17 ; loh?

Sudah beberapa kali Hema memencet bel yang menempel di pagar rumah yang sedang ia kunjungi.

Sampai ada seorang gadis sebayanya keluar dari rumah dan membukakan pagar untuknya.

“Ansel?”

“Loh? Kak Hema?”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue.”

“Lah?”

“Hah?”

“E-eh masuk kak.” sambung Ansel.

Hema berjalan dengan kebingungan sambil mengekori Ansel.

Ansel mempersilahkan kakak kelasnya untuk duduk di bangku teras rumahnya.

“Ada perlu apa kak kesini?”

“Oh ini gue mau anterin pesanan dari bunda gue.”

“Udah dibayar belum?” tanya Ansel.

Hema menggeleng. Lalu Ansel pamit sebentar untuk mengambil uang di dalam rumahnya.

“Ini kak.” ucap Ansel sesaat setelah kembali bersama selembar uang berwarna merah.

“Makasih Sel, pas ya uangnya. Ini kuenya.”

Ansel menerima kue yang diberikan Hema dengan sedikit canggung. “Mau minum dulu kak?”

“Gak usah Sel, gue habis ini mau langsung balik kok.”

“Lo udah lama disini?” tanya Hema.

“Dari bayi kak.”

“Oh, gue dulu juga tinggal disekitaran sini. Tapi kok gak pernah liat lo ya?”

“G-gue emang jarang keluar sih kak, hehe.”

“Oh gitu. Seinget gue rumah ini tuh rumah temen gue Sel, apa gue salah rumah ya?”

“Salah rumah kali kak, gue tinggal daridulu disini soalnya hehe.”

“Iya kali ya.”

“Yaudah, kalau gitu gue duluan ya Sel.”