06 ; kamu kuat, kamu hebat
tw // mention of abuse , family issues
Baru saja Kaia keluar dari rumahnya, mobil putih Heza sudah terlihat terparkir di depan rumahnya.
Sang pemilik pun sedang berdiri di depan mobilnya sambil melambaikan tangan, Kaia hanya membalasnya sambil tersenyum.
“Kenapa jemput aku? Kan aku bilang gak usah Hezaa.”
“Gapapa, ayo masuk!”
Sesampainya di dalam mobil, Heza memberikan plester pada Kaia untuk dahinya yang terluka.
“Heza..”
Heza mengambil kembali plesternya dari tangan Kaia, membukanya dan memakaikannya di dahi Kaia. “Sakit ya?”
Kaia mengangguk dengan matanya yang sudah perih menahan air mata.
“Kamu kuat ya Kaia, aku kagum.”
“Kayak neraka Za.. Aku tau sekarang kenapa abang gak betah di rumah mama.”
Kepalanya tertunduk, “tadi aku dilempar gelas, ditampar, sakit..”
Seperti tak ingin menyembunyikannya, Kaia menceritakan semuanya pada Heza, rumahnya yang sebenarnya.
Heza langsung memeluk gadis itu erat-erat, mengelus kepala dan punggung gadis itu secara bergantian. Membiarkan perempuannya menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.
“Aku sayang bunda.. tapi kenapa bunda jahat banget Za. Perih banget Za dijadiin pelampiasan bunda..”
Heza tidak melepaskan pelukannya sampai Kaia benar-benar tenang, ia membiarkan Kaia menangis dan yang ia hanya lakukan hanya menenangkannya.
“Nanti kita kompres ya luka lebamnya.”
“Kok bunda jahat banget ya Za? Aku anaknya loh, aku juga mau dipeluk bunda kayak anak-anak lain.”
Keluhan tak henti-hentinya keluar dari bibir Kaia. Semakin sakit keluhannya, semakin erat pelukan yang Heza berikan.
“Aku mau kabur aja rasanya dari rumah, tapi bunda lagi sakit. Nanti yang rawat bunda selain aku siapa? Sejahat-jahatnya bunda aku gamau bunda kenapa-napa.”
“Nanti kalau Kai dipukul lagi bilang aku ya, nanti aku dateng.”
Kaia mengangguk, lalu melepaskan pelukan mereka. Matanya sudah sembab, dan jemari Heza menjelajah wajah Kai mengusap sisa-sisa air mata.
“Heza, aku laper.”
Heza tersenyum, “mau makan apa?”
“Masakan kamu aja gimana? Kangen masakan kamu.” jawab Kaia.
“Yaudah.”
Kaia menyenderkan tubuhnya pada kursi mobil, mengarahkan kepala dan tatapannya pada Heza yang sedang menyetir.
“Kenapa?” tanya Heza dengan sedikit menoleh.
“Itu pelukan kedua kita setelah kamu pertama kali meluk aku waktu aku lulus sbm tau, salting loh aku.”
“Peluk aku lagi dong nanti kakak Heza.”
“Gausah aneh-aneh.”