13

Ansel duduk di bangku kelas sendirian. Keadaan kelas kini kosong menyisakan dirinya yang tak bisa kemana-mana akibat luka di kakinya.

“Agak horor ya anjir gue di kelas sendiri. Lagi kompak bener dah satu keluar, keluar semua.” oceh Ansel pada dirinya sendiri.

Dirinya hanya ditemani suara AC dan ocehan-ocehan siswa sekolah dari luar kelasnya.

Mengantuk, gadis itu menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangannya, mulai mencoba memejamkan matanya.

Gagal. Ia gagal memejamkan matanya karena suara ketukan di pintu, dengan cepat gadis itu kembali mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang mengetuk.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Loh, sepi banget.”

“Lagi pada di kantin kak, istirahat.” jawab Ansel.

“Eh ada orang, lah lo?”

Yang tadinya mengantuk, melihat siapa yang datang kondisi Ansel langsung segar bugar.

“Kakak PMR ya?”

Yang diajak bicara melangkahkan kakinya menuju tempat Ansel dengan setumpuk kertas di tangannya.

“Masih gak inget gue ternyata.”

Ansel menelan salivanya panik, takut-takut orang di depannya mengungkit masa lalu mereka yang agak memalukan.

“Lo Ansel kan?” tanyanya, Ansel mengangguk.

“Gue Hema, Hema Pramudya.”

“Lo beneran gak inget gue?” tanya Hema sambil menaruh tumpukan kertas di atas meja Ansel.

Ansel menggeleng.

“Padahal dulu kita sering berangkat ngaji bareng. Tapi gapapa, lain kali pasti lo inget.”

Ansel tersenyum canggung, peluh pun mulai berseluncur indah di keningnya.

“Ini formulir buat ekskul, nanti bagiin ke temen-temen lo. Deadline pengumpulan Jum'at, kalo bisa kumpulin semua dulu baru serahin nanti ke gue.

Kalau mau serahin besok di ruang OSIS sekitaran abis zuhur. Kalau mau serahin Jum'at kalo bisa pagi, soalnya siangnya sholat jum'at.

Nanti bilang aja mau serahin formulir ekskul ke Hema gitu. Paham gak Sel?”

Ansel mengangguk, “paham kak.”

“Satu murid minimal ambil satu ekskul ya, jangan ada yang gak ikut, gue yang pusing nanti.”

“Nanti lo minta anak kelasan lo aja buat bagiin, masih sakit kan kaki lo?”

“Iya kak.”

“Sel lo beneran gak inget gue?”

Lagi-lagi Ansel menggeleng.

“Padahal gue mau nepatin janji gue dulu, yauda deh, gue duluan ya, jangan lupa ya Sel.”

Ansel mengangguk lesu.

Hema ingat, Hema ingat akan janji konyol mereka berdua dulu.

Ansel menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan sedikit kasar, merutuki dirinya dan kebodohannya dulu.