06
Seluruh siswa baru dikumpulkan di tengah lapangan untuk melaksanakan upacara pembukaan MPLS. Sedangkan anak kelas 11-12 yang bukan OSIS atau penganggung jawab MPLS belajar seperti biasa di kelas.
Teriknya matahari seperti tidak bersahabat dengan keadaan sekarang. Akibatnya banyak siswa atau siswi yang mengeluh kepanasan bahkan ada yang hampir pingsan.
Ansel, Maudy baris depan belakang di barisan belakang. Selain karena telat, mereka juga termasuk siswa tinggi yang harus mengalah.
“Panas banget anjir. Matahari Jakarta ada dua atau gimana dah?” keluh Maudy berbisik.
“Liat dah temen lo. Gara-gara ketinggian dari sini aja keliatan.” ucap Maudy dengan mata mengarah ke Mahesa yang berbaris tak jauh dari mereka.
“Dia mah emang tinggi banget anjir.”
“Shut, jangan ngobrol.” tegur salah satu anggota OSIS yang sedang lewat berpatroli.
Ansel dan Maudy langsung berdiri tegap menghadap ke depan. Sedang ada amanat pembina upacara yang sedang berlangsung cukup lama.
Semakin lama, teriknya matahari semakin bertambah. Dan sudah banyak juga siswa yang tumbang tak kuat dan berakhir beristirahat di UKS.
Ansel memegang kepalanya yang terasa pusing. Tadi pagi ia hanya sempat sarapan roti satu buah karena kesiangan.
Peluh keringan pun bercucuran ditambah dengan kepala yang semakin sakit.
“Sel, gapapa?”
Ansel tak menggubris, bibirnya kini memucat dengan keringat yang semakin bercucuran.
Tak kuat, ia mengganti posisinya dengan posisi rukuk untuk mencegah matahari mengenai penglihatannya.
“Kak!” panggil Maudy dengan suara pelan dan menunjuk ke arah Ansel yang masih berada diposisi sama.
Salah satu perwakilan anak OSIS datang untuk mengecek keadaan, “pusing?”
Ansel mengangguk. Ia langsung dibawa menuju UKS. Anehnya Ansel merasa tak asing dengan aroma orang di sampingnya, tapi tak ia perdulikan karena kepalanya sudah benar-benar pusing.
“Sa, titip. Pusing katanya.”
“Lah? Bukannya lo petugas upacara Ma?”
“Digantiin Tio, kesiangan gue tadi.”
“Oh.”
“Ayo duduk disini, aku bikinin teh anget dulu ya.”
Ansel duduk di sofa dalam UKS. Ada cukup banyak orang disana. Ia menyederkan tubuhnya dan melepas topi serta mengatur nafasnya.
Ansel sempat melirik ke arah orang yang membawanya tadi, dari postur tubuh dan aroma tubuh ia merasa tidak asing.
“Lah? Anak tukang fotocopy?” seketika ia duduk tegap dan mencari keberadaan orang tadi, tapi nihil, ia tidak ada disini.