buru-buru ia mengalihkan pandangan serta wajahnya.

“Kenapa ini ma? Kok masih pake tas? telat?”

Cowok itu mengangguk sebagai jawaban.

“Kenapa kamu?”

“Ini kak, kakinya, luka.” jawab Ansel sambil mengangkat sedikit roknya dan memperlihatkan luka di kakinya.

“Ih kok bisa?”

“Tadi ada jatoh, keseret di aspal gitu.”

“Pasti sakit banget ya, aduh, aku yang lihat juga ngilu.”

“Ma, ambilin kotak P3K deh.” titah perempuan dengan seragam PMR dan dengan nametag Bella Dafhina.

Setelah menerima peralatan P3K, Bella mulai mengobati luka di kaki Ansel.

Perih, sakit, tidak sesekali gadis itu meringis kesakitan. Bahkan bantal di sampingnya menjadi korban remasan tangan Ansel saat menahan sakit.

Setelah diobati, Ansel disuruh untuk stay di UKS, cowok yang tadi mengantarnya pun memberikan tisu dan teh manis pada Ansel yang penuh keringat karena kesakitan.

“Namanya siapa? Mau aku data.”

“Ansel, Ansela Ayudia.”

“Ansel?” gumam cowok tadi dengan pelan.

tw // nose bleed , blood.

Athalia melambaikan tangannya ketika bertemu kembali dengan Raja setelah beberapa minggu berpisah.

“Haloo Kak Raja!”

“Halo Thalia.”

Tentu saja Raja menyambut kedatangan Athalia dengan hangat dan penuh senyum, rasa rindunya selama ini akhirnya terbayar.

Cowok itu membenarkan posisi duduknya agar sejajar dengan Athalia yang baru saja duduk disampingnya.

Tatapan Raja tak pernah lepas dari Athalia sejak wanita itu pertama kali datang. Raja terhipnotis dengan Athalia. Raja benar-benar sedang jatuh cinta.

“Kamu kangen saya gak?”

“Kak sumpah aku baru nyampe yaampun..”

“Maaf, maaf. Tapi serius, saya kangen kamu.”

“Iya, iya, aku juga kangen kakak.”

Raja terkekeh, “maaf karena waktu itu saya menghilang tanpa kabar. Saya pikir saya bisa menghubungi kamu setelah beberapa hari pindah ke rumah sakit, taunya kondisi saya makin parah setelah saya pindah.

Maaf ya. Saya tau banget saya salah, saya cuma gak mau buat kamu khawatir. Posisinya kamu masih sakit, dan saya gak mau bikin tambah parah dengan kondisi saya waktu itu.”

Athalia tersenyum. “Kak, gapapa, aku paham kok. Maaf juga karena udah buat kesimpulan kalau Kak Raja cuma main-main gara-gara ngilang.”

“Terimakasih, karena udah ngertiin saya.”

Athalia mengangguk.

Mata mereka kini saling bertemu. Tatapan penuh cinta untuk seseorang yang kini berada dihadapannya.

“Ini ACnya nomor berapa deh kak? Dingin jujur.” tanya Athalia memecah keheningan mereka.

“Maaf, maaf, mau saya kecilin?”

“Kalau gak bikin kakak kegerahan sih gapapa, cuma kok ini dingin banget ya.”

Raja mengambil hoodie hitam miliknya yang tergeletak di kursi disamping ranjangnya.

“Dipake.”

Cowok itu menyerahkan hoodienya pada Athalia yang menerimanya dengan bingung.

“Buat aku?”

Raja mengangguk, “biar gak kedinginan.”

“Kamu pake hoodienya, saya kecilin ACnya.”

“Kalau udah pake hoodie ACnya gausah dikecilin kak, hehe.”

“Makasih ya kak.”

Raja mengangguk. Athalia sedikit menjauh dan membalikkan badannya untuk memakai hoodie milik Raja. Begitupun Raja, cowok itu mengalihkan pandangannya sementara Athalia memakai hoodie sebagai doublean pakaiannya.

Saat Athalia masih sibuk dengan pakaiannya, Raja mengecek hidungnya merasa ada yang mengalir dan menyentuh bibirnya.

Mimisan. Lagi-lagi Raja mimisan. Kenapa ia kondisinya selalu tidak bersahabat saat ia dan Athalia sedang bersama.

Buru-buru Raja mengambil tisu dan mengelapnya, sialnya darahnya masih terus keluar.

Ia buru-buru mengambil handphonenya dan menghubungi Genta atau menyuruh Genta untuk masuk dan mengalihkan Athalia saat dirinya berusaha menghentikan pendarahan dihidungnya.

Sesaat kemudian dengan agak tergesa-gesa Harsa datang bersama Genta dibelakangnya. Sempat Raja, Harsa, dan Genta beradu tatapan memberi instruksi beberapa saat.

“Halo, Athalia ya?”

Athalia yang baru saja selesai merapihkan pakaiannya hanya mengangguk bingung.

“Gue Harsa, inget gak? Yang lo dm buat nanyain Raja tuh.”

“Oh inget, halo kak!”

Sementara itu dengan terburu-buru Raja bangun dan membawa alat infusnya menuju kamar mandi.

“Gak nyangka kita bakal ketemu ya Tha, udah sembuh?”

“U-udah sih kak alhamdulilah.”

Athalia ingin menengok ke arah Raja karena dirinya merasa canggung diajak bicara oleh Harsa dan Genta yang bahkan ia baru kenal. Tapi dicegah oleh pertanyaan Harsa dengan nada yang agak panik.

“Kelas berapa Tha?”

“12 kak.”

“Oh, rencana mau ambil kuliah dimana?”

“ITB sih kak.”

“Waduh, sama dong kayak si Genta, anak ITB juga dia.”

“Wah iyakah? jurusan apa kak?”

“Manajemen.” jawab Genta.

“Keren kak. Kalau Kak Harsa kuliah dimana?”

“UGM sih gue alhamdulilah. Nak Jogja abies.”

“Ih keren UGM.”

Harsa tersenyum bangga, “makasi, makasi.”

Berlanjut dengan pertanyaan sederhana dari Harsa yang selalu Athalia tanggapi.

Sampai saat Harsa tengah asik bercerita dan Genta yang hanya mendengarkan, Athalia menoleh sedikit kearah kasur Raja, nihil cowok itu tidak ada disana.

Pandangannya terus mengedar mencari keberadaan Raja, sampai ia melihat punggung Raja berada di dalam kamar mandi.

Dengan penasaran Athalia mencoba melihat dari pantulan kaca, cowok itu sedang membersihkan bekas merah dari hidungnya.

Kak Raja mimisan?

Setelah menyadari Athalia tak lagi memperhatikannya, Harsa membuat sedikit kehebohan dengan mengatakan bahwa ia melihat kecoa disudut ruangan.

Sontak Athalia maupun Genta yang kaget sedikit berteriak.

“Mana kecoanya mana?” tanya Genta dengan panik.

“Dah kabur keluar barusan.”

Athalia kembali menaruh pandangannya pada kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat. Ia kembali mencari Raja yang kini sudah kembali duduk diatas ranjangnya, cowok itu tersenyum pada Athalia.

Athalia membalas senyuman itu, sekaligus keheranan kenapa Raja seperti menyembunyikan kalau ia mimisan.

Sudah beberapa kali Hema memencet bel yang menempel di pagar rumah yang sedang ia kunjungi.

Sampai ada seorang gadis sebayanya keluar dari rumah dan membukakan pagar untuknya.

“Ansel?”

“Loh? Kak Hema?”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue.”

“Lah?”

“Hah?”

“E-eh masuk kak.” sambung Ansel.

Hema berjalan dengan kebingungan sambil mengekori Ansel.

Ansel mempersilahkan kakak kelasnya untuk duduk di bangku teras rumahnya.

“Ada perlu apa kak kesini?”

“Oh ini gue mau anterin pesanan dari bunda gue.”

“Udah dibayar belum?” tanya Ansel.

Hema menggeleng. Lalu Ansel pamit sebentar untuk mengambil uang di dalam rumahnya.

“Ini kak.” ucap Ansel sesaat setelah kembali bersama selembar uang berwarna merah.

“Makasih Sel, pas ya uangnya. Ini kuenya.”

Ansel menerima kue yang diberikan Hema dengan sedikit canggung. “Mau minum dulu kak?”

“Gak usah Sel, gue habis ini mau langsung balik kok.”

“Lo udah lama disini?” tanya Hema.

“Dari bayi kak.”

“Oh, gue dulu juga tinggal disekitaran sini. Tapi kok gak pernah liat lo ya?”

“G-gue emang jarang keluar sih kak, hehe.”

“Oh gitu. Seinget gue rumah ini tuh rumah temen gue Sel, apa gue salah rumah ya?”

“Salah rumah kali kak, gue tinggal daridulu disini soalnya hehe.”

“Iya kali ya.”

“Yaudah, kalau gitu gue duluan ya Sel.”

Ansel duduk manis di bangku di depan kelasnya. Ditemani oleh Mahesa yang hanya diam duduk disamping Ansel.

“Lo deg-degan gak sih? Gue alay banget gak sih gini aja deg-degan?” dumel Ansel.

“Mending diminum susu ultranya biar gak deg-degan lagi.” jawab Mahesa.

“Gue daritadi minum susu ultra mulu, apa gak eneg ini mulut gue? Tapi enak sih.”

Saat mulutnya tengah asik menyeruput susu kotak, matanya menjelajah ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Hema.

“Halo Ansel?”

“Allahuakbar bikin kaget aja Kak Hema.”

“Maaf, maaf.”

“Ini.” ucap Hema sambil menyerahkan plastik berisikan jajanan yang ia jatuhkan kemarin.

“Maaf ya Sel sekali lagi.”

“Gapapa kak, makasih ya jajanannya hehe. Padahal kalo gak diganti gak apa-apa.”

Hema mengangguk, matanya terus memperhatikan Ansel yang tak asing baginya.

“Kenapa kak?” tanya Ansel saat dirinya sadar tengah ditatap oleh Hema.

“Gapapa, gue ngerasa gak asing aja ngeliat lo. Penasaran aja dari semalem apa kita pernah ketemu atau gimana.”

“HAH sumpah kak kita gak pernah kenal atau ketemu. Ini aja kita pertama kali ketemu setelah tabrakan kemarin, serius kak!” jawab Ansel yang terlanjur panik.

Hema terkekeh, “iya gue tau Sel ini pertemuan kedua kita, santai aja gak usah panik.”

“Yaudah gue balik duluan ya, maaf ya Sel sekali lagi, duluan Ansel, temennya Ansel.” pamit Hema sambil melambaikan tangannya pada Ansel dan Mahesa.

“Tapi aneh banget anjir, masa dia gak inget gue padahal terakhir ketemu lima tahun lalu yang berarti belum terlalu lama. Emang muka gue berubah banget ya Sa?”

“Enggak, muka lo gak berubah, sama aja.

Tetep cantik.”

“Gue berasa makhluk asing dah pake rok biru sendiri gini, ini kapan sih kita dibolehin pake seragam putih abu-abu.” keluh Ansel sambil menyeruput susu yang ia minum.

“Lo semua udah pada milih ekskul belum? Gue bingun dah.” tanya Maudy.

Ketiga temannya menjawab dengan gelengan kepala. “Tapi gue ada niatan mau ambil basket sih.” jawab Naka.

“Basket disini bagus anjir, tahun kemaren ikut DBL kalau gak salah.” balas Maudy.

“Laper. Gue mau beli gorengan, ada yang mau nitip gak?” tawar Ansel.

“Gue nitip tempe goreng satu, sama tahu goreng satu.” jawab Maudy.

“Lo berdua?”

Naka dan Mahesa menggeleng bersamaan. Lalu Ansel berlalu pergi menuju tukang jualan yang berbaris rapih di sisi kantin.

Selesai membeli pesanannya, Ansel kembali menuju tempat ia dan teman-temannya tadi.

Saat sedang asik menyeruput susu kotaknya, sebuah tubuh menabraknya dari arah samping, membuatnya terjatuh tersungkur begitu juga dengan jajanannya.

Warga sekolah yang tengah asik makan langsung mengalihkan perhatiannya pada Ansel dan orang yang menabraknya.

“Yah susu kotak gue..” lirih Ansel sambil meratapi isi kotak susunya yang sudah berhamburan keluar.

“Gorengan gue sama Ody..” sambung Ansel sambil kembali memunguti gorengannya yang jatuh.

“Maaf, maaf, lo gapapa?”

“Gue gak apa-apa, tapi jajanan gue..”

Mahesa, Maudy, dan Naka yang tadinya sedang asyik mengobrol langsung menghampiri TKP.

“Sel gapapa?” tanya Mahesa.

“Ody gorengan lo..”

“Gak apa-apa, gue bisa beli lagi, tapi lo gapapa? Duh mana lo hatinya ke aspal begini lagi.”

“Maaf banget, gorengannya nanti gue ganti sekalian sama susunya.”

Tak ada jawaban dari Ansel, ia sedang dibantu berdiri oleh Mahesa yang merangkulnya.

“Gue gak ap-”

Belum selesai menjawab, Ansel dibuat melotot oleh siapa yang ada di depannya sekarang.

“Gue gapapa, gausah diganti!” seru Ansel sambil berlalu pergi meninggalkan Maudy, Naka, Mahesa, dan orang yang ia tabrak dengan kebingungan.

“Itu anak kenapa da- oh paham. Sa, Ka, gue duluan ya!” ucap Maudy yang ikut pergi setelah melihat siapa orang yang menabrak Ansel.

“Terus ini yang beresin tumpahan susunya siapa?” tanya Naka kebingungan.

“Biar gue aja. Nama temen lo siapa? Biar gue temuin nanti, buat ganti jajanannya yang jatoh, sedih banget keliatannya.”

“Ans-”

“Kalau mau gantiin lewat gue aja, biar gue yang kasih ke anaknya.” potong Mahesa.

“Lah kenapa harus lo dah?” tanya Naka.

“Siapa tadi namanya?” tanya orang itu lagi.

“Ansela Ayudia.” jawab Naka dengan cepat sebelum Mahesa memotong perkataannya.

“Oke makasih.”

Karena lelah berjalan, Jihan memutuskan untuk duduk sambil menunggu Maraka yang sedang bayar di kasir.

Ia sambil melihat-lihat barang belanjaannya yang cukup banyak dan tersenyum miris tentang uang yang dihabisi karena belanjaan hari ini.

Ini gue kapan kayanya anjir kalau belanja mulu. rutuk Jihan dalam hati.

“Jihan?”

Jihan menoleh, tampak cowok sebayanya berdiri dihadapannya. “Loh? Rayhan?”

“Iya gue Rayhan, gak nyangka bakal ketemu lo disini.”

“Apa kabar?” tanya Rayhan.

“Gue kabar baik, lo?”

“Gue baik banget. Lo sendiri aja Ji? Kok ada di store cowok?” tanya Rayhan lagi.

Jihan menggeleng, “gue sama cowok gue, hehe.”

“Oh, udah enggak sama Winata lagi ya lo?”

“Enggak Han, udah enggak dari jaman kuliah dulu.”

Rayhan mengangguk paham, “jadi dokter kan ya dia sekarang?”

“Iya kayaknya deh. Gue udah jarang kontakan semenjak lulus sih.”

“Oh, kabar Jiel gimana Ji? terakhir ketemu dia masih SD deh.”

“Jiel kabarnya baik banget, sekarang lagi sibuk kuliah aja sih. Adek lo sehat?”

“Sehat alhamdulilah, sibuk kuliah juga.”

“Alhamdulilah deh. Lo sendiri aja Han?” tanya Jihan.

“Enggak, sama adek gue tapi lagi belanja di toko lain dia. Karena males nungguin gue tinggal kesini aja.”

“Btw, gue ada rencana mau reunian, berempat aja sih, gue, lo, Juna, sama Athala. Menurut lo gimana? Kita kan udah lama banget gak ketemuan lagi.”

Jihan mengangguk setuju, “boleh, boleh. Nanti lo kabarin gue aja enaknya dimana dan kapan.”

“Oke, oke. Nanti send kontak Athala sama Juna ya Ji, biar gue yang kontak mereka.”

Jihan mengacungkan jempolnya.

Hingga sebuah tangan terulur merangkul pundaknya, itu milik Maraka. Cowok itu kini tengah berdiri disampingnya.

“Eh Mark, kenalin ini temen SMP aku, Rayhan.”

“Halo, gue Rayhan.” ucap Rayhan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

Maraka membalasnya dengan ramah, “Maraka.”

“Kalau gitu gue duluan ya Ji, Maraka, takut adek gue nyariin.” ujar Rayhan yang diangguki oleh Jihan dan Maraka.

Maraka menurunkan tangannya dari bahu Jihan, lalu meraih telapak tangan Jihan dan menggenggamnya.

“Kok aku gak pernah liat dia deh Ji, temen SMP kamu yang aku tau cuma Juna sama siapa tuh Athala ya?”

“Iyaa, aku sama Rayhan emang udah lost contact dari pas SMA gitu, terus baru kemarin dia ngechat aku lagi pake nomor barunya.”

“Oh. Ini sekarang mau kemana lagi?”

“Pulang aja deh yuk, duit aku udah abis yaampun.”

“Makan dulu ya?” ajak Maraka.

“Boleh, boleh.”

“Naik Kak.”

“Gak usah digendong juga Dev, tuntun gue aja.” tolak Ara.

“Lebih cepet kalau gue gendong lo, naik aja gapapa.”

Dengan perlahan Ara membungkukkan badannya sedikit dan mengalungkan tangannya di leher Deva. Dengan sigap cowok itu mengangkat Ara dan menggendongnya.

Ini gue termasuk main belakang gak sih? Gaenak sama Kak Hansa. batin Ara.

“Kok bisa gini sih Kak?” tanya cowok yang satu tahun lebih muda dari Ara itu.

“Nanti aja gue ceritain di rumah.”


Sesekali Ara meringis kesakitan saat Deva membantu mengobati lukanya. Selain terkilir, ada luka juga dibagian tumit.

“Jatuh?”

Ara mengangguk, “pelan-pelan Dev, sakit aslian.”

“Maaf, maaf.”

“Ini pasti lo paksa jalan ya? Padahal lo bisa telepon gue kak, biar gue jemput.” sambung Deva.

“Udah malem, gaenak ngerepotin lo.”

“Tapi gue gak merasa direpotin kalau emang lo butuh bantuan.” jawab Deva.

Kini Deva membalut luka ditumit dengan perban, lalu merapatkannya dengan sobekan plester.

“Besok lo gak usah kerja dulu ya kak? Biar kaki lo pulih dulu.”

Ara menggeleng, “gak bisa Dev, gue harus bayar uang kuliah sama uang seragam Reina. Kalau gue gak kerja, dapet duit darimana? Lagi pemulihan kaki gak cepet, dan gue kuat kok.”

“Gue yang gantiin lo kerja.” jawab Deva dengan entengnya.

“Enggak, masalah keluarga gue tanggung jawab gue Dev. Lagi lo udah ngebantu banyak, gue gak mau ngerepotin lo lebih.”

Memang agak susah untuk berbicara pada Ara tentang pekerjaannya yang terlalu over. Tapi Deva juga tidak mungkin dan tidak bisa memaksa Ara sepenuhnya untuk beristirahat dan bekerja secukupnya karena Deva tidak sedang berada diposisi Ara.

“Tapi seenggaknya istirahat, kasih jeda buat tubuh lo istirahat. Gue tau mental dan tubuh lo capek kan kak? Istirahat ya? Seminggu aja kak, seminggu aja aktivitas lo cuma kuliah dan jaga Reina. Istirahatin diri lo kak, lo udah terlalu banyak kerja belakangan ini, nikmatin apa yang seharusnya anak seusia lo lakuin. Lo juga berhak merasakan hasil keringat lo sendiri.”

Ara tersenyum miris, “gue capek, capek banget Dev. Seminggu penuh kerja, kuliah, ngurus Reina, bersihin rumah.

Tapi lo pernah gak sih didesak keadaan buat terus kerja, buat terus cari duit sampe rasanya tubuh lo mati rasa, sampe mental lo udah gak capek lagi karena bener-bener udah rusak.

Setiap kali gue mau istirahat, mau nyerah, tau gak apa pikiran yang datang? Reina nanti mau makan apa? Nenek mau makan apa? Reina nanti gak bisa jajan kayak temen-temennya lagi.

Bahkan kalau dipikir-pikir gaji gue gak sebarapa sama usaha yang gue lakuin. Sekali gajian langsung habis bayar kontrakan, bayar uang kuliah, bayar obat nenek. Bahkan gue gak bisa ngerasain jalan-jalan enak kayak remaja seusia gue. Karena yang gue pikirin besok keluarga gue mau makan apa kalau kerjaan gue ngabisin uang? Lo tau gak sih Dev sesusah apa nahan diri buat gak pake uang hasil keringat lo sendiri buat kebutuhan pribadi kayak shopping, main? Nahan diri lo buat gak ikut temen-temen lo jalan-jalan karena inget keluarga lo di rumah?

Gue selalu berusaha buat pastiin keluarga gue berkecukupan, pastiin mereka gak pernah ngalamin namanya kekurangan uang, bahkan sebisa mungkin walaupun bener-bener kepepet gue gak mau keluarga gue punya hutang pihutang sama orang lain. Karena kalau itu terjadi, gue gagal Dev, gagal jadi tulang punggung buat mereka.

Gue harus hidup didalam kebohongan tentang ayah yang melaksanakan kewajibannya untuk menghidupi gue, nenek, dan Reina. Kebohongan kalau ayah yang selama ini menafkahi gue, nenek, dan Reina padahal dia udah buang gue sebagai anak kandungnya, dan Reina sebagai keponakan dan amanat dari kakaknya sendiri dari lama.

Takdir hidup gue berat Dev, jahat. Dimana gue harus berpura-pura kuat, tegar, dihadapan semua orang.”

Ara mengatakan semua isi hatinya dengan air mata yang tertahan dikelopak matanya.

“Maaf.. Gue emang gak pernah ngerasain apa yang lo rasain kak, gue juga gak tau sebesar apa tanggung jawab yang harus lo pegang. Gue cuma pengen lo istirahat kak, gue gak tega liat lo yang harus kerja setiap hari ditambah kuliah, nugas.

Gue cuma gak mau lo sakit, lo adalah peran terpenting kak di keluarga ini, seorang kakak sekaligus cucu yang menjaga dua manusia agar tetap hidup berkecukupan. Gue appreciate setiap usaha lo, bener deh, lo wanita kuat kak, gue kagum sama lo.

Dan karena peran penting lo dikeluarga ini makanya lo harus selalu sehat kak, istirahat yang cukup. Kalaupun Reina dan nenek tau semua usaha lo buat mereka selama ini juga hal pertama yang mereka lakuin nyuruh lo istirahat.

Istirahatin diri lo, pikiran lo, mental lo. Kadang egois sedikit gapapa kak, lo juga berhak nikmatin hasil jerih payah lo buat kebutuhan pribadi walaupun sedikit, lo berhak kak.

Gue gak bisa nyuruh lo untuk apapun selain istirahat. Istirahat kak, please? Seminggu aja kak. Gue mau lo tenangin diri, istirahatin diri, lalu kembali menjadi Ara si pekerja keras dengan versi yang lebih fresh. Gue yang bakal gantiin lo selama lo istirahat, apapun pekerjaannya.

Gue gak pernah merasa direpotin sama kata tolong dari lo kak. Gue gak pernah merasa terbebani sama permintaan-permintaan dari lo kak.”

Ara tersenyum, benar-benar tersentuh dengan perkataan Deva dan tawaran dirinya untuk membantu Ara.

Namun Ara tetaplah Ara. Perempuan kuat yang enggan merepotkan orang lain karena masalah pribadinya. Ara sangat menghargai tawaran Deva, tapi sudah cukup pertolongan Deva untuk dirinya dan keluarganya selama ini. Biarlah urusan keluarganya adalah tanggung jawabnya.

“Deva, makasih banget, gue bener-bener berterimakasih sama tawaran lo. Tapi maaf Dev, biar urusan keluarga gue, gue yang bertanggungjawab. Lo udah baik dan keren banget dengan nawarin diri lo buat gantiin gue, tapi maaf banget Dev, gue tolak tawaran lo.

Istirahat dan healing versi gue ketika lihat hasil dari kerja keras gue. Ketika gue melihat senyuman dari nenek sama Raina karena hasil kerja keras gue.” jawab Ara.

Tampak raut kecewa dari wajah Deva, tapi bagaimanapun keputusan Ara adalah haknya. Mau gadis itu menolak atau menerima, yang bisa Deva lakukan adalah tetap berada disampingnya, menjadi pelindung serta teman cerita untuk Ara bercerita tentang keluh kesah hidupnya.

“Tapi kak, kalau ada apa-apa gue mohon hubungi gue. Gue mau jadi orang pertama yang ada buat lo pas lo butuh, yang ini jangan ditolak ya kak?”

Ara terkekeh, “iya Deva. Lo bocil dan orang pertama yang bakal gue hubungin.”

Setelahnya mereka membersihkan bekas-bekas tadi Deva mengobati luka Ara. Karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 10.35, Deva berpamitan pada Ara untuk pulang, tidak lupa menitip salam untuk Reina dan nenek.

Setelah memastikan perginya Deva, Ara kembali ke kamarnya. Bersih-bersih sebentar lalu duduk di dekat jendela kamarnya, memikirkan tentang perkataan Deva untuk mengistirahatkan dirinya.

Tubuhnya mungkin lelah, tapi hatinya selalu merasa puas ketika Ara selesai melakukan pekerjaannya. Puas akan hasilnya, dan puas ketika memikirkan apa yang ia lakukan untuk keluarganya dengan hasil kerja kerasnya.

Namun Ara hanyalah gadis remaja biasa, jauh di dalam lubuk hatinya ia membutuhkan istirahat. Tapi otaknya selalu menolak saran untuk beristirahat, dengan berpikir bahwa apa saja yang bisa ia hasilkan diwaktu saat ia beristirahat.


Wanita tua dengan rambut putih itu hanya bisa menutup mulutnya sambil menangis dibalik pintu.

Kebohongan yang dibuat oleh cucunya membuat goresan luka dihatinya yang cukup dalam.

Sebisa mungkin ia menangis tanpa bersuara, ikut merasakan pedih dan sakitnya ketika mendengar cerita tentang rasa lelah yang keluar dari mulut cucunya.

Selama ini yang ia lakukan hanyalah meminta, bahkan untuk hal yang tidak terlalu penting. Tidak tahu bahwa dibaliknya ada kerja keras dari cucunya untuk dirinya agar merasakan hidup berkecukupan.

Dibalik tangisnya ada sebuah amarah dan rasa gagal. Amarah karena anaknya gagal untuk menjadi seorang ayah untuk anaknya, dengan membiarkan sang anak yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya kini memiliki tanggung jawab sendiri yang seharusnya bukan.

Setelah selesai merapihkan meja-meja restauran, Ara langsung meminta izin untuk pulang lebih dulu kepada Zahra.

“Hati-hati ya Ele.”

Waktu kini sudah menunjukkan pukul 9 malam, keadaan jalanan juga cukup ramai karena memang sudah jam pulang kantor.

Sudah beberapa kali Ara mencoba untuk memesan ojek online, tapi nihil tidak ada yang nyantol satupun.

Berakhir dengan keputusan Ara untuk pulang naik bajaj, ia harus menyebrang lewat jembatan layang untuk sampai di tempat biasa bajaj mangkal.

Saat akan pergi, Ara melihat Rob dan temannya Jo sedang duduk sambil merokok tak jauh dari restauran, dan itu membuat Ara langsung mengidik ngeri.

Dengan cepat Ara berlari kecil untuk sampai di jembatan yang cukup ramai orang lewat, menghindari dua pria mengerikan.

Ara terus berlari sampai membuat dirinya terjatuh karena heelsnya yang tak kuat lagi menopang, membuat gadis kaki itu sedikit terkilir dan rusaknya sepatu heelsnya.

“Mbak gapapa toh?” tanya seorang pria sebayanya yang tak sengaja lewat.

“Gapapa mas, cuma jatuh dikit.”

“Oh, mau saya bantu berdiri?” tawar Mas-mas tersebut.

Ara mengangguk karena ia agak susah untuk berdiri dengan kakinya yang terkilir. Pria tersebut langsung membantu Ara berdiri.

“Makasi ya Mas.”

“Sama-sama mbak, itu kakinya gak apa-apa kah?”

“Gapapa Mas.”

“Yowes, saya lanjut jalan ya Mbak.”

Ara mengangguk, lalu kembali berjalan dengan kaki yang tertatih-tatih dan tangannya memegang heels.

Sampai ia berada di puncak jembatan, Ara sempat berhenti karena tak kuat dengan rasa perihnya. Ia juga segera memakai sepatu pengganti heelsnya.

Ara hanya bisa meringis kesakitan sambil memejamkan matanya saat ia ingin berdiri kembali, bahkan setetes air mata ikut lolos dari kelopak matanya.

Selain rasa sakitnya yang ia khawatirkan, ia juga khawatir bahwa besok ia tidak bisa berkerja di Cafe karena kondisi kakinya. Dimana jika satu hari ia tidak masuk maka berkurang juga gajinya.

Ara sempat mengeluarkan handphonenya dan membaca notifikasi yang langsung membuatnya menghelas nafas berat. Ia juga berencana untuk menghubungi Hansa, pacarnya untuk menjemput dan membantunya berjalan karena sudah benar-benar tidak kuat. Tapi jawaban cowok itu akan selalu sama, bahwa ia sibuk, entah sibuk apa Ara belum tau.

Dengan menahan rasa sakitnya, Ara berusaha berjalan dan memopong dirinya sampai ke pangkalan bajaj, dan akan meminta tolong pada Reina keponakannya untuk menjemputnya di depan gang dan membantunya.