ChairMate

Kini hanya tersisa Haura dan beberapa murid lainnya di depan gerbang sekolah. Haura masih bimbang akan dengan apa dia pulang. Mau naik ojek online tapi saldonya tidak mencukupi, belum lagi tunainya sudah habis. Mau naik Transjakarta tapi bus tak kunjung datang.

“Bisa-bisa gue pulang bareng sama Asya deh jam 4 nanti kalau gak kunjung pulang gini.” gumam Haura resah.

“Halo Haura.” sapaan sekaligus tepukan tiba-tiba dari belakang.

“Raky, kaget.”

“Eh, maaf-maaf. Aku gak maksud Ra.”

“Gapapa. Kenapa Ky?” tanya Haura pada Rakyan yang kini telah berdiri disampingnya.

“Kamu gak pulang?”

“Bukan gak pulang, gue bingung mau pulang naik apa.” jawab Haura.

“Emang biasanya pulang naik apa?”

“Biasanya gue tuh bareng Asya Ky, nebeng pake motor dia. Tapi Asyanya lagi ada rapat osis sampai jam 4 nanti.”

“Oh begitu, emang rumahmu dimana Ra?”

“Di komplek Dream Ky, agak jauh dari sini. Lumayan juga kalau pulang jalan kaki.”

Rakyan menoleh kaget, “samping komplek rumahku dong Ra. Aku komplek Neo, mau bareng aja apa?”

“Lo naik apa emang balik?” tanya Haura.

“Naik Transjakarta Ra, tapi gak dari sini, dari halte depan Warung Padang. Kalau dari sini lama Ra, kalau dari sana cepet, banyak bus yang dateng juga. Mau bareng?”

Haura mengangguk, “boleh. Kebetulan aku abis isi saldo cardnya kemarin.”

“Yaudah ayok!”


Haura melambaikan tangannya pada Rakyan karena ia telah sampai di halte depan kompleknya. Alih-alih membalas sapaan Haura, Rakyan malah ikut turun bersamanya.

“Loh Ky? Kok ikut turun?”

“Aku mau makan bakso di deket komplek sini, laper.” jawab cowok itu dengan senyum cerianya.

“Komplek Mang Dadang ya?”

“Iya, kamu tau Ra?”

“Eh gue juga sering disana. Jadi ikut laper juga jadinya kan..”

“Yaudah ayo makan bareng aja Ra.”

Haura menggeleng, “uang aku kurang Ky. Nanti malem aja lah aku beli sendiri.”

“Biar aku traktir. Sekaligus tanda terimakasih karena kamu udah mau temenan sama aku sih.”

“Ayo Haura!” seru Rakyan sambil mendorong pelan punggung Haura dengan tangan kanannya.