05
Sesampainya di kediaman Naka, mereka dipersilahkan masuk oleh sang tuan rumah.
“Abang mau main di kamar atau ruang tamu?” tanya Miya, mama Naka.
“Di kamar aja deh bun, gapapa kan?”
“Ya gapapa dong. Kalau laper atau perlu apa-apa langsung bilang bunda aja ya.”
Ansel, Maudy, dan Naka langsung mengacungkan jempolnya. Sedangkan Mahesa hanya mengangguk pelan.
“Assalamu'alaikum Naka!”
Itu suara Hema, tetangga Naka yang cukup akrab. Cowok itu menghampiri Naka dan yang lainnya. “Assalamu'alaikum tante. Hema mau ambil pesenan bolu mama, ada gak tan?”
“Waalaikumsalam Hema, ada. Sebentar ya tante ambil dulu.” jawab Miya lalu berlalu pergi.
Ansel yang merasa tak asing dengan namanya langsung menoleh. Ia buru-buru mengumpat dibalik badan Mahesa yang tinggi.
“Kenapa Sel?”
“E-enggak.”
Matanya pencuri-curi pandangan pada Hema yang tengah mengobrol dengan Naka. Pandangan mereka sempat bertemu sesaat sebelum Ansel kembali menyembunyikan wajahnya di balik Mahesa.
Sedangkan Mahesa, cowok itu hanya terdiam heran. Berkali-kali ia melirik Hema yang juga tak asing menurutnya.
“Sip, jadi adek kelas gue lo nanti. Kalau ada apa-apa tanya-tanya aja ke gue Ka.” itu adalah obrolan terakhir sebelum Miya datang dengan tentengannya.
“Ini ya Hema, terimakasih ya. Salam buat mama ya.”
“Makasih tante, nanti Hema salamin. Duluan ya, assalamu'alaikum.” jawab Hema lalu berlalu pergi.
“Waalaikumsalam.”
Ketika mendengar percakapan terakhir antara Hema dengan Naka, seketika tubuh Ansel melemas. “Sial gue, sial.” rutuk Ansel dengan berbisik.
Mahesa yang mendengar rutukan tersebut langsung menoleh. Nampak ekspresi pasrah Ansel, bahkan tangan Ansel meremas kaos Mahesa dengan cukup kuat.