89
“Raka.”
Maraka menoleh, kini mamanya telah duduk disampingnya. “Iya ma?”
“Jihannya enggak jadi dateng?”
“Jadi ma, lagi ganti baju sama bersih-bersih dulu dia. Nanti dateng kok.” jawab Maraka.
“Mama mau tanya sesuatu boleh?”
Maraka mengangguk.
“Raka beneran sayang sama Jihan?” tanya Yena.
“Ya bener ma, kalo gak sayang gak bakal sampe lima tahun gini.” jawab Maraka.
Yena mengangguk paham. “Keren anak mama, dijaga ya Jihannya.”
“Pasti.”
Entah, tapi Maraka merasa aneh dengan mamanya hari ini. Bukan sekali dua kali mamanya bertanya mengenai rasanya untuk Jihan.
Selang beberapa saat pintu unit terbuka, menampilkan Jihan dengan pakaian sopannya datang dengan senyuman.
Maraka langsung menghampiri gadisnya itu dengan tangan yang melebar.
“Ngapain?”
“Mau peluk.” jawab Maraka frontal.
“Enggak ah, ada mama kamu. Gausah ngada-ngada ya Maraka.” tolak Jihan dengan berbisik.
Maraka tertawa kecil, lalu mengajak gadis itu untuk duduk di meja makan dan menikmati masakan buatan mamanya.
“Kalau mau pelukan mah pelukan aja kali, anggap aja mama gak ada.” ujar Yena dengan senyuman menggoda diakhir.
“Hah engga Tan, Maraka cuma bercanda tadi.” balas Jihan.
“Tuh mama aja gapapa.” sambar Maraka. Jihan langsung merespon dengan cubitan dipinggang Maraka.
“Sakitt.”
Yena hanya tertawa melihat tingkah pasangan ini.
Tapi dalam hatinya ia merasa senang Maraka memiliki rumah nyaman selain dirinya, dimana Maraka berani menunjukkan sifat aslinya.
Kemudian Yena mempersilahkan Jihan duduk.
“Raka emang manja anaknya, dulu waktu kecil ngambek gamau tidur kalau gak dikasih kiss and hug.”
“Ma..”
“Jihan punya dua saudara ya?” tanya Yena.
“Iya Tan, dua-duanya cowok. Yang satu lagi sibuk kuliah yang satu sibuk kerja.” jawab Jihan sambil menikmati masakan Yena.
“Oh. Terus kalau mama gimana kabarnya? Sehat?”
“Alhamdulilah sehat sih Tan.”
“Ih Tante kapan-kapan mau ketemu mama kamu lagi dong, terakhir kali ketemu udah agak lama ya.”
“Bisa kok Tan, nanti aku coba bilang mama.”
—
Selesai makan, Jihan mengajukan diri untuk membersihkan piring-piring kotor. Tentunya dibantu oleh Maraka.
“Rak, berat Rak. Kepala kamu jangan nyender mulu.”
“Oh you gonna call me Raka too.“
Jihan mengangguk. “Enak ternyata manggil kamu Raka, gapapa kan?”
“Ya gapapa. But you promise to me before to call me Markie.” jawab Maraka dengan cemberut.
“Ngapain ih cemberut-cemberut gitu. Lagi susah jujur manggil kamu Markie, aku panggil Raka aja udah.”
Dibalik pintu kamar Maraka Yena mendengarkan seluruh obrolan mereka. Keakraban yang membuatnya semakin tidak tega jika suatu saat mereka benar-benar berpisah karena keegoisan kakek semata.
Cukup sudah Maraka mengorbankan mimpinya, jangan sampai cintanya pun ikut terkorbankan.
Cukup juga dia berdiam mengikuti alur buatan kakek sementara anaknya terus yang menjadi korban.
Dan akan merasa gagal juga Yena sebagai ibu jika ia tidak berhasil mencegah perjodohan yang bahkan keduanya sudah mempunyai pasangan masing-masing.