63

Maraka kembali dari tempatnya dengan setelah tidur yang nyaman. Sudah ada Jihan yang duduk menunggunya sambil menonton tv dan mengunyah cemilan.

“Ngunyah terus!” ledek Maraka.

Jihan terkekeh, ia menepuk sisi sofa disampingnya, “sini!”

Maraka langsung berlari kecil dan duduk manis disamping Jihan, menyenderkan kepalanya pada bahu Jihan.

“Bisa gak ya kamu gak usah pergi aja besok? Gak mau ditinggal kamu..” gumam Maraka dengan pandangan lurus ke depan.

“Enggak bisa dong Rak.”

Maraka memanyunkan bibirnya, “we’ve been together for almost sever years, we’ve meet almost every day, it’s hard to make a distance with you.”

“Kamu bisa Raka.”

“I cant taste your delicious breakfast anymore, no more morning hug, or lunch together. Susah buat terbiasa kayak sama kamu.”

“Kita bisa berkabar kok Rak, its hard, i know. Coba ya? Ini buat kepentingan aku juga kan.”

“Iya, kamu baik-baik ya disana, jangan lupain aku apalagi gak ngabarin aku. Nanti kamu aku datengin loh.”

Jihan terkekeh, “iya sayang.”

“Aku kesana kalau ada waktu luang, kalau gak ada juga aku ada-adain.”

“Ya jangan maksa juga dong Rak, mending disini temenin mama kamu.”

“Mama ngerti kok, aku udah coba ngomong kemarin. Dia juga paham pasti berat buat aku, kamu.”

“Thank you for being my life energy for this sever years. Aku harap kamu tetap jadi energi aku walaupun kamunya jauh disana.” sambung Maraka.

“I love you in every distance we’re apart.”