90
Maraka memencet bel unit Jihan, berharap gadis itu masih bangun dan membukakan pintu untuknya.
Maraka merasa bersalah karena berbohong soal tadi, jadi ia memutuskan untuk menengok sebentar gadisnya itu.
Setelah beberapa kali memencet bel, pintu terbuka, menampilkan sosok Jihan dengan wajah dibalut masker wajah.
“Kenapa gak langsung masuk aja si? Kan kamu hafal sandinya.” ucap Jihan dengan sedikit kesusahan.
“Gak sopan dong kalau asal masuk.”
Kemudian Jihan mempersilahkan Maraka masuk, menyuruhnya untuk duduk di sofa sementara ia membasuh wajahnya terlebih dahulu.
Sedangkan Maraka, ia merasakan ada sesuatu yang kelupaan. Cowok itu menengok kedua tangannya. Sial, ia lupa membawa makanan padahal bilang bahwa ingin mencari makan.
“Kenapa dateng malem-malem?” tanya Jihan yang ikut duduk disamping Maraka.
“Gapapa, kangen aja.”
“Halah.”
“Mana, katanya kamu beli makanan?”
“Lupa.” jawab Maraka asal.
“Mana ada orang laper lupa beli makanan.”
Maraka hanya tersenyum bersalah, “maaf.”
“Ngapain minta maaf? Kamu kan gak ada salah sama aku.”
Keduanya terdiam.
“Mark, kamu bohong ya? Gak apa-apa jujur aja, aku juga udah tau kamu bohong kemana.” tanya Jihan frontal.
“Maaf.”
“Padahal gak perlu bohong, kalau bohong gini jadi ribet kan. Aku gak marah kalau kamu jujur, asal jelas kamu ngapain dan sama siapa.”
“Syavira minta tolong sama aku Jihan, maaf. Aku kasian, aku tau kamu marah kalau aku bilang sama cewek lain.
Aku cuma sebentar asli deh, Yudha yang nganterin dia pulang.”
Jihan mengacak rambut Maraka gemas, “baiknya pacar aku.”
“Lain kali jangan bohong ya? Kamu jujur aja aku udah ngerasa dihargain banget.”
Maraka mengangguk. Ia menaruh kepalanya di pundak Jihan, “aku disini dulu ya? Sampai ngantuk.”
“Kode izin nginep ya?”
Maraka terkekeh, “boleh ya?”
Jihan mengangguk. “Jangan tidur kemaleman tapi ya? Besok kan ada rapat.”
“Iya.”
“Love you.” sambung Maraka.