Mark dan Sikap Manis

Marka langsung memeluk Jihan dengan erat sesaat setelah ia memasuki kediaman Jihan. Lelaki itu benar-benar butuh Jihan saat ini, hanya Jihan yang bisa memenangkan rasa amarahnya.

Jihan yang tak siap dengan serangan pelukan Marka hanya terkejut. Ia menepuk-nepuk punggung Marka ketika menyadari bahwa prianya sedang tidak baik-baik saja.

“Marka, aku abis masak, baju aku agak kotor. Aku mau ganti baju dulu, nanti kalau mau lanjut peluk gapapa.”

Marka masih tidak melepas pelukannya, malah ia mengeratkan pelukannya agar semakin tenang. “Stay like this for a while please?“

“Marka, are you okay?“

“No im not. Dan karena itu biarin aku peluk kamu buat 5 menit aja.”

Jihan membalas pelukan Marka, keduanya berada diposisi yang sama sampai terdengar bunyi dari arah dapur.

“YAAMPUN, AKU LUPA KALAU LAGI MASAK!” seru Jihan, ia melepas pelukan diantara keduanya, dan berlari menuju dapur dengan panik.

“Aduh, untung masih bisa diselametin, kalau enggak sia-sia gue mendep di dapur dari maghrib tadi.” oceh Jihan pada dirinya sendiri.

Marka menghampiri Jihan yang sedang merutuki dirinya sendiri karena teledor, pria itu tersenyum, Jihan terlihat semakin cantik ketika sedang marah.

“What's wrong babe?“

“Cupcake yang aku buat gosong, padahal tadinya mau aku kasih kamu.”

Marka mengelus pucuk kepala pacarnya itu, “it's okay han, aku bakal tetep makan kok.“

“Yakin Mark? Ini rada gosong loh, takutnya lambung kamu syok.”

“Kenapa harus syok? Aku bakal makan apapun yang kamu buat untuk aku Jihan.”

Jihan tersenyum malu, gadis itu memalingkan wajahnya yang merah seperti tomat agar Marka tak melihatnya.

“Jihan, i really love you, jadi jangan tinggalin aku ya Han? Karena kamu rumah aku Han, dan akan selalu begitu.”

Jihan kembali menatap Marka, “Mark, kalau ada sesuatu yang salah tolong cerita ya? Biasanya kalau cowok ngomong kayak gini tanda-tanda mau putus.”

“I'm not that stupid to lose you Jihan, masalah apapun, dengan cara apapun, aku bakal disini sama kamu.”

–wnsscc