38
Jihan memainkan ibu jarinya untuk menghindari perasaan gugup yang menyerang. Disampingnya ada Daksa yang hanya tertunduk sambil memainkan ponselnya.
“Udah putus kak?” tanya Jihan membuka percakapan.
“Proses, lagi berantem ini juga.” jawab Daksa santai yang membuat Jihan hampir melepas tawanya. Entah mengapa jawabannya terdengar sangat lucu.
Klek!
Pintu ruangan terbuka, menampilkan pria tua dengan tongkat yang memopongnya untuk berjalan. Aura tegasnya sudah terpancar ke seluruh ruangan, membuat kedua manusia yang tadinya cukup santai kembali gugup.
“Maaf sudah memanggil kalian lebih awal dari hari yang ditentukan.”
Ia duduk diseberang Jihan dan Daksa yang sibuk merapihkan pakaian.
“Bagaimana progresnya? Sudah h-5.”
“Lagi berantem, paling besok putus.” jawab Daksa lagi-lagi dengan santainya. Tapi Jihan sadar, raut wajah Daksa yang menampilkan kesedihan dengan mata yang cukup sembab.
Kakek melirik ke ara Jihan, “saya.. Masih gitu-gitu aja sama Maraka. Susah pak, Maraka selalu punya cara buat nyelesain masalah dan maafin saya.”
Pria dengan tahi lalat dipinggir mulut itu menghela nafasnya. “Masih ada lima hari, kamu pikirkan bagaimana caranya.”
“Saya juga sudah menyiapkan semuanya, terkhusus kamu Daksa, kamu bisa bawa adikmu mulai perawatan lusa. Akan saya biayai secara rutin dan soal pekerjaan dan tempat tinggal sudah aman. Saya tidak akan mengganggu kalian lagi asal kalian juga tidak melanggar perjanjian kita.” sambungnya. Daksa hanya mengangguk pasrah.
“Dan kamu Jihan, benar hanya tidak ingin tempat tinggal dari saya? Tidak akan saya pungut biaya apapun asal kamu patuh.”
Jihan menggeleng, hadiah dari perjanjian mereka hanya mereka tidak akan menganggu ayahnya lagi. Dan pekerjaan hanya bonus dari keputusan beratnya. Maraka pasti akan sangat marah jika mengetahui hubungan mereka hanya dihargai dengan sesuatu yang mungkin Maraka bisa berikan.
“Saya ucapkan maaf yang sebesar-besarnya pada kalian. Saya tau ini pasti berat banget, hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun harus kandas karena pernjanjian saya dahulu. Terimakasih juga sudah menjadi pengkabul kesepakatan ini, terimakasih dana maaf. Saya harap apa yang saya kasih sepadan ya.”
Daksa melirik Jihan sebentar yang sedaritadi hanya tertunduk lesu tanpa bicara banyak.
Tidak akan mudah untuk mereka melepaskan.