00

tw // sexual assault, cat calling

Pantulan cermin yang menampakkan wajah lelah dari seorang gadis 19 tahun. Gadis itu menghela nafasnya berat dan membasuh kembali wajahnya yang penuh peluh.

Ia kembali menguatkan dirinya dengan mengusap pucuk kepalanya, “you did a great job Elara.“

Ara memejamkan matanya sebentar, ia lelah, sudah dua pekerjaan yang ia lakukan hari ini demi melanjutkan hidupnya dan keluarganya.

Ara berbalik dan kembali ke tempat kerjanya, mengambil nampan dengan makanan pesanan pelanggan lalu berlalu pergi. Dengan sebisa mungkin Ara tersenyum dan menampakkan wajah manisnya untuk para pelanggan.

Ia berhenti di meja dekat jendela, meletakkan makanan-makanan pesanan para pelanggan dengan rapih dan hati-hati.

“What a pretty girl.” bisik salah satu pelanggan laki-laki berusia sekitar 40 tahunan pada temannya.

“What is your name pretty?” tanya pria tersebut dengan tatapan menggoda.

Ara hanya menjawab dengan senyuman, lalu kembali menata makanan.

“I think she doesnt understand what you say Rob.” ujar pria satu lagi kepada Rob.

Rob tersenyum jahil, lalu menaikkan satu alisnya dan mengkode sesuatu lewat mata pada temannya.

Perlahan Rob menjangkau jari jemari Ara dan mengelusnya, “how much are you worth for tonight?” tanya Rob yang langsung ditertawai oleh temannya.

Ara yang merasa dirinya sedang direndahkan dengan sigap menghempas tangan Rob dari jemarinya.

“Ow she's angry, hahaha.” ledek Rob.

Buru-buru Ara berbalik dan pergi sebelum Rob melakukan sesuatu yang aneh dan membuatnya marah.

Saat pergi Ara tak sengaja mendengar percakapan Rob dengan kawannya, “i really wanna play with her Jo, her body and her smile, uw.“

Ara benar-benar menahan tangisnya, bisa-bisanya ia diperlakukan dengan rendah oleh dua pria asing tadi.

“Ele-”

Ara langsung berlari pergi menuju kamar mandi, bahkan panggilan dari Zahra pun tak ia hiraukan.

Di depan cermin Ara memandangi kembali dirinya, ia benar-benar merasa terendahkan dengan pertanyaan Rob mengenai harga dirinya.

“Ele kamu gak apa-apa?” tanya Zahra yang membuat Ara mengusap air matanya dengan cepat.

“Eh Zahra, aku gak apa-apa kok.” jawab Ara dengan senyum palsunya.

“Terus kenapa nangis?”

“Kelilipan aku Ra hehe.”

“Oke, kalau ada apa-apa bilang aku aja ya Ele.” ujar Zahra lalu berlalu pergi.