Cupcakes with Love
Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi, dan Jihan sudah melakukan aktivitas dapurnya untuk memasakkan makanan untuk ia dan Marka sarapan.
Jihan fokus pada bahan-bahan makanannya dan layar handphonenya yang menunjukkan tutorial memasak.
Tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang melingkar diperutnya, itu Marka.
Cowok itu menenggelamkan wajahnya di pundak Jihan, Marka belum sadar 100%, bahkan cowok itu masih memejamkan matanya.
“Marka aku kaget demi apapun. Tumbenan banget kamu udah bangun?”
Cowok itu tak menggubris perkataan Jihan, ia masih dengan keadaan setengah tertidur.
“Marka, pingsan lo? Kok gak jawab sih?” tanya Jihan.
“Lo, lo, kamu Jihan, apaan lo lo.” jawab Marka yang sudah tersadar.
Jihan terkekeh. Dengan keadaan Marka memeluknya ia jadi tidak leluasa untuk bergerak, bahkan untuk mengambil bahan-bahan kue pun sulit.
“Mark, aku lagi buat kue, kamu bisa gak jangan peluk dulu? Aku susah gerak asli.”
Bukannya melepas dekapannya, Marka malah memasang wajah cemberut, “kamu gak suka aku peluk?”
Now Maraka telah mengeluarkan jurus bayinya batin Jihan. “Enggak gitu beb, ini aku lagi bikin kue, kalau kamu peluk yang susah gerak, nanti kuenya malah gak jadi-jadi.”
“Alah bilang aja gak suka aku peluk, Jihan jahat.” Marka melepas pelukannya, berjalan menuju sofa dengan ekspresi ngambeknya yang membuat Jihan tidak bisa menahan kegemasan.
“Kalau anak-anak kampus tau kelakuan asli si dingin Maraka gimana ya?”
“Ya kan aku gininya cuma ke kamu, ya jangan disebar dong!”
“Jihan kok gak nyamperin sih?” sambung Marka.
“Sibuk.”
Jihan kembali ke ruang tamu dengan sepiring cupcake yang baru saja ia buat. “Cupcakes with love for the best boyfriend in this damn planet.”
Marka menahan senyumnya, matanya masih fokus ke layar TV yang menampilkan film barat terbaru.
“Marah beneran? Ish aku kira cuma bercanda.”
“Marka?”
“Hm?”
“Yah marah, kalau gitu aku kasih ke Winata aja deh ya karena udah jadi mantan ter-”
Marka langsung memakan cupcakesnya ketika mendengar nama Winata terucap dari bibir Jihan, “mantan ter- apa?”
“Hehe enggak, makanya jangan ngambek terus dong! Btw Mark, enak gak?”
Marka mengangguk, “enak, tapi jangan bawa-bawa mantan kamu mulu dong, kan sekarang aku yang jadi pacar kamu.”
“Idih kapan aku bawa-bawa Winata? Baru sekali ini, Markie cemburuan wle.”
“Siapa yang gak cemburu kalo pacarnya bawa-bawa nama mantan?”
Untuk meredakan emosinya Marka membuka layar handphonenya, bukannya membaik moodnya malah semakin buruk melihat banyak notifikasi dari keluarganya.
“Marka marah ya? Maaf...”
–wnsscc