teou
Jihan mengatur nafasnya perlahan sebelum menghampiri Maraka yang sudah menunggunya di ruang tamu.
“Rak, maaf lama.”
“Gapapa, kondisi kamu udah membaik?” tanya Maraka sambil mengisyaratkan Jihan untuk duduk disampingnya.
“Udah, dont worry. Terimakasih juga ya udah khawatirin aku semaleman.”
Maraka mengangguk, menatap manik gadis disampingnya yang terlihat cukup gugup. “Mau ngomong apa? Is something happen?”
“Raka, maaf.”
“Sorry for what?” Maraka menaikkan satu alisnya.
“Jadi begini..
Aku keterima kerja Rak, tapi bukan disini, bukan di Jakarta. Cukup jauh walaupun masih di dalam Pulau Jawa.”
“What? Where?”
“Jogja. Kamu tau kan mama sama Jiel juga disana? Aku sekalian nemenin mereka. Jiel juga udah mau skripsian kan ya, jadi mungkin aku bisa bantu dia. Papa disini udah ada Bang Tama, papa juga setuju kalau aku ambil kerja disana sekalian nemenin mama. Maaf, maaf baru bilang sekarang.”
Maraka masih terdiam, benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan terpisah jarak.
“Kapan? Kapan kamu pindah?”
“L-lusa.”
“HAH? SECEPAT ITU?”
“Iya, aku udah dapet tiket, udah beberes barang walaupun ada beberapa yang belum sih. Semalem aku gamau ketemu kamu dulu karena aku bingung, bingung gimana cara bilangnya.”
Maraka seperti menjernihkan pikirannya, benar-benar kaget mendengar jadwal keberangkatan Jihan yang tidak ada seminggu lagi.
“Ji.. kenapa tiba-tiba banget?”
“Aku minta maaf, aku gak tega bilangnya ke kamu.”
Maraka menghela nafasnya berat, “ok, its your decision and i respect it. Tapi inget Ji, jangan putus komunikasi sama aku.”
“Pasti.”
“Dan jangan cari cowok lain. Aku bakal sering-sering ke Jogja buat ketemu kamu, gonna miss u so bad.”