Boba + free hug
Pintu apatermen Jihan terbuka, nampak Marka yang berjalan masuk sambil menenteng boba yang ia janjikan. Marka datang dengan keadaan dan setelah yang sama saat makan malam tadi.
“Ih pacar aku ganteng banget kalau pake kemeja gini.”
“Emang biasanya gak ganteng?”
“Ganteng dong! Bobanya kayak biasa kan Mark?” tanya Jihan dengan pandangan yang langsung tertuju pada boba yang Marka bawa.
Marka mengangguk, “bobanya aku kasih kalau udah dapet hug dari kamu.”
“Hadeh modus.”
Jihan merentangkan tangannya yang langsung disambut dengan pelukan dari Marka. Marka menenggelamkan wajahnya dibahu kanan Jihan, ia seperti melampiaskan semuanya disana.
“Marka kamu gapapa?”
“No i'm not, Jihan..” jawab Marka dengan suara sedikit paruh.
Jihan menepuk-nepuk punggung Marka, lelakinya ini sedang tidak baik-baik saja, dan Jihan harus menjadi obat dan penenang untuknya.
“Mark, makan dulu ya? Kamu juga bersih-bersih dulu, biar segeran dikit.”
Marka menggeleng, “gak mau, maunya kayak gini terus sama kamu.”
“Kalau kayak gini terus lama-lama pinggang aku encok Marka, kamu juga berat banget. Nanti abis makan dan bersih-bersih hug lagi, lama juga gapapa.”
“Can i get a kiss too?” tanya Marka bercanda.
“Oalah jadi bocah kok ngelunjak.”
Marka terkekeh, ia melepaskan pelukannya. Ia memberikan boba yang masih ia tenteng sejak tadi.
“Thank you Maraka!“
“Iya sayang ku.”
“Idih sayang-sayang. Udah sana bersih-bersih, aku mau masak dulu bye!” ujar Jihan lalu meninggalkan Marka.
Sepasang kekasih itu kini tengah menikmati makanannya di ruang tamu. Sesekali mereka bercanda atau membicarakan hal-hal konyol tentang geng Marka yang gak pernah waras.
“Tapi Lucas pernah ngirim aku selfienya dia loh Mark, katanya 'yakin lo masih sedih setelah liat wajah tampan gue?' Kalau gak salah waktu kita berantem dua bulan lalu cuma gara-gara salah paham.”
“Itu aku yang nyuruh Jihan..”
“Ih demi apa? Ngapain kamu nyuruh Lucas kirim selfie gitu? Kenapa gak kamu aja? Gengsian banget si.”
Marka menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu, “ya kalau aku kirim selfiean muka aku takut kamunya makin kesel, jadi ya aku suruh Lucas aja yang ngirim.”
“Enggaklah, kamu jarang banget ngirim pap muka gitu, sekalinya ngirim bikin jantung aku senam lantai.”
Marka terkekeh, bersama Jihan memang membuatnya kembali ceria. “Besok-besok aku sering ngirim foto deh ya, biar jantung kamu diskoan.”
“Boleh banget, tapi sebelum ngirim fotonya tolong bilang dulu, biar aku siapin mentalnya dulu.”
Keduanya berakhir tertawa bersama, Jihan kembali makan dan Marka mengecek handphonenya yang bergetar sejak tadi.
Raut wajahnya berubah seketika ketika membaca isi notifikasi.
“Mark, kenapa?”
Marka menggeleng, ia membalas pesan tersebut dengan wajah penuh tidak suka. Lalu menaruh handphonenya setelah selesai.
“Jihan, aku mau peluk lagi boleh gak?”
Jihan mengangguk, “boleh, tapi abis makan ya.”
Marka mengangguk, lalu melanjutkan makannya dengan segera agar bisa kembali memeluk sang penenang dari setiap masalahnya.
–wnsscc