Duka
Hasya harus menelan pahit kejadian yang membuat kakak kandungnya meninggal dunia. Tanpa jejak, tanpa teka-teki, sang pelaku menghilang begitu saja bagai ditelan bumi.
Kini ia tersisa sendiri. Semua yang tersayang telah tiada menemui sang pencipta. Hanya ada pelukan penghangat panasnya hatinya dari kerabat.
Lalu sekarang ia harus apa? Ia sendiri sekarang.
Matanya menatap kosong ke arah tumpukan tanah yang menjadi rumah terakhir untuk abangnya.
Tanpa abang, Hasya bisa apa? Siapa yang akan mengarahi hidupnya nanti?
Yang orang-orang katakan hanya tegar, sabar, ikhlas, dan harus menerima. Tapi coba mereka berada di posisi Hasya, apakah akan kuat? Lampu terakhir kehidupannya kini telah padam.
“Hasya, Mas Dewa sama Kak Esa bakal selalu disini. Selalu bilang kami ya kalau terjadi apa-apa?”
Entah Hasya akan percaya pada kalimat itu atau tidak. Hampir semua orang terdekat mengatakan hal yang sama tapi tidak selalu ada jika ia butuh apa-apa. Hanya kalimat penenang untuk dirinya yang sedang berduka.
“Sya.. Kuat ya, gue selalu disini kok.” kalimat penenang dan pelukan hangat menyerbu Hasya bersamaan. Sahabat dekatnya memberikan pelukan sebagai obat penenang.
Perih rasanya, ia luluh dengan sebuah pelukan hangat. Kepalanya tertunduk, ia menangis sejadi-jadinya di bahu sang sahabat.
Tangisan yang membuat orang-orang menoleh dan menaruh perhatian pada dirinya. Terdengar juga bisik-bisik suara tentang nasib sedih Hasya.
“Gue harus apa Lun sekarang?”