09.

tw // mention of blood

Dengan berlari, Ansel menyusuri lorong sekolahnya dengan wajah panik dan sedikit terpincang-pincang. Pasalnya, saat akan pergi ke sekolah tadi, ia terjatuh karena tak berhati-hati ketika berlari.

Bahkan secara tak sadar, ada darah yang menembus di rok biru panjangnya. Rasa sakitpun tak terasa sedikitpun karena rasa takutnya dihukum oleh kakak OSIS.

“Eh kamu, sini!”

Ansel memejamkan matanya, lalu berbalik secara perlahan dan merutuki kesialannya hari ini dalam hati. Dengan berat Ansel melangkahkan kakinya menuju perempuan dengan kerudung putih segiempat yang berdiri tak jauh darinya.

“Telat? Gak liat sekarang jam berapa?”

“M-maaf kak.”

“Ini hari terakhir mpls loh, gak disiplin banget. Yang lain udah upacara penutupan kamu malah baru dateng.”

“Maaf kak, kesiangan.”

Perempuan didepannya menggeleng dengan mimik galak.

“Udah telat, rok basah, itu kenapa bisa basah?”

“Hah?”

Ansel memencet asal bagian basah roknya, tanpa mengetahui luka di kakinya.

“Aduh!”

“E-eh kenapa?”

Perlahan Ansel menghangatkan sedikit roknya, sampai menunjukkan bagian luka basah dengan darah disekitarnya.

“Allahuakbar berdarah.”

“Bentar, bentar, tunggu disini.”

Cewek berkerudung itu berjalan cepat meninggalkan Ansel yang masih kesakitan.

Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali dengan seorang laki-laki dengannya.

“Kenapa?”

“Kakinya luka, lo mantan anak PMR kan? Bawa ke UKS Ma tolong, gue mau lanjut keliling.”

“Boleh, ayo ikut gue.”

Ansel mendongak sedikit, ia tidak bisa melihat wajah cowok didepannya, hanya terlihat punggung lebarnya dengan rambut hitam pekat.

Dengan terpincang-pincang Ansel berjalan mengekori orang di belakangnya, melewati para siswa baru yang sedang berupacara. Ia sedikit menjadi pusat perhatian beberapa guru dan siswa disana, malu? Banget kalau kata Ansel.

“Duduk.” titah cowok itu saat mereka telah sampai di UKS.

Ansel kembali mendongak, agak terkejut ketika tahu siapa yang ada di depannya. Buru-buru ia mengalihkan pandangan serta wajahnya.

“Kenapa ini ma? Kok masih pake tas? telat?”

Cowok itu mengangguk sebagai jawaban.

“Kenapa kamu?”

“Ini kak, kakinya, luka.” jawab Ansel sambil mengangkat sedikit roknya dan memperlihatkan luka di kakinya.

“Ih kok bisa?”

“Tadi ada jatoh, keseret di aspal gitu.”

“Pasti sakit banget ya, aduh, aku yang lihat juga ngilu.”

“Ma, ambilin kotak P3K deh.” titah perempuan dengan seragam PMR dan dengan nametag Bella Dafhina.

Setelah menerima peralatan P3K, Bella mulai mengobati luka di kaki Ansel.

Perih, sakit, tidak sesekali gadis itu meringis kesakitan. Bahkan bantal di sampingnya menjadi korban remasan tangan Ansel saat menahan sakit.

Setelah diobati, Ansel disuruh untuk stay di UKS, cowok yang tadi mengantarnya pun memberikan tisu dan teh manis pada Ansel yang penuh keringat karena kesakitan.

“Namanya siapa? Mau aku data.”

“Ansel, Ansela Ayudia.”

“Ansel?” gumam cowok tadi dengan pelan.