05

“Naik Kak.”

“Gak usah digendong juga Dev, tuntun gue aja.” tolak Ara.

“Lebih cepet kalau gue gendong lo, naik aja gapapa.”

Dengan perlahan Ara membungkukkan badannya sedikit dan mengalungkan tangannya di leher Deva. Dengan sigap cowok itu mengangkat Ara dan menggendongnya.

Ini gue termasuk main belakang gak sih? Gaenak sama Kak Hansa. batin Ara.

“Kok bisa gini sih Kak?” tanya cowok yang satu tahun lebih muda dari Ara itu.

“Nanti aja gue ceritain di rumah.”


Sesekali Ara meringis kesakitan saat Deva membantu mengobati lukanya. Selain terkilir, ada luka juga dibagian tumit.

“Jatuh?”

Ara mengangguk, “pelan-pelan Dev, sakit aslian.”

“Maaf, maaf.”

“Ini pasti lo paksa jalan ya? Padahal lo bisa telepon gue kak, biar gue jemput.” sambung Deva.

“Udah malem, gaenak ngerepotin lo.”

“Tapi gue gak merasa direpotin kalau emang lo butuh bantuan.” jawab Deva.

Kini Deva membalut luka ditumit dengan perban, lalu merapatkannya dengan sobekan plester.

“Besok lo gak usah kerja dulu ya kak? Biar kaki lo pulih dulu.”

Ara menggeleng, “gak bisa Dev, gue harus bayar uang kuliah sama uang seragam Reina. Kalau gue gak kerja, dapet duit darimana? Lagi pemulihan kaki gak cepet, dan gue kuat kok.”

“Gue yang gantiin lo kerja.” jawab Deva dengan entengnya.

“Enggak, masalah keluarga gue tanggung jawab gue Dev. Lagi lo udah ngebantu banyak, gue gak mau ngerepotin lo lebih.”

Memang agak susah untuk berbicara pada Ara tentang pekerjaannya yang terlalu over. Tapi Deva juga tidak mungkin dan tidak bisa memaksa Ara sepenuhnya untuk beristirahat dan bekerja secukupnya karena Deva tidak sedang berada diposisi Ara.

“Tapi seenggaknya istirahat, kasih jeda buat tubuh lo istirahat. Gue tau mental dan tubuh lo capek kan kak? Istirahat ya? Seminggu aja kak, seminggu aja aktivitas lo cuma kuliah dan jaga Reina. Istirahatin diri lo kak, lo udah terlalu banyak kerja belakangan ini, nikmatin apa yang seharusnya anak seusia lo lakuin. Lo juga berhak merasakan hasil keringat lo sendiri.”

Ara tersenyum miris, “gue capek, capek banget Dev. Seminggu penuh kerja, kuliah, ngurus Reina, bersihin rumah.

Tapi lo pernah gak sih didesak keadaan buat terus kerja, buat terus cari duit sampe rasanya tubuh lo mati rasa, sampe mental lo udah gak capek lagi karena bener-bener udah rusak.

Setiap kali gue mau istirahat, mau nyerah, tau gak apa pikiran yang datang? Reina nanti mau makan apa? Nenek mau makan apa? Reina nanti gak bisa jajan kayak temen-temennya lagi.

Bahkan kalau dipikir-pikir gaji gue gak sebarapa sama usaha yang gue lakuin. Sekali gajian langsung habis bayar kontrakan, bayar uang kuliah, bayar obat nenek. Bahkan gue gak bisa ngerasain jalan-jalan enak kayak remaja seusia gue. Karena yang gue pikirin besok keluarga gue mau makan apa kalau kerjaan gue ngabisin uang? Lo tau gak sih Dev sesusah apa nahan diri buat gak pake uang hasil keringat lo sendiri buat kebutuhan pribadi kayak shopping, main? Nahan diri lo buat gak ikut temen-temen lo jalan-jalan karena inget keluarga lo di rumah?

Gue selalu berusaha buat pastiin keluarga gue berkecukupan, pastiin mereka gak pernah ngalamin namanya kekurangan uang, bahkan sebisa mungkin walaupun bener-bener kepepet gue gak mau keluarga gue punya hutang pihutang sama orang lain. Karena kalau itu terjadi, gue gagal Dev, gagal jadi tulang punggung buat mereka.

Gue harus hidup didalam kebohongan tentang ayah yang melaksanakan kewajibannya untuk menghidupi gue, nenek, dan Reina. Kebohongan kalau ayah yang selama ini menafkahi gue, nenek, dan Reina padahal dia udah buang gue sebagai anak kandungnya, dan Reina sebagai keponakan dan amanat dari kakaknya sendiri dari lama.

Takdir hidup gue berat Dev, jahat. Dimana gue harus berpura-pura kuat, tegar, dihadapan semua orang.”

Ara mengatakan semua isi hatinya dengan air mata yang tertahan dikelopak matanya.

“Maaf.. Gue emang gak pernah ngerasain apa yang lo rasain kak, gue juga gak tau sebesar apa tanggung jawab yang harus lo pegang. Gue cuma pengen lo istirahat kak, gue gak tega liat lo yang harus kerja setiap hari ditambah kuliah, nugas.

Gue cuma gak mau lo sakit, lo adalah peran terpenting kak di keluarga ini, seorang kakak sekaligus cucu yang menjaga dua manusia agar tetap hidup berkecukupan. Gue appreciate setiap usaha lo, bener deh, lo wanita kuat kak, gue kagum sama lo.

Dan karena peran penting lo dikeluarga ini makanya lo harus selalu sehat kak, istirahat yang cukup. Kalaupun Reina dan nenek tau semua usaha lo buat mereka selama ini juga hal pertama yang mereka lakuin nyuruh lo istirahat.

Istirahatin diri lo, pikiran lo, mental lo. Kadang egois sedikit gapapa kak, lo juga berhak nikmatin hasil jerih payah lo buat kebutuhan pribadi walaupun sedikit, lo berhak kak.

Gue gak bisa nyuruh lo untuk apapun selain istirahat. Istirahat kak, please? Seminggu aja kak. Gue mau lo tenangin diri, istirahatin diri, lalu kembali menjadi Ara si pekerja keras dengan versi yang lebih fresh. Gue yang bakal gantiin lo selama lo istirahat, apapun pekerjaannya.

Gue gak pernah merasa direpotin sama kata tolong dari lo kak. Gue gak pernah merasa terbebani sama permintaan-permintaan dari lo kak.”

Ara tersenyum, benar-benar tersentuh dengan perkataan Deva dan tawaran dirinya untuk membantu Ara.

Namun Ara tetaplah Ara. Perempuan kuat yang enggan merepotkan orang lain karena masalah pribadinya. Ara sangat menghargai tawaran Deva, tapi sudah cukup pertolongan Deva untuk dirinya dan keluarganya selama ini. Biarlah urusan keluarganya adalah tanggung jawabnya.

“Deva, makasih banget, gue bener-bener berterimakasih sama tawaran lo. Tapi maaf Dev, biar urusan keluarga gue, gue yang bertanggungjawab. Lo udah baik dan keren banget dengan nawarin diri lo buat gantiin gue, tapi maaf banget Dev, gue tolak tawaran lo.

Istirahat dan healing versi gue ketika lihat hasil dari kerja keras gue. Ketika gue melihat senyuman dari nenek sama Raina karena hasil kerja keras gue.” jawab Ara.

Tampak raut kecewa dari wajah Deva, tapi bagaimanapun keputusan Ara adalah haknya. Mau gadis itu menolak atau menerima, yang bisa Deva lakukan adalah tetap berada disampingnya, menjadi pelindung serta teman cerita untuk Ara bercerita tentang keluh kesah hidupnya.

“Tapi kak, kalau ada apa-apa gue mohon hubungi gue. Gue mau jadi orang pertama yang ada buat lo pas lo butuh, yang ini jangan ditolak ya kak?”

Ara terkekeh, “iya Deva. Lo bocil dan orang pertama yang bakal gue hubungin.”

Setelahnya mereka membersihkan bekas-bekas tadi Deva mengobati luka Ara. Karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 10.35, Deva berpamitan pada Ara untuk pulang, tidak lupa menitip salam untuk Reina dan nenek.

Setelah memastikan perginya Deva, Ara kembali ke kamarnya. Bersih-bersih sebentar lalu duduk di dekat jendela kamarnya, memikirkan tentang perkataan Deva untuk mengistirahatkan dirinya.

Tubuhnya mungkin lelah, tapi hatinya selalu merasa puas ketika Ara selesai melakukan pekerjaannya. Puas akan hasilnya, dan puas ketika memikirkan apa yang ia lakukan untuk keluarganya dengan hasil kerja kerasnya.

Namun Ara hanyalah gadis remaja biasa, jauh di dalam lubuk hatinya ia membutuhkan istirahat. Tapi otaknya selalu menolak saran untuk beristirahat, dengan berpikir bahwa apa saja yang bisa ia hasilkan diwaktu saat ia beristirahat.


Wanita tua dengan rambut putih itu hanya bisa menutup mulutnya sambil menangis dibalik pintu.

Kebohongan yang dibuat oleh cucunya membuat goresan luka dihatinya yang cukup dalam.

Sebisa mungkin ia menangis tanpa bersuara, ikut merasakan pedih dan sakitnya ketika mendengar cerita tentang rasa lelah yang keluar dari mulut cucunya.

Selama ini yang ia lakukan hanyalah meminta, bahkan untuk hal yang tidak terlalu penting. Tidak tahu bahwa dibaliknya ada kerja keras dari cucunya untuk dirinya agar merasakan hidup berkecukupan.

Dibalik tangisnya ada sebuah amarah dan rasa gagal. Amarah karena anaknya gagal untuk menjadi seorang ayah untuk anaknya, dengan membiarkan sang anak yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya kini memiliki tanggung jawab sendiri yang seharusnya bukan.