wnsscc

Hasya harus menelan pahit kejadian yang membuat kakak kandungnya meninggal dunia. Tanpa jejak, tanpa teka-teki, sang pelaku menghilang begitu saja bagai ditelan bumi.

Kini ia tersisa sendiri. Semua yang tersayang telah tiada menemui sang pencipta. Hanya ada pelukan penghangat panasnya hatinya dari kerabat.

Lalu sekarang ia harus apa? Ia sendiri sekarang.

Matanya menatap kosong ke arah tumpukan tanah yang menjadi rumah terakhir untuk abangnya.

Tanpa abang, Hasya bisa apa? Siapa yang akan mengarahi hidupnya nanti?

Yang orang-orang katakan hanya tegar, sabar, ikhlas, dan harus menerima. Tapi coba mereka berada di posisi Hasya, apakah akan kuat? Lampu terakhir kehidupannya kini telah padam.

“Hasya, Mas Dewa sama Kak Esa bakal selalu disini. Selalu bilang kami ya kalau terjadi apa-apa?”

Entah Hasya akan percaya pada kalimat itu atau tidak. Hampir semua orang terdekat mengatakan hal yang sama tapi tidak selalu ada jika ia butuh apa-apa. Hanya kalimat penenang untuk dirinya yang sedang berduka.

“Sya.. Kuat ya, gue selalu disini kok.” kalimat penenang dan pelukan hangat menyerbu Hasya bersamaan. Sahabat dekatnya memberikan pelukan sebagai obat penenang.

Perih rasanya, ia luluh dengan sebuah pelukan hangat. Kepalanya tertunduk, ia menangis sejadi-jadinya di bahu sang sahabat.

Tangisan yang membuat orang-orang menoleh dan menaruh perhatian pada dirinya. Terdengar juga bisik-bisik suara tentang nasib sedih Hasya.

“Gue harus apa Lun sekarang?”

Yena dan Jihan telah sampai di restauran yang sudah mereka tentukan.

Jihan mengenakan dress putih pilihan Shakira yang membuatnya dipuji tak henti-henti oleh Yena.

“Tante udah booking private room, biar kita lebih nyaman aja kalau ngobrol.”

Jihan mengangguk. Sebenernya ia tidak enak pada Yena yang sudah mahal-mahal memesan private room seperti ini.

“Padahal gapapa tau tan kalau kita booking ditempat biasa. Kayaknya mahal banget ya kalau sampe booking private room kayak gini, Jihan jadi gaenak deh tan.”

Yena hanya tersenyum simpul, “gapapa dong Jihan. Sengaja tante pesen private room, biar enak aja.”

Mereka berdua duduk berhadapan dan pelayan mulai masuk menawari menu-menu mereka.

Setelah selesai memesan, pelayan keluar dari ruangan. Menyisakan mereka berdua duduk berhadapan disini.

“Tadi sebelum tante jalan, Maraka sempet telfon tante tau. Nanya emang bener mau dinner berdua, terus ngajuin diri buat nganter kita berdua. Ya tante tolak aja lah, kasian anaknya masih kecapean baru pulang kerja.”

“Hehe iya tan, kemarin Maraka juga sempet nawarin buat nganter.”

“Bucin banget emang anak tante ini.”

Jihan hanya mengangguk sambil tersenyum malu.

“Jihan habis magang rencananya mau kerja dimana?”

“Jihan udah ngincer satu tempat kerja si tan, tapi diluar Jakarta gitu.”

“Jadi ldr dong ya sama Maraka? Apa gak ngambek itu anak nanti?”

“Paling ikut pindah dia tan, hehe.” jawab Jihan bercanda.

“Bercanda-bercanda tan, nanti Jihan bakal omongin sama Maraka juga si tan. Walaupun kayaknya bakal susah, tapi nanti Jihan bakal usaha omongin. Maraka pasti ngertiin juga kok.”

Yena hanya tersenyum dan mengangguk. Ia menatap raut wajah Jihan yang sendu. Ia yakin alasan Jihan memilih kantor diluar kota adalah tentang perjanjiannya dengan kakek.

“Bukan karena perjanjian kamu dan kakek kan Han makanya kamu memilih luar kota?”

Jihan menatap Yena kaget, “tante tau?”

Yena mengangguk, ada rasa bersalah di dalam hatinya. “Maaf ya Jihan, tapi tante dan om usahakan untuk batalin semuanya ya? Tante juga gak setuju. Tante juga sudah melihat hubungan kalian yang menurut tante sudah sempurna.

Dan kamu wanita yang sempurna untuk Maraka.”

“Terimakasih tante, tapi kalau memang tidak bisa jangan dipaksakan. Bahkan kalau bisa jangan diusahakan. Jihan juga ada alasan lain kenapa harus menerima perjanjian ini. Terimakasih banyak tante, om.”

“Kakek mengancam kamu dengan apa?”

“Jihan gabisa kasih tau tan, karena akan beresiko untuk Jihan juga. Jihan mau berterimakasih banyak sama tante, maraka, dan om yang udah perlakuin Jihan dengan sangat baik selama 5 tahun ini.”

“Untuk takdir Jihan dan Maraka nanti itu tergantung gimana kata Tuhan aja tan, Jihan ikuti aja.”

“Maaf kalau lancang, tapi Jihan boleh tau siapa orang yang akan dijodohkan oleh Maraka tan?”

Yena menghela nafas berat, benar-benar sedih hatinya. “Aruna Adhisti.”

Kini sepasang kekasih itu telah sampai di depan apartemen Syakira. Maraka sengaja tidak memakirkan mobilnya di dalam dan mampir sebentar, karena keadaan sudah malam.

“Beneran besok kan pulangnya?” tanya Maraka.

“Iya, kenapa deh?”

“Ya gapapa, kangen aja. Besok aku anter ya ke kantor? Jangan nolak.”

“Idih siapa juga yang nolak, masih marah ya kamu aku berangkat sama Ajun?”

Maraka menggeleng cepat, tak tahan dengan ekspresi gemas Maraka, Jihan mencubit kedua sisi pipi Maraka dengan gemas.

“Yauda aku duluan yaa.” izin Jihan yang diangguki langsung oleh Maraka.

Baru saja Jihan berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja Maraka memeluknya dari belakang. Dengan senang hati Jihan berbalik dan membalasnya.

“Terakhir kali kita pelukan kayak gini kapan ya? Kangen deh.” ucap Maraka disela-sela pelukannya. Pelukan erat mereka.

“Minggu kemarin, udah lama juga ya.” jawab Jihan.

“Aku udah jarang kasih kamu pelukan kayak gini ya Ji? Besok bakal sering-sering deh.”

“Idih modus. Daripada kamu yang peluk duluan, kenapa gak aku aja ya? Hehe.”

Maraka hanya terkekeh, lalu melepaskan pelukan mereka penutup pertemuan. Jihan kembali berjalan sambil melambaikan tangannya pada Maraka yang masih diluar menunggu hingga gadis itu masuk ke dalam lobi.

—

“Lo kok nangis lagi si anjir Shak? Yang mau putus kan mereka.” tegur Calya.

“Ye lo liat dong itu anak berdua tulus banget. Lagi dulu waktu mereka masih pdkt gue sama Ajun yang comblangin ye, SEDIH BANGET ANJIR GUE, DENDAM BANGET GUE SAMA ITU KAKEK-KAKEK AKHH!”

Calya hanya tersenyum tertekan, “kembaran lo kenapa sih Ka?”

Shaka hanya menggeleng pelan, sejujurnya ia juga sedih mendengar masalah yang dialami temannya itu. Shaka tau betul betapa tulusnya Maraka untuk Jihan, dan Jihan untuk Maraka.

“Tapi gue percaya mereka bakal punya ending bahagia Shak, Cal.” gumam Shaka ditengah pikirannya.

4 serangkai sejak kuliah itu telah berkumpul disuatu cafe yang biasa mereka datangin saat kuliah dulu.

“Sekarang lo mau cerita apa?” tanya Shakira dengan rasa penasarannya yang amat tinggi.

“Sebelum itu, masalah lo berat banget ya? Mata lo sampe sembab gitu Ji.” selak Shaka.

Jihan hanya tersenyum, melirik Calya untuk membantunya menjawab. “Berat, kemarin pas dia cerita sama gue bener-bener sambil nangis. Jangankan gue, laki gue aja ketar-ketir ini gimana nenanginnya.”

“Jadi penasaran dah gua, cerita dong Ji.”

“Gue– sama Maraka kayaknya bakal udahan dalam beberapa waktu lagi deh. Gue sama dia, udah bener-bener gak bisa.” ucap Jihan dengan wajah tertunduk.

“MAKSUD LO?” tanya Shakira dengan shock dan berteriak, mampu membuat pegawai dan pengunjung lain menoleh ke arahnya.

“Jangan dipotong Shaki.” tegur Shaka.

“Lanjut Ji.”

“Lusa kemarin malam, tiba-tiba kakeknya Maraka ngechat gue, ngajak ketemuan, bahasanya waktu ngechat tuh halus banget, ya jadi gue pikir cuma silaturahmi biasa kan. Terus dia juga bilang bakal ada papa mamanya Maraka juga.

Lo semua tau kan gue deket sama mamanya Maraka.”

Jihan menghela nafasnya berat.

“Pas gue dateng, cuma ada papanya Maraka sama kakeknya. Gue tanya dong ada apa. Spontan tanpa basa-basi gue disuruh putusin Maraka, dengan cara apapun.

Papanya Maraka disitu cuma diem, natap gue dengan rasa bersalah. Gue nolak dong, dan minta penjelasan dengan jelas kenapa gue harus putusin Maraka.

Jawabannya bikin sakit hati banget tau gak sih. Dia bilang Maraka yang notabene anak orang kaya, calon CEO, keluarganya punya nama gede, gak cocok sama gue yang keluarganya berantakan, keluarga gue juga seadanya banget, cuma ditolong sama gaji dari kakak gue aja.

Terus dia bilang Maraka mau dijodohin sama yang menurut mereka setara. Gak masuk akal banget demi apapun, kesel banget gue.”

“Jangan dilakuin, lo gak liat Maraka udah cukup tersiksa sama tekanan keluarganya? Cuma lo dan mamanya yang bisa beri dia kebahagiaan tanpa tekanan, lo mau ngelepasin Maraka? Bakal seancur apa dia nanti kalau lo tinggalin Ji.” selak Shakira.

“Kalau gue bisa ngelakuin itu udah gue lakuin Shak. Gue diancem. Perusahaan bokap gue ternyata dapet sponsor besar dan tanda tangan kontrak kerja sama sama perusahaan kakek Maraka. Lo semua tau kan perusahaan bokap gue cuma perusahaan kecil yang bergantung banget sama sponsor dari perusahaan gede gitu.

Salah satu impian ayah gue buat gedein start-up nya.

Sebelum gue pergi ke rumah Calya, sorenya gue sempet dateng ke rumah ayah, gue nanya sama ayah gue, seberapa berartinya perusahaan ayah tu buat dia?

Ayah jawab, semenjak berpisah sama mama, ayah sempet berada di titik terendah hidupnya. Walaupun masih bisa ketemu anam-anaknya, tapi dia gabisa bareng lagi sama cintanya. Terus ayah pikir, kalau dia gini terus bakal jadi apa dia nanti? Makanya ayah gue berusaha keras banget buat ngembangin perusahaannya dan cari sponsor sana-sini.

Gue gak mungkin hancurin impian ayah demi cinta gue ke Maraka?

Gue sayang Maraka, banget. Maraka cowok baik, one of the best men i ever met, tapi ayah tetep cinta pertama gue..

Kalau emang gue sama Maraka bukan salah satu takdir, gue harap banget dia dapet cewek yang bisa setara sama dia dan bisa cinta sama dia lebih dari cinta gue buat Maraka.”

Jihan sudah tidak bisa menangis, air matanya sudah habis.

Tapi malah Shakira yang menangis mendengar ceritanya. “Ah anjing, jahat banget itu kakek, ini gue berasa nonton sinetron buset dah kok ada orang tega begitu.”

“Kok lo nangis sih?” tanya Calya.

“Bego, dulu yang nyomblangin dia sama Maraka gue sama Arjuna ya kampret, gue gak nyangka lo berdua bakal langgeng, kok malah gini sih endingnya.”

Shaka menenangi saudara kembarnya dengan tepukan-tepukan pelan di bahu.

“Kalau emang ini akhirnya, luangin waktu sebanyak yang lo punya sama dia Ji. Lo gakabal bisa sama Maraka lagi kalau perjodohan mereka terjadi.” saran Shaka.

“Kok lo beda rencana sih Shak sama gue?”

“Tapi lebih baik saran Shaka Ji, lo menjauh tanpa alasan gitu bikin anak orang bingung. Ujung-ujungnya Maraka ngerasa dirinya ada yang salah gara-gara lo begitu.” timpal Calya.

“Terus lo bikin alesan apa kalo jadi putus?” tanya Shaki yang masih sibuk dengan tisu dan air matanya.

“Setelah selesai magang, gue bakal cari kerja di Jogja Shak, mama dan gue mutusin buat nemenin Jiel skripsian disana. Kalau nyaman ya lanjut. Gue bisa pake alasan gabisa LDR s sama dia.”

“Tapi kan Maraka orangnya nekat Ji..”

“Gue tau, setelah gue terima tawaran kakeknya, gue bakal ngasih tau rencananya dan minta waktu tambahan buat gue dan Maraka bareng.”

“Gue jahat gak sih?” tanya Jihan.

“Si kakek tua tu yang jahat, duit mulu yang dipikirin, orang mah udah tua mikirin ibadah kek, ini mikirin saham mulu.” gerutu Shakira.

“Gue harap lo sama Maraka dapet akhir yang bahagia ya? Mau itu bareng-bareng atau dengan jalannya masing-masing.”

Athalia menunggu di depan pos satpam dengan kantung plastik digenggamannya. Serta sepeda abangnya yang ia pinjam karena malas berjalan.

“Thalia?”

Suara berat yang tak asing baginya membuat wajahnya menoleh. Araja Bagaskara kini berdiri dihadapannya masih dengan seragam sekolah.

“Eh kak.”

“Ini.” laki-laki itu menyerahkan botol minum Athalia. Athalia menerimanya dengan senang hati.

Sebagai ganti karena Raja telah menemukan dan menjaga botol minumnya, gadis itu memberikan susu kotak coklat yang ia taruh di kantung plastik tadi, yang kini ia isi dengan botol minumnya.

“Ini, terimakasih ya kak!”

“Eh buat apa?”

“Tanda terimakasih karena udah nemuin dan keep botol minum aku. Makasih banyak ya kak!”

Raja menerima susu kotak coklat dari tangan Athalia, “padahal gausah repot-repot. Tapi terimakasih ya.”

Athalia mengangguk semangat.

“Kamu pulang jalan kaki? Mau saya antar?”

Athalia menggeleng, “gausah kak, aku bawa sepeda kok.”

“Oh, berani balik sendiri? Gelap banget.”

“Berani kok kak, rumah aku gak jauh dari sini juga.”

“Oh yaudah kalau gitu saya duluan ya!” seru Raja lalu berlalu pergi menuju motornya yang terparkir tak jauh.

Athalia berteriak dalam hati menyesal kenapa ia harus membawa sepeda, harusnya sekarang Raja mengantarnya pulang dengan sepeda motornya.

Athalia tak berani menatap Raja yang berdiri bersender dihadapannya. Gadis itu berpura-pura sibuk mengetikkan apapun di handphonenya.

“Enggak masuk?” tanya Raja, padanya mungkin?

Athalia langsung mendongak panik, “hah? Kakak nanya sama aku?” tanya Athalia sambil menunjuk dirinya sendiri.

Raja mengangguk.

“Enggak kak, cuma nemenin temen aku aja daftar paskibra, hehe.”

“Kakak sendiri?” tanya Athalia dengan jantung yang berdegup kencang.

“Saya cuma nemenin temen saya aja sih. Kamu yang tadi daftar osis ya?”

“Iya kak.”

“Oh.”

LUCU BANGET NGOMONGNYA PAKAI SAYA-KAMU! batin Athalia berteriak.

Tak lama Shila datang dengan sumringahnya, menyapa dan meminta maaf pada Athalia karena sudah membuatnya menunggu lama.

Untuk menyembunyikan salah tingkahnya dihadapan Raja, Athalia mengajak Shila untuk ikut duduk dan mengobrol sebentar.

Sesekali Athalia meneguk air minumnya untuk menyembunyikan salah tingkahnya, bahkan topik dan tawa darinya terlihat dipaksakan.

Salah tingkahnya membuat ia lupa menaruh kembali botol minumnya dan malah menaruhnya di bangku panjang yang sedang ia duduki.

Tak lama kemudian Odelia datang dan mengajak kedua temannya untuk pergi ke kelas 11 MIPA-4, menunggu Aufa disana.

“Kak Raja, aku duluan ya.”

“Eh iya silahkan.”

Athalia meremas lengan seragam Odelia cukup kencang, rasanya ia ingin berteriak sekarang.

Selang beberapa saat setelah Athalia dan teman-temannya pergi, Raja baru menyadari bahwa botol minum Athalia tertinggal di bangku panjang.

Ingin menyusul Harsa keburu datang dan mengajak Raja untuk ikut dengannya karena hal mendesak. Raja memutuskan untuk membawa botol minum tersebut dan mengembalikannya besok.

Atmosfer canggung mulai terasa saat mereka telah sampai di taman komplek.

Antara Athalia ataupun Raja, belum ada yang berani memulai topik pembicaraan. Raja yang merasa canggung, dan Athalia yang menunggu Raja untuk memulai terlebih dahulu.

“Thal.”

“Iya kak?”

“Maaf.”

Athalia hanya mengangguk pelan. Kepalanya agak tertunduk dengan pandangan mengarah ke bawah.

“Maaf, tapi jujur Thal, saya suka kamu bukan karena kamu mirip Raya.”

“Kak?”

“Iya?”

“Boleh aku tanya tentang siapa itu Raya?”

Raja mengangguk. “Raya itu adik saya, seumuran kamu. Raya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan.”

“Eh maaf kak? Harusnya aku gak nanya ya?”

“Gapapa, maaf juga karena udah buat kamu salah paham sama perkataan Mala beberapa hari lalu.

Jujur ya Thal, saya penasaran sama kamu awalnya karena kamu ngingetin saya sama Raya.

Tapi saya suka kamu karena kamu jadi diri sendiri Thal, serius.

Saya cerita ke Mala kalau pertama kali kita ketemu kamu mirip banget sama Raya, tapi Mala mungkin salah ngartiin.”

Athalia mengangkat kepalanya, “berarti cuma salah paham aja ya?”

Raja mengangguk.

“Maaf ya kak, dari kemarin aku menghindar terus gak mau dengerin penjelasan kakak.”

Raja tersenyum, “gapapa Thal, saya ngerti kok.”

“Kakak udah sehat?”

Raja mengangguk ragu.

“Bagus deh, tapi aku penasaran kakak sakit apa.”

“Nanti saya kasih tau, nanti ya Thal?”

Athalia mengangguk. “Berarti masalah kita udah selesai ya? Dan aku turut berdukacita soal Almarhumah Raya ya kak.”

“Iya, terimakasih Thalia.”

“Kapan-kapan saya ajak kamu ke tempat Raya ya?”

Athalia mengangguk semangat.

“Udah jam 8 kak, balik yuk? Takut mama papa udah pulang, aku lagi gak boleh keluar masalahnya.”

“Boleh, sekalian mau kenalan sama mama papa kamu kalau emang mereka udah pulang.”

Raja hanya bisa duduk dan tertunduk setelah sampai di tempat Raya.

Sekujur tubuhnya lemas, ia hanya bisa diam tertunduk. Satu tangannya mengelus batu nisan yang bersih tanpa ada tumbuhan liar disekitarnya.

“Yaya, maaf abang baru bisa jenguk Yaya hari ini.”

Suaranya begitu lemah dan bergetar. Pelupuk matanya pun sedang berjuang menahan air mata yang hampir terjatuh.

“Selamat ulang tahun kesayangan.”

Raja tersenyum. Netranya menatap teduh nisan di depannya. Tangannya bergerak menyingkirkan daun kering yang baru saja terjatuh.

“Maaf belum bisa jadi abang yang baik buat Yaya.

Abang kangen,

kangen digodain kamu kalau lagi main.

Heaven is beautiful ya Ya? I miss you alot. Banyak cerita seru yang mau abang ceritain ke kamu.

Dulu Yaya bilang mau liat abang pacaran kan? Tau gak Ya, sekarang abang udah ketemu perempuan cantik, seumuran kamu seharusnya. Yaya pasti suka, dia cantik, baik, abang suka banget Ya.

Abang udah ketemu kesayangan baru, tapi Yaya bakal selalu jadi kesayangan abang.

Sekarang Mala juga udah SMP, Mala kangen banget sama kakak cantiknya. Abang juga kangen sama adik cantik abang.

Nanti kapan-kapan abang ajak perempuan cantik abang ya? Kalau Yaya masih disini, pasti kalian akrab banget ya?”

Raja tak bisa menahannya. Menahan air matanya. Laki-laki itu menangis di samping batu nisan yang terukir nama Araya Abigail disana.

“Abang sakit Ya, tapi abang selalu berusaha buat sembuh. Abang masih mau nepatin janji abang ke Yaya buat jadi arsitek sukses.

Sakit Ya, asli. Sakit banget, ditambah abang harus selalu pura-pura baik-baik aja di depan semua orang.”

Raja berdiri, menatap dalam tempat peristirahatan terakhir adiknya tercinta.

“Abang selalu kangen Yaya. Yaya perempuan penting dihidup abang.

Maaf gagal jadi sosok abang yang seharusnya selalu jagain Yaya.

Maaf, Araya.”

Raja terdiam untuk beberapa saat, lalu badannya berbalik dan berjalan menuju Harsa dan Genta yang menunggu di pinggiran.

Cowok itu tidak malu untuk menunjukkan bekas tangisan di matanya pada teman-temannya, toh mereka pasti akan mengerti.

Harsa merangkul dan mengajak Raja untuk pergi lebih dahulu.

Sedangkan Genta masih berdiri menatap luruh ke arah makam Raya dengan buket bunga ditangannya.

Kini gilirannya. Gilirannya untuk mendoakan dan mengunjungi kekasihnya.

Selesai bersih-bersih, Raja menghampiri Genta yang asik makan sambil membawa infusnya.

“Ngapain? Kalau mau ngomong biar gue yang nyamperin, ribet kan bawa-bawa infusan gitu.” tegur Genta melihat Raja yang keribetan membawa infusnya.

“Lo lagi makan, gapapa, gak ribet.” balas Raja, cowok itu ikut duduk di sofa disamping Genta.

“Kenapa? Galau lagi?”

“Gimana gak galau, udah lumayan jauh pdkt gue sama Thalia, masa-masa tiba-tiba berhenti gini.” jawab Raja, ia menyenderkan kepalanya di sofa.

Genta menghabiskan makanan dimulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab.

“Udah lo chat anaknya?”

Raja menggeleng, “Mala gak jadi kesini, ada ulangan besok katanya.”

“Sumpah Ta, ini pertama kalinya gue suka sama orang, masa gagal begini.”

Genta tak menjawab, ia membersihkan bekas makanannya dan membuangnya terlebih dahulu. Mencuci tangan sebentar lalu kembali duduk disamping Raja, ikut menyenderkan kepalanya disofa.

“Gue tanya sama lo, lo beneran suka sama Thalia gara-gara mirip Raja?”

Raja menghela nafasnya, “ini udah pertanyaan yang keberapa kali anjir. Jawabannya enggak, gue gak pernah suka Thalia karena dia mirip Raya. Sama sekali enggak.

Gue akuin, awalnya gue tertarik buat kenal Thalia lebih deket karena ngerasa dia mirip Raya. Tapi semakin kenal itu anak, gue semakin tertarik, Thalia sama Raya beda, seratus persen beda.

Gue suka Thalia karena dia Thalia. Gue sayang Thalia karena dia Thalia. Emang agak aneh bilang gini karena gue suka sama dia pas belum ada seminggu kita kenal.

Tapi jujur ya Ta, jujur banget ini gue, gue suka sama Thalia karena itu cewek selalu bikin gue ngerasa nyaman di deket dia. Suaranya, wajahnya, gerak-geriknya, selalu bikin gue nyaman.

Jadi sekali lagi, gue gak pernah suka Thalia karena dia mirip Raya, sama sekali enggak.”

Genta mengangguk paham. Raja bukan tipe orang yang suka bercanda soal percintaan begini.

Genta membuka handphonenya, memberikannya pada Raja.

“Apa?”

“Chat Athalia pake akun lama gue. Ini akun kosongan yang gue pake buat confess ke Raya dulu, pake aja. Chat Athalia, jelasin semuanya.”

Maraka memencet bel unit Jihan, berharap gadis itu masih bangun dan membukakan pintu untuknya.

Maraka merasa bersalah karena berbohong soal tadi, jadi ia memutuskan untuk menengok sebentar gadisnya itu.

Setelah beberapa kali memencet bel, pintu terbuka, menampilkan sosok Jihan dengan wajah dibalut masker wajah.

“Kenapa gak langsung masuk aja si? Kan kamu hafal sandinya.” ucap Jihan dengan sedikit kesusahan.

“Gak sopan dong kalau asal masuk.”

Kemudian Jihan mempersilahkan Maraka masuk, menyuruhnya untuk duduk di sofa sementara ia membasuh wajahnya terlebih dahulu.

Sedangkan Maraka, ia merasakan ada sesuatu yang kelupaan. Cowok itu menengok kedua tangannya. Sial, ia lupa membawa makanan padahal bilang bahwa ingin mencari makan.

“Kenapa dateng malem-malem?” tanya Jihan yang ikut duduk disamping Maraka.

“Gapapa, kangen aja.”

“Halah.”

“Mana, katanya kamu beli makanan?”

“Lupa.” jawab Maraka asal.

“Mana ada orang laper lupa beli makanan.”

Maraka hanya tersenyum bersalah, “maaf.”

“Ngapain minta maaf? Kamu kan gak ada salah sama aku.”

Keduanya terdiam.

“Mark, kamu bohong ya? Gak apa-apa jujur aja, aku juga udah tau kamu bohong kemana.” tanya Jihan frontal.

“Maaf.”

“Padahal gak perlu bohong, kalau bohong gini jadi ribet kan. Aku gak marah kalau kamu jujur, asal jelas kamu ngapain dan sama siapa.”

“Syavira minta tolong sama aku Jihan, maaf. Aku kasian, aku tau kamu marah kalau aku bilang sama cewek lain.

Aku cuma sebentar asli deh, Yudha yang nganterin dia pulang.”

Jihan mengacak rambut Maraka gemas, “baiknya pacar aku.”

“Lain kali jangan bohong ya? Kamu jujur aja aku udah ngerasa dihargain banget.”

Maraka mengangguk. Ia menaruh kepalanya di pundak Jihan, “aku disini dulu ya? Sampai ngantuk.”

“Kode izin nginep ya?”

Maraka terkekeh, “boleh ya?”

Jihan mengangguk. “Jangan tidur kemaleman tapi ya? Besok kan ada rapat.”

“Iya.”

“Love you.” sambung Maraka.