The One She Love

Abi dan Alin telah sampai di danau yang sering mereka kunjungi semasa SMP dulu. Danau yang tempatnya yang tak jauh dari sekolahnya dulu.

“Kangen ya kesini. Sejuknya masih sama.” ucap Abi, bibirnya tersenyum tipis sambil menikmati hembusan angin pagi.

Alin mengangguk, “kamu sih pake pindah. *Btw* apa yang mau kamu omongin Bi?” tanya Alin.

Abi menggigit bibir bawahnya, ia gugup, kakinya pun tak berhenti bergerak menandakan gugupnya Abi sekarang. Abi memiringkan tubuhnya, mengambil sebuah box dengan pita sebagai hiasan yang ia simpan di sampingnya.

“Buat kamu.” ucap Abi sambil menyodorkan box tersebut.

Alin mengerutkan dahinya, tangannya pun ragu untuk menerima barang tersebut, “buat aku?” tanyanya memastikan. Abi mengangguk.

Dengan ragu Alin menerima box tersebut, lalu melirik Abi yang memberinya isyarat untuk membuka box tersebut. Alin mulai membuka dengan melepaskan pita yang terikat di *box,* lalu membuka penutupnya dengan perlahan.

“Baju?”

Abi mengangguk, “buat kamu.”

“Dalam rangka apa Bi? Perasaan ulang tahun aku masih lama deh.” tanya Alin lagi, gadis itu terus melontarkan pertanyaan karena ia benar-benar bingung saat ini.

Abi terkekeh, cowok itu menggeleng. “Enggak dalam rangka apa-apa Lin, cuma mau ngasih aja. Oiya Lin,” cowok itu memotong potongannya.

“Kenapa Bi? Tapi terima kasih ya kadonya, lucu Bi bajunya.”

“Lin, kalau aku bilang aku masih suka sama kamu jawaban kamu apa?” tanya Abi berbasa-basi.

“Jangan suka aku Abi..” jawab Alin, gadis itu tak pernah lelah untuk mengatakan kalimat ini pada Abi.

Abi tersenyum miris, “masih belum bisa ya Lin?” tanya Abi.

Alin menggeleng, “bukan belum bisa Bi, tapi memang enggak bisa. Dari awal aku deket sama kamu, aku ‘gak pernah kepikiran sekalipun untuk jadiin kamu pacar. Kamu sahabat aku Bi, *************sahabat.*************”

Alin tertunduk, ia sedih, ia sedih bahwa setelah hari ini mungkin dia dan Abi tidak akan sama lagi seperti dulu.

“Aku minta maaf banget Bi kalo ini terdengar jahat banget buat kamu, tapi—aku punya pacar Abi.”

Deg! Rasanya seperti jatuh lalu tertimpa tangga. Setelah ditolak dan mendengar jawaban Alin yang terdengar begitu sakit untuknya, Abi harus mendengar kabar lain bahwa Alin sudah punya pacar.

“Siapa?”

“Satria. Satria Rakhabumi, teman dekat kamu dulu.” jawaban dari Alin yang membuat pria di sebelahnya tercekat.

“Dari kapan?” nadanya kini terdengar lirih.

“Semalam. Satria *******confess******* semalam Bi. Sebelum kamu nyalahin aku biar aku jelasin dulu ya Bi. Aku udah suka Satria sejak kita bertiga pergi ke pasar malam waktu kelas delapan dulu, tapi aku pendem Bi. Aku enggak berani cerita ke siapapun, bahkan kamu, apalagi setelah aku tahu Satria ternyata lagi deket sama anak kelas sembilan. Ditambah kamu *****confess***** ke aku waktu kamu kelas sepuluh, aku makin yakin buat pendam semuanya sendiri. Beberapa bulan terakhir aku sama Satria deket lagi Bi, dan aku masih ragu untuk cerita ke kamu apalagi kamu selalu terus terang soal rasa kamu ke aku. Kemarin setelah kamu ngajak aku pergi, Satria ada nge**chat** aku, dia ngajak makan di tempat yang biasa aku dan Satria datengin beberapa minggu terakhir. Disitu Satria ****nembak**** aku Bi, dan aku terima. Aku minta maaf karena terlalu tertutup sama kamu soal ini Bi, hal yang harusnya aku kasih tahu biar kamu berhenti berharap sama aku.”

“Jadi emang bukan aku ya Lin orangnya?” Abi mengalihkan matanya, akan semakin sakit jika melihat wajah Alin sekarang.

Abi menghembuskan nafasnya berat, momen ini sungguh berat untuknya, “selamat ya Alin.”

“Abi..”

Abi menoleh, menatap dalam gadis di hadapannya, “aku harap kamu dan Satria selalu bahagia, dan selamat atas kalian. Aku percaya Satria bisa jaga kamu.”

Abi mengulurkan tangannya, menandakan bahwa Abi ingin penolakan ini berakhir dengan damai.

Memang bukan Abi, bukan Abi yang sejak awal ada di hati Alin. Bagi Alin, Abi hanya teman dekat yang akan selalu berada diposisi itu. Tapi bagi Abi, Alin adalah cintanya, Alin adalah cinta pertamanya. Alin adalah wanita yang mampu membuat Abi jatuh begitu dalam.

“Bahagia ya Lin?”