saya gak salah, kenapa saya harus minta maaf?
Aku menatap manik mata yang penuh ke khawatiran di depanku. Dengan jari-jari yang menyatu, mengepal, serta bibir yang tak henti merapalkan doa, dan aku yang hanya bisa duduk, tertunduk, tapi dengan keheranan dengan mengapa aku ada disini.
“Sya, ceritakan tentang yang sebenarnya terjadi didalam nanti ya. Mas percaya kamu gak bersalah, tindakanmu sudah benar. Tinggal membuka hati mereka dengan fakta yang sebenarnya saja yang akan menjadi tugasmu didalam nanti.” ucapan pendukung yang datang dari bibir masku membuatku agak bernafas lega.
Aku tidak takut, mengapa harus takut? Aku tidak salah, para pelaku yang ku hajar dua hari lalu lah yang seharusnya merasa takut dan bersalah. Lagi semua orang—kecuali mereka yang termakan omongan dan uang yang manis pasti akan percaya padaku dan korban.
Beberapa saat kemudian, sapaan dengan suara lemah itu menyapa telingaku. Berdiri gadis sebayaku dengan wajah pucatnya tersenyum manis padaku, “terimakasih ya Hasya sudah membelaku sampai segininya. Maaf sudah melibatkanmu sampai sejauh ini.”
Aku berdiri, mensejajarkan diriku dengannya, mengusap pelan punggungnya, “sama-sama. Kamu gak perlu takut, kamu tidak bersalah disini, malah kamu korban. Aku yakin, akan ada keadilan disini, hari ini.” aku menenangkannya, ia hanya mengangguk pelan.
Wanita paruh baya muncul dari belakangnya, tingginya lebih pendek dariku atau temanku. Ia tersenyum dengan begitu tulus padaku, “terimakasih ya nak, terimakasih sudah menyelamatkan Gita semalam. Saya sekeluarga benar-benar berhutang budi pada kamu.”
Aku mengangguk bangga. Aku sudah menyelamatkan hidup seorang gadis remaja, jadi apa yang harus aku takutkan mengenai apa yang akan terjadi didalam sana nanti?
“Kakaknya nak Hasya ya? Kenalkan, saya Fitri, ibu kandung Gita. Saya ingin berterimakasih dengan sungguh-sungguh. Kamu mempunyai adik yang hebat dan pemberani.” lagi-lagi pujian terdengar dari lisan wanita itu. Masku langsung menoleh dan tersenyum bangga, rasanya kekhawatiran itu sudah hilang dengan cepatnya.
Pintu ruangan didepanku terbuka, menampakkan wanita paruh baya dengan pakaian rapih mempersilahkan kami masuk. Saat diri ini sudah selangkah berada di dalam, pandanganku langsung terpaku pada cowok dengan pakaian urak-urakan yang asik duduk bersantai sambil menyeringai menatapku.
Tengil. kata pertama yang keluar dari benakku setelah melihatnya.
Perempuan tadi mempersilahkan kami duduk, aku berhadapan dengannya saat ini, si tengil itu. Mataku tak hentinya menatap tajam cowok berandal itu. Sedangkan Gita yang kini duduk disampingku, hanya tertunduk tak berani menatap siapapun kecuali diriku dan ibunya.
“Sudah berkumpul semuanya ya?” itu suara kepala sekolahku. Entah mengapa aku menjadi kurang suka padanya semenjak kejadian acuhnya dia terhadap korban bully di sekolah ini.
“Saya pribadi sudah mendengar cerita dari nak Joshua mengenai kejadian dua hari lalu, dan keluhan tentang babak belurnya Joshua karena dipukuli kamu, apa benar itu nak Hasya?”
Aku memutar bola mataku, “saya gak bakal nyerang seseorang tanpa alasan yang kuat. Bisa-bisanya bapak masih bertanya dan mengumpulkan kami disini padahal jelas-jelas Joshua yang bersalah dan sudah penuh dengan bukti.”
“Saya gak akan nyerang Joshua kalau dia tidak berusaha melecehkan Gita dihadapan saya.” pembelaan dan buktiku sudah kuat, aku yakin aku akan menang hari ini.
Pandangan kepala sekolah berganti pada Gita yang sedang tertunduk menahan tangis. “Kalau kamu Gita? Apakah kamu merasa dilecehkan?”
“PAK!” refleks aku berteriak, demi Tuhan aku baru pertama kali mendengar pertanyaan bodoh seperti ini.
“Kamu jangan berperilaku tidak sopan, gurumu sedang bertanya, dimana sopan santunmu itu?” kali ini pertanyaan tidak mengenakkan itu datang dari ibu Joshua, ia menatapku sinis sekali.
“Kalau saya balik bertanya dimana akal sehat putra ibu sampai melakukan hal sebejat itu apakah termasuk tidak sopan?” matanya langsung melotot sempurna, begitu juga dengan Joshua yang langsung menatapku dengan amarah.
Masku hanya diam sedaritadi, membiarkanku membela diriku dan Gita. Tugasnya disini hanya mengawasi diriku agar tidak lepas kendali dan melakukan hal bodoh. “Sudah-sudah jangan bertengkar seperti ini, kita masih menunggu jawaban dari nak Gita.”
“Gapapa Ta, keluarin aja semuanya.” bisikku pada Gita.
Gita menarik nafasnya dalam, ia harus berani, karena ceritanya hari ini akan berpengaruh dengan keputusan nanti. “Bapak masih bertanya apakah saya merasa dilecehkan padahal jelas-jelas ada bukti video dimana saya meronta-ronta minta dia berhenti? Pertanyaan yang seharusnya bapak lontarkan disini adalah apakah pelaku merasa bersalah? Kalau bapak dan kalian semua ingin menyalahkan Hasya atas perilakunya yang memukuli Joshua, kenapa kalian tidak menyalahkan Joshua atas perilaku bejatnya? Apa karena ia donatur tertinggi sekolah sedangkan saya dan Hasya hanya anak beasiswa?
Padahal sudah ada bukti jelas mengenai kejadian hari itu, lantas apa yang perlu diluruskan lagi? Lalu kenapa pelaku masik asik berkeliling sekolah sedangkan saya disini berusaha mengobati trauma saya? Bahkan tidak ada permintaan maaf apapun yang keluar dari bibir pelaku, benar-benar tidak tahu diri.
Dia merasa dirinya berada diposisi aman hanya karena posisi orang tuanya di sekolah, tanpa tahu sanksi sosial yang akan terjadi kedepannya.”
Kali ini ibu Joshua yang angkat bicara, “tapi apa dengan memukuli anak saya hingga babak belur harus menjadi keputusan? Kamu sudah melakukan kekerasan terhadap anak saya, dan saya tidak terima itu. Saya bisa saja melaporkan hal ini!”
Aku terkekeh, entah mengapa hal ini terdengar sangat lucu. “Ibu bisa melaporkan saya sebagai kasus kekerasa, tapi saya juga bisa melaporkan Joshua karena kasus pelecehan. Bagaimana bu? Jadi meneruskan kasus ini ke ranah hukum?”
Masku tersenyum simpul, ia begitu bangga padaku saat ini. Kekhawatiran tadi terasa sangat sia-sia melihat kondisiku saat ini.