wnsscc

Malam Perjodohan

Marka terdiam seribu bahasa setelah mendengar penjelasan tentang perjodohannya dengan salah satu anak teman bisnis ayahnya. Marka sungguh ingin menolaknya, tapi jika ia tolak maka hak perusahaan akan berpindah kepada adik dari ayahnya, dan Marka tidak mau hal itu terjadi. Marka tahu betapa keras perjuangan ayahnya untuk membuat perusahaan sukses seperti sekarang.

“Sebentar lagi wanita yang akan dijodohkan denganmu akan segera datang, jaga sikapmu Marka.”

Beberapa saat kemudian, matanya menangkap sosok yang asing baginya. Seorang perempuan bergaun putih muncul dihadapannya.

“Selamat malam semuanya.”

“Astaga Hario, akhirnya kita berjumpa lagi. Seperti sudah lama ya hahaha.” basa-basi permulaan yang dikeluarkan dari mulut Darion, ayah kandung Marka.

“Kemarin tidak sempat kita bertemu karena kamu sibuk terus ya haha.”

Darion mempersilahkan tiga orang yang baru saja datang itu untuk duduk. Mereka berbincang-bincang tentang bisnis dan anak mereka yang kini telah beranjak dewasa.

“Marka sekarang sudah semester akhir ya? Wah dikit lagi wisuda dong ya.” ujar Arini, wanita paruh baya yang merupakan istri dari Hario.

“Iya tan.”

Sedangkan gadis cantik di sampingnya hanya terduduk diam tak bersuara, sekali-sekali mencuri pandangan pada Marka yang terlihat tidak nyaman.

“Aruna dan Marka ini berbeda dua tahun ya? Aruna kamu ambil jurusan apa nak di Kampus?” tanya Rozak, kakek Marka.

“Ambil kedokteran kek.”

Rozak bertepuk tangan singkat, “wah perpaduan yang sempurna ya. Calon dokter dan calon pembisnis.”

Lebih cocok juga calon pembisnis dan calon pengacara. batin Marka yang tertuju pada seorang Jihan Ayara.

“Kenalan dong, biar nanti gak canggung lagi kalau bertemu.”

Marka enggan berkenalan dengan siapapun gadis di depannya. Sekarang, ia hanya butuh pelukan Jihan untuk meredakan segala emosinya.

“A-aku Aruna Adhisty salam kenal Marka.”

“Ya, saya Marka, salam kenal juga.”

“Masih canggung banget ya, walaupun begitu nanti pasti bisa lebih akrab lagi. Apalagi perbedaan umur kalian tidak jauh.” ujar Hario.

Para orang dewasa kembali membicarakan tentang bisnis-bisnis yang sama sekali tidak Marka mengerti. Sesekali ia mengecek handphone untuk membalas pesan Jihan atau nimbrung di grup pertemanannya.

–wnsscc

Boyfriend Material

“MARKIE!”

Mark dengan cepat menghampiri perempuannya itu dan memeluknya dengan erat. Kondisi parkiran belakang juga sedang sepi, jadi mereka bisa leluasa disana.

“Hey, is everything okay?”

Mark melepaskan pelukannya, mengelus pucuk kepala Jihan yang terlihat begitu cantik hari ini.

“Hari ini tuan putri mau kemana?”

“Mumpung kamu hari ini bawa motor kita keliling Jakarta aja gak si? Udah lama gak keliling-keliling sama kamu.”

“Alright princess, let's go!”

Jihan mengangguk semangat, ia benar-benar senang melihat sisi seorang Marka yang ceria ini. Sisi lain dari Marka yang ditunjukkan hanya untuk dirinya.

Saat mesin mulai menyala, Jihan langsung menggenggam jaket yang Marka kenakan.

“Babe, i tell you, kalau di motor peluk aja biar gak jatuh.”

“Modus banget si Mark!”

“Jihan?”

“Fine.” Jihan melakukan apa yang Mark suruh, ia memeluk pria itu dari belakang dengan keadaan hati yang cenat-cenut.

–wnsscc

Petunjuk

Keduanya telah sampai dikediaman Ale. Rumah yang tak terlalu megah tapi terlihat sangat nyaman ini menjadi satu-satunya tempat pelarian Nalendra.

“Tunggu disini, gue mau ambil barang buktinya dulu.”

Hasya mengangguk.

Beberapa saat kemudian Ale kembali dengan membawa sebuah flashdisk, sebuah barang bukti kecil dan lembaran kertas berisikan tanggal, waktu, dan tempat kejadian.

Jakarta Utara, 24 Februari 2020. Waktu pukul 21.45.

“Kejadiannya setelah pulang kerja?”

Ale mengangguk, “iya, tempat kejadiannya juga di deket kantor kakak gue. Lebih tepatnya di gudang tua bekas toko yang udah gak kepake.”

“Lo sempet kesana?”

“Iya, gue nemu barang bukti juga. Walaupun gak terlalu berguna.”

Hasya mengambil barang bukti tersebut lalu mengamatinya sebentar. “Kotak kado, buat apa?”

“Ale, coba puter isi CCTV di dekat TKP.”

Ale mengotak-atik laptopnya, lalu memutar isi rekaman yang sempat ia ambil lewat CCTV setempat beberapa bulan lalu.

Hasya mengamatinya dengan sangat serius, dengan teliti ia mengamati gerak-gerik pelaku yang memakai pakaian serba hitam.

“Kalau diperhatiin lebih teliti si pelaku ini agak picang kayaknya. Dari cara dia megangin kaki kanannya terus dan jalan dengan cara nyeret kaki kanan, pasti ada yang salah sama kakinya.”

Ale menatap Hasya kagum, pantas saja ia bekerja di kepolisian, pintar dan teliti.

“Waktu kakak lo ditemuin atau ngelapor ada luka atau lebam gitu gak Le?” tanya Hasya.

“Ada lebam dipipi kanan sama lengan kiri Sya. Tapi kakak gue cerita dia sempet ada perlawanan walaupun abis itu langsung dipukul pake kayu. Dan satu lagi, ini pelaku aromanya mirip-mirip kopi gitu.”

Hasya mengangguk mengerti, ia berpikir sejenak.

“Diminum dulu Sya,” ujar Ale menawarkan minuman yang ia bawa.

“Gak ada list orang-orang yang dicurigain gitu?”

Ale menggeleng, “tadinya ada, yaitu mantan pacar kakak gue. Tapi pas kejadian dia lagi lembur di kantornya yang di Bogor. Dan bener kok, dia ada jadwal lembur sama beberapa karyawan yang lain.”

“Dan setau gue mantan kakak gue ini gak ada riwayat kaki pincang atau apapun, sehat-sehat aja dia.” sambung Ale.

“Susah juga ya.” gumam Hasya.

“Gak usah dikejar banget Sya kasusnya, santai aja. Yang penting kita udah dapet petunjuk, itu udah cukup.”

Hasya mengangguk, belakangan ini kepalanya memang sering mengalami pusing yang membuatnya susah berkonsentrasi.

-wnsscc

Tolong

“Yang gue liat kemarin itu lo kan?”

Hasya memutar bola matanya malas, ia mengabaikan cowok yang masih menatapnya penasaran.

“Just answer the damn question Hasya.”

“None of your bussiness. Kenapa lo kepo banget sih? Did we know each other?”

“We're a classmate, and i know you since kelas sepuluh.”

“I don't care.”

Hasya berjalan pergi meninggalkan seorang Nalendra yang masih pemasaran.

“Hasya, please help me.”

Langkahnya terhenti, ia menoleh ke belakang dengan satu alis yang terangkat.

“Gue tau lo kerja di kepolisian kan? Help me, please?”

“Help you for what?”

Ale langsung menarik lengan Hasya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Ia ingin bicara serius dan tidak disini, keadaan koridor memang sepi, tapi pasti ada saja yang berlalu lalang disana.

“Lepasin, apa-apaan sih lo?”

Ale melepaskan genggamannya. Sekarang mereka sedang berada di taman sekolah yang sepi.

“Kakak gue korban pemerkosaan lima bulan yang lalu. Pelakunya belum ketangkep sampai sekarang. Gue udah lapor polisi, mereka nanggepin, tapi gak pernah anggep serius kasus ini. Gue tau lo kerja di kepolisian setelah gak sengaja liat lo keluar dari ruang introgasi. Gue gak tau deh cara lo bisa kerja disana gimana, but i really need your help Hasya.”

“Gue janji gak bakal sebar apapun selama lo bantuin gue tangkep orang itu. I'll give you anything setelah lo tangkep dia.”

Hasya terdiam, ia bingung. Ia pernah mendengar tentang pemerkosaan lima bulan yang lalu, dan tidak pernah dibicarakan lagi sekarang. Team yang mengurusinya juga bukan teamnya, jadi Hasya tidak tahu perkembangan apapun tentang kasus itu.

“Gimana? I will help you, lo gak bakal kerja sendiri.”

“Deal. Tapi lo harus tutup mulut, ini kasus rahasia diantara kita.”

Cowok Aneh.

“ADUH, jangan ngeles mulu deh kayak bajaj, tinggal ngaku kalo anda pelakunya susah bener. Jangan bikin tambah ruwet deh, tinggal ngaku apa susahnya dah.” ujar Damar yang sudah tak tahan menahan emosinya lagi.

Sudah 20 menit Damar duduk disana dan menghadapi pelaku yang masih tidak mau mengaku ini. Memang tidak lama untuk menemukannya, tapi butuh waktu lama untuk membuatnya berkata jujur.

“Sudah saya bilang kalau itu bukan saya, ngeyel banget si bapak.”

Damar langsung menatap sinis, “bapak? Anda bilang saya bapak? Muka saya masih mulus kinclong glowing gini anda bilang bapak?”

“Ya terus saya harus panggil apa dong? Eneng? Udah lah pak, lepasin saya, saya gak salah.”

“Maling mana ada yang mau ngaku, jelas-jelas muka situ terpampang di CCTV sekitar.”

Sedangkan Hasya, Dewa, dan Esa mendengar percekcokan dua manusia itu diruangan sebelah. Hasya 100% yakin bahwa pria itu adalah pelakunya. Dari cara ia berjalan, cara memegang senjata dengan kidal dan gemetar sudah 100% mendeskripsikan apa yang ia lihat di CCTV dan video yang diberikan warga sekitar.

“Pelaku kayak gini bikin males dah asli, capek-capek gue kejer sampe bojonggede endingnya pasti gak mau ngaku.”

“Mana harus adu mulut sama Damar yang emosian.” sambung Esa.

Hasya masih fokus. “Dia panik, dia bohong, di takut.”

Dewa langsung menepuk-nepuk punggung gadis itu, “iya Hasya, kita tau. Pasti kamu capek kan? Mending makan dulu di meja Mas, Mas tadi ada beli bubur.”

“Iya Sya, gue kasian banget sama lo kalau kayak gini, pasti otak sama raga lo udah capek banget.” Esa ikut bersuara.

“Tapi ini pelakunya belum jujur, Hasya pengen tau motifnya apa, Hasya disini dulu ya sebentar?”

Dewa menggeleng, lalu mendorong Hasya pelan untuk keluar dari ruangan dan beristirahat. “Nanti kalau udah makan baru boleh kesini lagi, atau kalau udah selesai nanti Mas ceritain.”

Dewa menutup pintu ruangan, Hasya yang masih penasaran berusaha menahannya dan segera pergi ke meja Dewa untuk makan.

𝘉𝘳𝘶𝘬!

“Aduh maaf..”

“Eh gak apa-apa, saya minta juga karena-” omongannya terhenti ketika kedua mata mereka bertemu.

Dengan cepat Hasya langsung mengalihkan pandangannya, “maaf ya, saya duluan.”

–wnsscc

Jujur

Luna menatap Hasya dengan penuh semangat, pasalnya ini adalah pertama kalinya Hasya bercerita dan mencoba terbuka padanya.

“Jadi lo mau cerita apa Sya? Gue dengerin, sampe maghrib pun gue dengerin.”

Hasya memang salah tidak pernah terbuka pada Luna, Hasya tidak seharusnya menutupi semuanya sendiri. Sekuat apapun dirinya, Hasya masih membutuhkan pelukan dan tempat sandaran ketika ia mendapat masalah.

“Luna, sebelumnya gue minta maaf kalau gue gak pernah terbuka sama lo. Gue gak mau ngebebanin lo sama cerita dan masalah gue selama ini.”

Luna memegang kedua bahu Hasya, “gak ada yang ngerasa terbebani Hasya. Gue seneng kalau lo mau mulai terbuka dengan gue, gue seneng banget.”

“Sok cerita apa yang selama ini emang mau lo ceritain ke gue.” sambung Luna.

Hasya menarik nafasnya dalam, “Lun, selama ini gue bohong soal dapet dana buat kehidupan gue dari saudara-saudara gue. Maaf.”

Luna terdiam, ia kaget tentu saja, tapi gadis itu membiarkan Hasya untuk menceritakan keseluruhannya.

“Selain bantuan pemerintah kayak KJP, BPJS, dan lain, gue kerja sampingan jadi detektif tambahan di kantor polisi pusat. Selama ini gue hidup dari gaji kerja sampingan, dan tabungan yang selama ini orang tua gue tabung buat gue.”

“Lo pasti bingung kan kenapa gue bisa kerja di kantor polisi gitu? Semenjak kecelakaan empat tahun lalu gue ngerasa ada yang beda sama gue Lun. Akibat benturan keras otak gue jadi lebih pinter dari gue yang biasa. Gue belum terlalu ngerti penyebabnya apa, tapi karena otak ini gue bisa bertahan hidup.”

“Alasan kenapa gue selalu nolak ajakan lo buat pergi pas pulang sekolah karena gue kerja. Bukan les. Luna maaf, gue udah banyak bohong sama lo.”

Luna memeluk Hasya dengan cepat, ternyata gadis di depannya ini memiliki hidup yang lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Luna juga merasa merasa bersalah karena selalu mengeluh tidak cukup atau tidak menyukai sesuatu yang mungkin saja gadis ini tidak mampu untuk membelinya.

“Hasya, jangan pernah mendem apapun sendiri lagi ya? Gue disini, gue bakal selalu ada buat lo.”

–wnsscc

Rahasia Hasya

“Sya, mas masih kenyang, mas numpang disini sebentar ya. Males nyetir kalau lagi kenyang gini.”

Selesai makan makanan yang Dewa bawa, keduanya memutuskan untuk menonton film di ruang tamu sambil berbincang-bincang.

“Yah mas, nanti jam 3 ada temen Hasya yang mau kesini. Emang mas mau disini kalau ada temen Hasya?”

Dewa merubah posisinya menghadap Hasya. “Temen kamu yang mana? Yang kecil pecicilan itu?”

Hasya mengangguk, “emang selain dia temen Hasya siapa lagi? Kan gak ada hehe.”

“Loh kan ada Mas, Mas Damar, sama Kak Esa, kita kan juga temen kamu.”

“Iya ya, Hasya nganggep kalian kakak selama ini.” Hasya tersenyum, benar-benar bersyukur telah bertemu orang baik seperti mereka.

Dewa mengelus pucuk kepala Hasya, Dewa benar-benar menyayangi Hasya layaknya adik sendiri. Selain itu, Dewa melihat Hasya seperti dirinya dimasa lalu.

“Temen kamu tau kalau selamat ini kamu kerja di kepolisian Sya?”

Hasya menggeleng, “Hasya gak berani ngasih tau Luna Mas. Apalagi tentang kelebihan Hasya ini, Hasya gak mau nambah beban pikiran Luna mas, hidupnya udah cukup berat.”

Dewa tersenyum, bersiap memberi wejangan ala-ala.

“Mas tau, tapi coba bayangin kalau kamu jadi Luna. Luna yang udah terbuka sama kamu tapi kamu selalu tertutup sama dia. Pasti ada dipikiran Luna kalau dia gak cukup kamu percaya buat dijadikan tempat kamu cerita. Dengan kamu cerita sama Luna itu cukup buat dia ngerasa dihargai dan dipercaya sama kamu Sya.”

“Ketidakterbukaan kamu ini ngebuat pertemanan kadang terasa renggang. Kamu khawatir kalau kamu cerita sama Luna maka beban Luna akan tambah gitu kan? Padahal hanya dengan cerita dan terbukan kalian bisa mengenal satu sama lain lebih baik.”

“Saran Mas mending kamu cerita sama Luna, coba terbuka sama dia. Gak ada salahnya untuk cerita ke teman sendiri, toh kalian udah berteman lumayan lama.”

Hasya mendengarkan dan mencerna dengan seksama wejangan dari Dewa. Dewa benar, ia terlalu tertutup pada Luna yang selalu terbuka padanya. Jika boleh jujur, banyak keluh kesah yang ingin Hasya ceritakan pada sahabatnya itu.

“Makasih Mas Dewa, Hasya ngerti kok. Hasya bakal coba buat lebih terbuka lagi.”

“Bagus. Btw Sya, kamu masih sekolah kapan? Minggu ini udah masuk bulan Juli kan ya?”

“Hasya masuk sekolah tanggal 20 Juli Mas, deg-degan udah kelas 12 aja.”

“Kamu ada rencana lanjut kuliah Sya?”

Hasya bingung, ia sendiri belum menentukan apa yang akan ia lakukan selepas lulus nanti.

“Gatau Mas, Hasya nyesuain budget yang ada aja. Kalau emang memungkinkan ya Hasya bakal lanjut, kalau memang enggak ya mungkin Hasya bakal cari kerja dulu buat ngumpulin uang kuliah.”

“Kenapa gak kerja sambil kuliah aja? Kayak sekarang ini, kerja sambil sekolah.”

“Gak bisa mas, perhatian Hasya merasa terbagi kalau kayak gini. Hasya pengen kalau emang kuliah ya fokus kuliah, kalau kerja ya fokus kerja. Otak Hasya punya kapasitas dan tanggal capeknya sendiri Mas.”

Dewa mengangguk paham, dan percaya bahwa semua keputusan Hasya adalah yang terbaik untuknya.

–wnsscc

Anugerah

Kini Hasya duduk di taman rumah sakit sambil menunggu seseorang untuk datang. Seseorang yang akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Hasya ya?”

Hasya menoleh, lalu mengangguk. Tampak seorang pria yang kelihatannya masih muda ikut duduk disampingnya.

“Halo Hasya, saya Damar Fadhillah panggil Mas Damar aja. Saya dari kepolisian, masih magang, tapi kinerja mah oke.” ujar pria itu memperkenalkan diri.

Hasya tersenyum sambil mengangguk pelan untuk merespon. Gadis itu masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

“Tau gak Sya, kehadiran kamu sekarang ini adalah satu satu anugerah tau.”

“Maaf mas, tapi mas bisa jelasin ke saya gak ya tentang apa yang terjadi sebenarnya? Saya bingung mas jujur, dari tadi yang orang bilang cuma anugerah, anugerah, dan anugerah.”

Damar tersenyum, ada rasa tidak tega di dalam hatinya untuk memberi tahu semuanya pada gadis ini.

“Empat hari yang lalu kamu dan sekeluarga mengalami kecelakaan hebat.” Damar memulai ceritanya.

Hasya terkejut, tapi ia masih ingin mendengar penjelasan dari Damar lebih detail lagi.

“Mobil kalian mengalami tabrakan dengan truk makanan dan menyebabkan mobil kalian tergelincir ke dalam jurang. Walaupun tak terlalu dalam jatuhnya, tapi kerusakannya fatal.”

Belum selesai bercerita, Damar menghela nafas berat sebelum masuk ke inti tersedih dari kejadian.

“Akibat kecelakaan itu, kalian sekeluarga sempat dirawat di rumah sakit. Tapi maaf, ayah dan ibumu harus pergi terlebih dahulu. Luka yang mereka dapat cukup serius, sudah diusahakan dengan keras tapi takdir berkehendak lain. Maaf Hasya.”

Tetesan air jatuh dari kelopak mata gadis muda itu. Ia tidak menyangka bahwa hari indahnya harus berakhir seperti ini. Hari itu seharusnya mereka pergi bermain, tapi mengapa harus berakhir seperti ini?

Isakan tangis mulai terdengar, gadis itu tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Damar yang berada di sebelahnya memberanikan diri untuk menenangkan Hasya dengan menepuk-nepuk punggungnya. Jika Damar berada diposisi gadis ini, tidak tahu lagi apa yang akan Damar lakukan. Kepasrahan dan kesepian pasti menyelimuti dirinya.

“Hasya maaf, tapi kalau kamu ada butuh apa-apa bisa hubungi mas ya? Hasya juga yang sabar ya.”

Sore itu, waktu dimana Hasya harus menerima kenyataan pahit bahwa ia harus mengalami semua ini.

Hasya tidak yakin akan bisa terus hidup sendiri. Hasya adalah anak tunggal, dan ia harus mengalami semua ini?

–wnsscc

03 Maret 2016

Matanya perlahan terbuka, pusing di kepala pun juga datang menghampirinya. Ia perlahan menggerakkan jari-jarinya. Desisan keluar dari mulutnya, beberapa saat kemudian beberapa orang datang menghampirinya, menatapnya dengan kebingungan.

“Anugerah banget kamu bisa selamat dek.”

Tidak terlalu jelas, tapi kalimat itu dapat ia dengar. Anugerah? Memangnya apa yang terjadi? Hal terakhir yang ia ingat adalah canda tawa bersama ayah dan ibunya.

“Gak tega ngasih kabar buat anak seusia dia.”

Kabar? Kabar apasih? Sebenarnya apa yang terjadi? Gadis itu mulai mengangkat tubuhnya saat ia sudah berada di kesadaran penuh. Tapi orang-orang berseragam putih ini langsung menghampiri dan menahannya.

“Aduh, jangan langsung duduk, tiduran dulu aja ya.”

Setelah merebahkan tubuhnya kembali, gadis itu mencoba untuk membuka suara, ia benar-benar bingung.

“Maaf, ini dimana ya? Terus ada apa ya sebenernya?”

Tidak menjawab, pria paruh baya itu malah menatapnya penuh iba. Tatapan yang membuatnya semakin bingung.

“Adek istirahat dulu ya, nanti kalau udah enakan suster ceritain semuanya.” jawab wanita disamping pria tersebut.

𝘚𝘶𝘴𝘵𝘦𝘳? 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘩? Bingung. Kepalanya juga terasa begitu pusing.

Gadis itu mencoba memejamkan matanya kembali untuk menghindari pusing yang amat ini.

Setelah berhasil tertidur, para orang-orang berseragam itu keluar dari ruangan dan meninggalkan gadis itu seorang diri.

Gistara Hasya Raeesa. Nama yang tertulis dipapan yang digantung diranjang miliknya.

–wnsscc