Rehat
“Yang nganterin kamu barusan Winata? Ngapain kamu sama dia?” tanya Marka sepulangnya Jihan.
“Gak sengaja ketemu, kamu abis ngapain? Ketemu cewek, ngobrol-ngobrol, elus-elusan kepala sampe masuk base iya?”
Marka menautkan kedua alisnya, base apa? Ia belum sempat mengecek twitternya sejak tadi.
“Kok kamu malah ngalihin topik si Han, siapa yang abis ketemu cewek? Yang ada kamu yang ditawarin pulang sama Winata mau aja padahal ada aku.”
Jihan berdecak, “kamu cek HP kamu, udah berapa kali aku kamu aku chat dan telfonin.”
“Ya kan bisa kabarin Dejun, Lucas, atau Hendery Jihan, kenapa harus Winata sih?”
“Kamu alergi banget ya Mark sama Winata? Harusnya kamu bersyukur kalau gak ada Winata disana mungkin sekarang aku gak ada disini.”
Sorot mata Jihan menatap Marka tajam. “Bahkan kamu gak sadar sama luka luka di lengan dan kaki aku Maraka, karena yang kamu pikirin cuma aku dibonceng Winata.”
Marka merubah pandangannya menuju lengan dan kaki Jihan. Benar saja, banyak goresan luka dan sebuah luka agak besar yang dilapisi hansaplast.
“Kamu kenapa? Jatuh?”
“Tanya Winata ajalah sana, capek aku.” jawab Jihan lalu melengos pergi.
Tapi Marka menahannya terlebih dahulu, ia menggenggam lengan Jihan. “Apaansi Han? Aku nanya kamu malah kayak gini, kamu kenapa si?”
“Kamu masih belum mau jelasin abis darimana dan sama siapa? Kamu Marka yang jadiin Winata sebagai pengalihan topik.”
Marka meneguk salivanya, darimana Jihan tahu? Dan tadi ia mendengar nama base? Base kampus?
“Diem kan kamu. Kamu suka marah aku deket-deket Winata padahal kita udah lost contact dari 1 tahun yang lalu. Tapi kamu malah jalan sama cewek yang bahkan aku gak tau siapa, ditambah kamu gak ada niatan mau cerita.”
“Itu temen aku Han..”
Jihan menghela nafas berat, “kalaupun aku percaya terus gimana orang-orang yang udah kemakan tweetan base kampus? Terus ngira kalian pacaran, dan ternyata sender ngenalin ceweknya atau lebih parah ceweknya nampakin diri? Aku lagi Mark yang sakit dan harus ngalah.”
“Sekarang aku tanya, kamu kenapasi se gasuka itu sama Winata?”
“Karena aku bukan Winata. Aku iri Han sama Winata, dia bisa jadi sosok terbaik buat kamu. Walau kamu punya aku sekarang, tapi aku gak pernah berhasil memperlakukan kamu lebih baik dari Winata. Winata yang selalu pamerin kamu, Winata yang selalu banggain kamu ke orang-orang. Aku pikir aku bisa jadi Winata kedua buat kamu tapi dengan cara yang berbeda. Tapi dengan ngajak kamu backstreet kayak gini aku udah salah ambil jalan.” jawab Marka yang membuat Jihan tertegun.
“Aku, aku takut kalau kamu sama Winata temenan atau deket lagi kamu bakal lupa aku. Karena aku tau Jihan, Winata selalu memperlakukan kamu dengan spesial.” sambung Marka mulai terdengar lirih.
“Marka, aku selalu suka apa yang kamu lakuin atau kasih buat aku. Menurut kamu Winata selalu menjadi yang terbaik buat aku, tapi kamu Marka orang terbaik menurut aku. Aku sayang kamu, aku suka kamu dengan apa adanya kamu. Tapi enggak dengan bohongnya kamu dan insecurenya kamu.”
“Kalau Winata yang terbaik, bukan kamu Mark yang sekarang berdiri dihadapan aku.”
“Kalau aku tanya lagi siapa cewek yang tadi kamu temuin kamu bakal jujur gak?” tanya Jihan, Marka terdiam.
Marka ingin memberi tahu semuanya pada Jihan, tapi buka sekarang. Marka belum mendapatkan keputusan akhir dari perjodohan ini. Jihan juga sedang mengerjakan skripsinya, ia tidak mau menambah beban pikiran untuk gadis itu.
Sedangkan Jihan, ia menghela nafas pasrah. “Marka, ayo break.. Aku butuh rehat, seminggu cukup.”
–wnsscc