Sore
TW ; Sexual Assault
Jihan berdiri kikuk didepan Mall sendirian. Calya pamit pulang terlebih dahulu karena urusan mendesak di rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 dan Marka sama sekali tidak bisa dihubungi, kuota HPnya pun ikut habis.
Jihan memberanikan untuk berjalan kaki sendiri menuju jalan raya ramai untuk mendapatkan kendaraan umum.
Sore itu keadaan jalan yang Jihan lewati sepi, hanya ada bangunan tak berpenghuni dan sekelompok bapak-bapak diujung jalan yang sedang bermain catur.
“Neng cantik, sendirian aja nih. Sini abang temenin hahaha.” goda seorang bapak-bapak dengan perut agak buncit.
“Alus amat pak, gaskeun mumpung istri lagi kerja ye. Mending sama saya neng, jomblo hahaha.”
Jihan berusaha menghiraukannya, ia mempercepat jalannya.
Sampai ada seorang pria kurus mengenggam lengan Jihan, menahannya. “Ayo dong temenin kita sampe malem aja, aman kok aman.”
Jihan berusaha melepaskannya, lalu berlari sekuat mungkin untuk menghindar. Pria itu mengejar. Tidak ada inisiatif untuk menolong dari bapak-bapak yang lain.
Jihan sempat terjatuh saat tersandung kakinya sendiri, dan pria itu sedang berdiri dihadapan Jihan dengan penuh kengerian.
“Berulah lagi, balik lo!” seru seseorang yang membuat pria itu langsung berbalik pergi.
Jihan menoleh, berdiri dibaliknya seorang cowok dengan almet kampus yang sama dengan miliknya.
“Gapapa? Eh Jihan?”
Jihan mendapat uluran tangan yang membantunya berdiri. “Winata?”
Cowok itu mengangguk, “udah lama ya gak ketemu, apa kabar?”
“Baik Win, makasih ya udah nolongin.”
Winata mengangguk. Pandangannya teralih pada lengan dan lutut Jihan yang berdarah dan ada yang tergores.
“Ikut gue Han sebentar.”
Jihan tak merespon, wajahnya bingung dengan ucapan Winata barusan.
“Itu luka lo gue bantu obatin, bisa infeksi kalau didiemin.” jawab Winata.
Jihan mengangguk, lalu mengikuti Winata dari belakang dengan jalannya yang terpincang-pincang.