one last hug

Semua teman Jihan sudah berkumpul di stasiun. Tadi ayah sudah sempat mengunjungi dan mengantar Jihan, tapi langsung pergi karena ada keperluan.

“Bisa langsung masuk kereta aja gak sih? Gue ngantuk banget, tidur semalem cuma 4 jam.” keluh Arjuna.

“Lo duduk aja disitu, daripada bawel ngeluh mulu.” balas Lucas.

“Semua udah dibawa kan Ji?” tanya Shaka, Jihan mengangguk.

Sesaat setelahnya Winata datang membawa paper bag dan ia berikan ke Jihan, “buat dimakan di jalan.”

Hendery langsung melirik Maraka yang wajahnya langsung merah menahan cemburu.

“Thank you Win.”

“Gue gak bisa lama-lama karena harus pergi kerja, duluan ya Ji, semuanya.” pamit Winata lalu melengos pergi.

Shaka melirik jamnya, “dua puluh menit lagi kereta lo dateng, mending lo segera masuk deh.”

Jihan mengangguk, yang lainnya kecuali Calya membantu membawa barang bawaan Jihan.

Tepat sebelum check-in, Jihan berpamitan dengan semuanya. Ia memeluk teman-teman terdekat satu-persatu, begitupun dengan Arjuna yang ikut berpamitan walaupun hanya akan pergi selama beberapa hari.

Kini giliran Jihan permitan pada kekasihnya yang menatapnya dengan sendu. Jihan melebarkan tangannya, dengan cepat Maraka menghampirinya dan memeluknya dengan begitu erat.

“Hati-hati ya, selalu kabarin aku.”

“Iya..”

Setelah cukup puas untuk berpamitan, Jihan dan Arjuna mulai check-in sambil melambaikan tangannya pada teman-temannya.

“Jangan nangis Rak.” ledek Lucas.

“Apaansih lo.”