81

Karena lelah berjalan, Jihan memutuskan untuk duduk sambil menunggu Maraka yang sedang bayar di kasir.

Ia sambil melihat-lihat barang belanjaannya yang cukup banyak dan tersenyum miris tentang uang yang dihabisi karena belanjaan hari ini.

Ini gue kapan kayanya anjir kalau belanja mulu. rutuk Jihan dalam hati.

“Jihan?”

Jihan menoleh, tampak cowok sebayanya berdiri dihadapannya. “Loh? Rayhan?”

“Iya gue Rayhan, gak nyangka bakal ketemu lo disini.”

“Apa kabar?” tanya Rayhan.

“Gue kabar baik, lo?”

“Gue baik banget. Lo sendiri aja Ji? Kok ada di store cowok?” tanya Rayhan lagi.

Jihan menggeleng, “gue sama cowok gue, hehe.”

“Oh, udah enggak sama Winata lagi ya lo?”

“Enggak Han, udah enggak dari jaman kuliah dulu.”

Rayhan mengangguk paham, “jadi dokter kan ya dia sekarang?”

“Iya kayaknya deh. Gue udah jarang kontakan semenjak lulus sih.”

“Oh, kabar Jiel gimana Ji? terakhir ketemu dia masih SD deh.”

“Jiel kabarnya baik banget, sekarang lagi sibuk kuliah aja sih. Adek lo sehat?”

“Sehat alhamdulilah, sibuk kuliah juga.”

“Alhamdulilah deh. Lo sendiri aja Han?” tanya Jihan.

“Enggak, sama adek gue tapi lagi belanja di toko lain dia. Karena males nungguin gue tinggal kesini aja.”

“Btw, gue ada rencana mau reunian, berempat aja sih, gue, lo, Juna, sama Athala. Menurut lo gimana? Kita kan udah lama banget gak ketemuan lagi.”

Jihan mengangguk setuju, “boleh, boleh. Nanti lo kabarin gue aja enaknya dimana dan kapan.”

“Oke, oke. Nanti send kontak Athala sama Juna ya Ji, biar gue yang kontak mereka.”

Jihan mengacungkan jempolnya.

Hingga sebuah tangan terulur merangkul pundaknya, itu milik Maraka. Cowok itu kini tengah berdiri disampingnya.

“Eh Mark, kenalin ini temen SMP aku, Rayhan.”

“Halo, gue Rayhan.” ucap Rayhan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

Maraka membalasnya dengan ramah, “Maraka.”

“Kalau gitu gue duluan ya Ji, Maraka, takut adek gue nyariin.” ujar Rayhan yang diangguki oleh Jihan dan Maraka.

Maraka menurunkan tangannya dari bahu Jihan, lalu meraih telapak tangan Jihan dan menggenggamnya.

“Kok aku gak pernah liat dia deh Ji, temen SMP kamu yang aku tau cuma Juna sama siapa tuh Athala ya?”

“Iyaa, aku sama Rayhan emang udah lost contact dari pas SMA gitu, terus baru kemarin dia ngechat aku lagi pake nomor barunya.”

“Oh. Ini sekarang mau kemana lagi?”

“Pulang aja deh yuk, duit aku udah abis yaampun.”

“Makan dulu ya?” ajak Maraka.

“Boleh, boleh.”