03
Setelah selesai merapihkan meja-meja restauran, Ara langsung meminta izin untuk pulang lebih dulu kepada Zahra.
“Hati-hati ya Ele.”
Waktu kini sudah menunjukkan pukul 9 malam, keadaan jalanan juga cukup ramai karena memang sudah jam pulang kantor.
Sudah beberapa kali Ara mencoba untuk memesan ojek online, tapi nihil tidak ada yang nyantol satupun.
Berakhir dengan keputusan Ara untuk pulang naik bajaj, ia harus menyebrang lewat jembatan layang untuk sampai di tempat biasa bajaj mangkal.
Saat akan pergi, Ara melihat Rob dan temannya Jo sedang duduk sambil merokok tak jauh dari restauran, dan itu membuat Ara langsung mengidik ngeri.
Dengan cepat Ara berlari kecil untuk sampai di jembatan yang cukup ramai orang lewat, menghindari dua pria mengerikan.
Ara terus berlari sampai membuat dirinya terjatuh karena heelsnya yang tak kuat lagi menopang, membuat gadis kaki itu sedikit terkilir dan rusaknya sepatu heelsnya.
“Mbak gapapa toh?” tanya seorang pria sebayanya yang tak sengaja lewat.
“Gapapa mas, cuma jatuh dikit.”
“Oh, mau saya bantu berdiri?” tawar Mas-mas tersebut.
Ara mengangguk karena ia agak susah untuk berdiri dengan kakinya yang terkilir. Pria tersebut langsung membantu Ara berdiri.
“Makasi ya Mas.”
“Sama-sama mbak, itu kakinya gak apa-apa kah?”
“Gapapa Mas.”
“Yowes, saya lanjut jalan ya Mbak.”
Ara mengangguk, lalu kembali berjalan dengan kaki yang tertatih-tatih dan tangannya memegang heels.
Sampai ia berada di puncak jembatan, Ara sempat berhenti karena tak kuat dengan rasa perihnya. Ia juga segera memakai sepatu pengganti heelsnya.
Ara hanya bisa meringis kesakitan sambil memejamkan matanya saat ia ingin berdiri kembali, bahkan setetes air mata ikut lolos dari kelopak matanya.
Selain rasa sakitnya yang ia khawatirkan, ia juga khawatir bahwa besok ia tidak bisa berkerja di Cafe karena kondisi kakinya. Dimana jika satu hari ia tidak masuk maka berkurang juga gajinya.
Ara sempat mengeluarkan handphonenya dan membaca notifikasi yang langsung membuatnya menghelas nafas berat. Ia juga berencana untuk menghubungi Hansa, pacarnya untuk menjemput dan membantunya berjalan karena sudah benar-benar tidak kuat. Tapi jawaban cowok itu akan selalu sama, bahwa ia sibuk, entah sibuk apa Ara belum tau.
Dengan menahan rasa sakitnya, Ara berusaha berjalan dan memopong dirinya sampai ke pangkalan bajaj, dan akan meminta tolong pada Reina keponakannya untuk menjemputnya di depan gang dan membantunya.