61

Winata melambaikan tangannya ketika melihat Jihan yang tengah mencarinya.

“Kalau kamu ngobrol berdua sama Winata gapapa Ji, aku tunggu di cafe lain.” ucap Maraka.

“Hah ngapain? Kamu ikut aku.”

Jihan menarik tangan Maraka, membawanya menuju Winata yang sudah menunggunya.

“Win, apa kabar?” tanya Jihan.

“Baik Ji, lo sama Maraka gimana?”

“We’re good.”

“Duduk, duduk. Kalian mau pesen apa? Biar gue pesenin bareng sama pesenan gue.” tawar Winata.

Jihan melirik seolah bertanya gapapa? Winata mengangguk kecil. Bagaimanapun mereka pernah bersama, bahasa tubuh masing-masing pun rasanya sudah paham.

“Kamu mau pesen apa Rak?” tanya Jihan sambil menoleh ke Maraka yang sedaritadi hanya diam saja.

“Samain aja sama kamu.”

“Okey, ice green teanya dua deh Win. Itu aja.”

Winata mengangguk, lalu berlalu pergi ke dalam memesan pesanan.

Tanpa aba-aba Maraka menarik telapak tangan Jihan menuju pahanya, menggenggam bahkan mengelusnya.

Jihan paham, Maraka selalu begini setiap mereka bertemu dengan Winata. Jihan tersenyum mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa saat kemudian pria berjas dokter itu kembali dengan membawa pesanan mereka.

Penampilan Winata saat ini mampu membuat siapapun yang melewatinya terpana. Jas dokter dengan kacamata dan rambur rapihnya, bahkan membuat Maraka sedikit cemas pacarnya akan ikut terpana.

“Kapan berangkat Ji?”

“Besok Win.”

“Wow cepet juga ya, Jogja daerah mana?” tanya Winata.

“Di deket tempat KKN kita dulu tuh, gak nyangka banget bakal dapet disana.” jawab Jihan. Mereka sempat satu kelompok saat KKN dulu, tanpa Maraka.

Winata menunjukkan wajah antusiasnya, “wah enak dong, disana kan sejuk banget ya. Deket juga sama kota.”

“Iya.”

“LDR dong kalian nanti?”

Jihan mengangguk, “tapi bakal sering ketemu sih kayaknya.”